Satu tahun rasanya berjalan begitu cepat. Meski tak jarang perjalanannya terlampau pekat dan berhasil membuatku sesekali tercekat. Apa yang sudah aku dapat? Aku bertanya-tanya. Apa yang berhasil aku bawa? Aku menerka-nerka.
Perjalanan panjang
mencari jalan pulang? Pelajaran ikhlas menerima lepas?
Dekap yang tak selamanya
bisa tetap? Sedih yang akan sudah?
Atau bahkan tak ada yang
aku dapat dan tak ada yang sanggup aku bawa? Karena terlalu mati rasa?
Satu tahun juga bisa berjalan begitu lambat, bagi aku yang masih berusaha lepas dari jerat luka yang
mengikat kuat. Entah luka yang disebabkan oleh apa; mungkin oleh sesuatu
yang bahkan tidak terlihat. Terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri yang tenggelam dalam isi kepala yang tak pernah ada habisnya. Alih-alih
memaafkan dan menerima, Ia malah menyuruhku untuk memaki dan membenci.
Sungguh sebuah
pertempuran melawan diri sendiri adalah sesuatu yang tidak akan bisa selesai
dalam satu malam. Tidak semua pertempuran bisa diumumkan dengan lantang kepada
seluruh penjuru dunia. Beberapa memang ditakdirkan untuk terjadi secara sembunyi-sembunyi. Dan
sungguh, “tak ada pilihan lain, selain memenangkan pertempuran dan
menyelesaikan perjalanan,” menjadi bisik paling bising yang harus ku dengar dari
isi kepalaku –begitu ingar, membuatku pengar.
Di kamarku yang masih
dihiasi sesak, ada pertempuran yang memuncak.
Saling mencekik dan
menerima makian. Saling mengutuk dan mencerna kebencian. Saling berteriak
menyalahkan. Diantara hati yang begitu utuh dan kepala yang dipenuhi riuh. Diantara aku dan diri sendiri. Kudengar suaraku terisak. Siapa yang kalah
kali ini? Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaan dan rasa penasaran. Tidak peduli siapa yang kali ini akan
jadi pemenangnya, aku hanya akan berusaha untuk tidak kehilangan diri sendiri
untuk yang kesekian kalinya.
Di kamarku yang penuh
dengan mimpi, seusai menyaksikan pertempuran.
Kunyalakan dan kutiup
lilin-lilin sendirian. Ada dua puluh dua ujung lilin yang menyala. Kupandangi mereka lama-lama. Sudah banyak rupanya. Dua Puluh Dua. Terlalu tua untuk disebut
muda.
“Selamat datang pada
babak baru kehidupan dunia,” bisikku. “kita tidak pernah melewatkan satu
pertempuran pun setiap tahunnya, bahkan yang terjadi hari ini tidak ada
apa-apanya dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berjalan lebih lama. Kita
tidak pernah melewatkan sedikitpun yang selama perjalan membuat kita ketakutan. Dan lihat, kita bertahan!” tangisku pecah. Aku ingin peluk tapi masih terlalu
pelik. Aku ingin pulang tapi perjalannya masih terlalu panjang.
Di kamarku yang menjadi tempat dunia berjalan cepat, aku memandangi seseorang di dalam cermin dengan lekat.
Sudah tugasnya untuk menjadi sembuh, tidak peduli seberapa babak belur hatinya ditaruh. Sudah tugasnya untuk menjadi seluruh, tidak peduli seberapa brutal kehidupan yang ditempuh. Betapa keras Ia bertahan, meskipun harus menangis semalaman. Ia terus berjalan, meskipun dengan rasa sakit yang kadang tak tertahankan. Dan, disinilah Ia sekarang. Setengah mati menenangkan aku dari balik cermin. Sepenuh hati menguatkan aku dari belahan dunia lain. Beginilah Ia sekarang, sepenuhnya siap menghadapi bagaimana hari esok akan menghadang. Sampai akhirnya Ia akan berhasil menemukan jalan pulang.
Di kamarku yang penuh
dengan kenang, ku paksa diriku sendiri untuk tenang.
“Mana mungkin kita bisa
menghargai sebuah kedatangan, tanpa pernah merasa kehilangan?”
“Bagaimana bisa kita
menikmati tawa yang begitu lepas, tanpa ada luka yang membekas?”
Menjadi tanya yang
memberiku ruang untuk sedikit bernafas. satu detik, dua detik. Tepat pada detik ketiga,
hanya tersisa sebuah ikhlas. Semoga setelah ini, Dia akan memberiku cukup pada apa-apa yang
memang untukku. Semoga selepas ini, Dia akan lebih mencintai aku yang berusaha
setengah mati untuk menerima diriku sendiri.
Menginjak
usia barumu ini, Sayang.
Kusumpahi
kamu banyak tawa dan bahagia di sepanjang perjalanan pulang.
Sebab
dunia selalu berhak melihat kamu senang,
Maka
tetaplah berusaha untuk jadi terang.
Pada
pergantian usiamu ini, Sayang.
Rinduku
bukan kepalang.
Pada
tahun yang berulang ini, Sayang.
Jangan
lupa pulang.
Ku balik cermin di kamarku.
Ku sudahi percakapan ini sebelum lidahku kelu.
Ku akhiri
pertempuran ini sebelum mataku sayu.
Pukul empat pagi,
ku selimuti diriku sendiri, dan ku tutup paksa mataku.
Selamat Ulang Tahun,
wahai kamu bayangan di cerminku.
Bertumbuhlah pada
sepanjang perjalanan yang penuh dengan suka duka itu.
Jadilah jalan pulang bagi dirimu sendiri dan semesta sekelilingmu.
"Lalu, apa lagi setelah ini?" mataku berat.
Pertanyaan terakhir yang jawabnya akan kujadikan hadiah paling rahasia pada tahun berikutnya.
0 komentar:
Posting Komentar