Minggu, 30 Mei 2021

Apa Lagi Setelah Ini?

Satu tahun rasanya berjalan begitu cepat. Meski tak jarang perjalanannya terlampau pekat dan berhasil membuatku sesekali tercekat. Apa yang sudah aku dapat? Aku bertanya-tanya. Apa yang berhasil aku bawa? Aku menerka-nerka.

Perjalanan panjang mencari jalan pulang? Pelajaran ikhlas menerima lepas?

Dekap yang tak selamanya bisa tetap? Sedih yang akan sudah?

Atau bahkan tak ada yang aku dapat dan tak ada yang sanggup aku bawa? Karena terlalu mati rasa?

Satu tahun juga bisa berjalan begitu lambat, bagi aku yang masih berusaha lepas dari jerat luka yang mengikat kuat. Entah luka yang disebabkan oleh apa; mungkin oleh sesuatu yang bahkan tidak terlihat. Terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri yang tenggelam dalam isi kepala yang tak pernah ada habisnya. Alih-alih memaafkan dan menerima, Ia malah menyuruhku untuk memaki dan membenci.

Sungguh sebuah pertempuran melawan diri sendiri adalah sesuatu yang tidak akan bisa selesai dalam satu malam. Tidak semua pertempuran bisa diumumkan dengan lantang kepada seluruh penjuru dunia. Beberapa memang ditakdirkan untuk terjadi secara sembunyi-sembunyi. Dan sungguh, “tak ada pilihan lain, selain memenangkan pertempuran dan menyelesaikan perjalanan,” menjadi bisik paling bising yang harus ku dengar dari isi kepalaku –begitu ingar, membuatku pengar.

Di kamarku yang masih dihiasi sesak, ada pertempuran yang memuncak.

Saling mencekik dan menerima makian. Saling mengutuk dan mencerna kebencian. Saling berteriak menyalahkan. Diantara hati yang begitu utuh dan kepala yang dipenuhi riuh. Diantara aku dan diri sendiri. Kudengar suaraku terisak. Siapa yang kalah kali ini? Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaan dan rasa penasaran. Tidak peduli siapa yang kali ini akan jadi pemenangnya, aku hanya akan berusaha untuk tidak kehilangan diri sendiri untuk yang kesekian kalinya.

Di kamarku yang penuh dengan mimpi, seusai menyaksikan pertempuran.

Kunyalakan dan kutiup lilin-lilin sendirian. Ada dua puluh dua ujung lilin yang menyala. Kupandangi mereka lama-lama. Sudah banyak rupanya. Dua Puluh Dua. Terlalu tua untuk disebut muda.

Selamat datang pada babak baru kehidupan dunia,” bisikku. “kita tidak pernah melewatkan satu pertempuran pun setiap tahunnya, bahkan yang terjadi hari ini tidak ada apa-apanya dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berjalan lebih lama. Kita tidak pernah melewatkan sedikitpun yang selama perjalan membuat kita ketakutan. Dan lihat, kita bertahan!” tangisku pecah. Aku ingin peluk tapi masih terlalu pelik. Aku ingin pulang tapi perjalannya masih terlalu panjang.

Di kamarku yang menjadi tempat dunia berjalan cepat, aku memandangi seseorang di dalam cermin dengan lekat.

Sudah tugasnya untuk menjadi sembuh, tidak peduli seberapa babak belur hatinya ditaruh. Sudah tugasnya untuk menjadi seluruh, tidak peduli seberapa brutal kehidupan yang ditempuh. Betapa keras Ia bertahan, meskipun harus menangis semalaman. Ia terus berjalan, meskipun dengan rasa sakit yang kadang tak tertahankan. Dan, disinilah Ia sekarang. Setengah mati menenangkan aku dari balik cermin. Sepenuh hati menguatkan aku dari belahan dunia lain. Beginilah Ia sekarang, sepenuhnya siap menghadapi bagaimana hari esok akan menghadang. Sampai akhirnya Ia akan berhasil menemukan jalan pulang.

Di kamarku yang penuh dengan kenang, ku paksa diriku sendiri untuk tenang.

Mana mungkin kita bisa menghargai sebuah kedatangan, tanpa pernah merasa kehilangan?”

Bagaimana bisa kita menikmati tawa yang begitu lepas, tanpa ada luka yang membekas?”

Menjadi tanya yang memberiku ruang untuk sedikit bernafas. satu detik, dua detik. Tepat pada detik ketiga, hanya tersisa sebuah ikhlas. Semoga setelah ini, Dia akan memberiku cukup pada apa-apa yang memang untukku. Semoga selepas ini, Dia akan lebih mencintai aku yang berusaha setengah mati untuk menerima diriku sendiri.


                Menginjak usia barumu ini, Sayang.

                Kusumpahi kamu banyak tawa dan bahagia di sepanjang perjalanan pulang.

                Sebab dunia selalu berhak melihat kamu senang,

                Maka tetaplah berusaha untuk jadi terang.

                Pada pergantian usiamu ini, Sayang.

                Rinduku bukan kepalang.

                Pada tahun yang berulang ini, Sayang.

                Jangan lupa pulang.


Ku balik cermin di kamarku. 

Ku sudahi percakapan ini sebelum lidahku kelu. 

Ku akhiri pertempuran ini sebelum mataku sayu.

Pukul empat pagi, ku selimuti diriku sendiri, dan ku tutup paksa mataku.

Selamat Ulang Tahun, wahai kamu bayangan di cerminku.

Bertumbuhlah pada sepanjang perjalanan yang penuh dengan suka duka itu.

Jadilah jalan pulang bagi dirimu sendiri dan semesta sekelilingmu.


"Lalu, apa lagi setelah ini?" mataku berat. 

Pertanyaan terakhir yang jawabnya akan kujadikan hadiah paling rahasia pada tahun berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar