Senin, 19 Juli 2021

Kepada Tuan yang Kutemui Di Bawah Hujan

Hai Tuan, jika kamu sedang membaca suratku ini, berarti kamu sedang duduk di hadapan laptopmu, atau berbaring di kasur sambil memandangi handphone mu, atau apapun itu, yang pasti kamu sedang punya waktu luang untuk membacanya. Tapi sepertinya, saat kamu punya waktu untuk membacanya sekalipun, kamu tidak akan menyadari bahwa surat ini kutulis untukmu.

Selasa, 22 Juni 2021

Jatuh Hati

kamu tertawa, 

mengenang semua hal yang membuatmu bahagia.

sialnya, hatiku jadi berbunga.

lalu aku terpaku. 

ingin segera memelukmu. 

kemudian merayakan semuanya bersamamu.

lihat, hati siapa yang tidak akan jatuh pada tawa yang begitu teduh?


mendadak sorot matamu mulai meredup, 

tawamu terdengar gugup, 

pipimu basah kuyup.

lalu aku membatu. 

ingin segera memelukmu. 

kemudian merasakan semuanya bersamamu.

lihat, hati siapa yang akan rapuh mendengar tangis yang bergemuruh?


aku bertanya-tanya,

semesta, sejak kapan aku mulai menjatuhkan hati padanya?

Kamis, 03 Juni 2021

Minggu, 30 Mei 2021

Apa Lagi Setelah Ini?

Satu tahun rasanya berjalan begitu cepat. Meski tak jarang perjalanannya terlampau pekat dan berhasil membuatku sesekali tercekat. Apa yang sudah aku dapat? Aku bertanya-tanya. Apa yang berhasil aku bawa? Aku menerka-nerka.

Sela : Keping Rasa Bagian Dua

Temu. Sama halnya dengan mula yang kemarin kita bicarakan, pertemuan barangkali bisa kita anggap sebagai permulaan. Seperti katamu, kita tak membutuhkan permulaan dengan syarat, tidak adanya perpisahan antara aku dan kamu. Namun, apakah itu mungkin? Apakah memang kita bisa merencanakan untuk tidak berpisah jika suatu saat Ia Yang Maha Pemilik Segala —termasuk jatuh cinta, menarik kita ke dalam sebuah jurang nestapa dengan memisahkan jarak antara kita, seperti sekarang ini? 
Aku hanya bisa memberimu kabar dari balik layar yang kamu genggam dan aku pun sama saja, tak ada bedanya, menanti kabarmu dari layar 5 inci yang sejujurnya tak bisa mengukur bahkan satu-per-seribu rinduku.

Kamis, 25 Maret 2021

Mula : Keping Rasa Bagian Satu

Sungguh, memulai adalah kelemahan terbesarku. Tapi malam ini, akan kuruntuhkan itu melewati batas waktu. Dan malam ini, akan aku mulai dengan pertanyaan yang selalu menghantui malam-malamku sejak terakhir kali kita bertemu. Bagaimana kabarmu? 

Masihkah senyummu seindah saat terakhir kali kamu berikan untukku?

Selasa, 10 November 2020

Senin, 28 September 2020

Sebelum Sebuah Rela : Bagian Pertama

Tiba-tiba saja kita ada pada sebuah akhir yang sungguh tak pernah ingin kuhadapi, namun tetap saja berusaha kamu ciptakan. Sebuah akhir yang datang begitu mendadak tanpa ada sedikitpun peringatan telak, seperti sedang mengatakan dengan jelas bahwa sejak awal bukan aku, orang yang kamu inginkan.

Kamis, 13 Agustus 2020

Jatuh yang Rahasia

Semua orang pasti pernah merasakan jatuh. Setelah tahu rasanya jatuh, mungkin sebagian manusia memilih untuk  berteriak mengeluh. Sementara sebagian lain berusaha menahan dan bangkit meski penuh dengan peluh. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Ada juga yang hanya dalam hitungan hari, sudah siap untuk kembali berlabuh.

Sabtu, 11 Juli 2020

Jumat, 26 Juni 2020

Selasa, 16 Juni 2020

Jika Cinta adalah Kerja Keras

Aku pernah menuliskanmu dalam sebuah surat perpisahan yang terpaksa harus aku selesaikan, meski masih banyak yang ingin aku sampaikan. 
Sebab aku mencegah diriku jatuh padamu untuk yang kesekian kali. 
Sebab kamu masih terlalu lekat, sementara ada rasa sakit yang harus aku akhiri dengan cepat.

Rabu, 10 Juni 2020

Sabtu, 16 Mei 2020

Kamis, 23 April 2020

Senin, 25 Desember 2017

Rabu, 06 Desember 2017

Bersamamu, Aku Tak Keliru

Tak pernah aku katakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Maafkan aku soal itu. Aku pernah disakiti. Beberapa kali. Itulah sebabnya, aku tak mau lagi main-main soal pengakuan rasa. Aku tak akan mau mempermainkan harapan orang lain dengan kata-kata yang tak disaring oleh hati.

Sabtu, 27 Desember 2014

Seminggu Sebelum Bahagia

Aku memandangi wajah lelap Ray. Masih sama seperti biasanya, dia indah. Sangat indah. Hari ini, dia pulang lebih dulu dari pada aku, tanpa memberi tahu. Ada hal yang luar biasa indah di dalam dirinya-sekalipun ia sedang terlelap, yang mampu menghilangkan berjuta-jutapun rasa lelahku. Aku selalu tahu dan dia pun selalu meyakinkanku bahwa dia adalah sebaik-baiknya tempat aku selalu pulang dan kembali ketika harus pergi.

Sabtu, 20 Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Bukankah memang teka-teki dirancang untuk tak memiliki jawaban pasti?

Buat N,
Disuatu tempat yang entah dimana

Selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam, N, aku taktahu kapan kamu akan membaca surat yang bahkan tak pernah bisa kukirimkan ke alamat rumahmu yang jelas dan begitu rinci. Atau barangkali ini memang bukan surat, ini hanya memoar, atau mungkin hanya sebatas pembicaraan tentang kamu antara aku dan diriku sendiri atau mungkin aku tak akan pernah tahu bisa disebut apakah hal yang seperti ini.