Senin, 28 September 2020

Sebelum Sebuah Rela : Bagian Pertama

Tiba-tiba saja kita ada pada sebuah akhir yang sungguh tak pernah ingin kuhadapi, namun tetap saja berusaha kamu ciptakan. Sebuah akhir yang datang begitu mendadak tanpa ada sedikitpun peringatan telak, seperti sedang mengatakan dengan jelas bahwa sejak awal bukan aku, orang yang kamu inginkan.

Aku diam. Sedetik, dua detik, dan seterusnya. Setumpuk pertanyaan riuh dalam kepala dan tak ada satupun yang mampu keluar. Aku memilih menyimpan semua pertanyaan ini sendirian, meski ingin sekali segera aku ketahui jawabannya dari mulutmu sendiri. Sebab aku terlalu pengecut dan takut untuk mendengar setiap jawaban yang mungkin hanya akan memiliki satu kesimpulan, bahwa sebenarnya dari awal aku tidak pernah becus untuk membuat kamu tetap disini.

Doa apalagi yang harus aku suarakan? Sebab setelah doaku malam itu, kamu pergi. Sebab setelah aku meminta pada Tuhanku agar kamu bisa lebih lama ada di sebelahku, kamu lari. Dan sejak doa terakhirku perihal kamu, hari-hari ku selanjutnya tak pernah sama. Tak ada lagi kamu di dalamnya. Bahkan sudah selama ini, memahami kepergianmu tak pernah bisa menjadi bagian dari kemahiran ku. Dan memaklumi hilangnya kamu, kini menjadi hal paling rumit yang pernah ada di pikiranku.

Setiap hari, tepat setelah kamu pergi, bahkan sampai hari ini, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, tanpa henti. Apa benar pamit akan jadi bahagia yang paling lega? Setidaknya bagimu, mungkin memang begitu. Bagiku? Aku bahkan belum bisa melupakan hangatnya berada disampingmu, dibawah bulatnya bulan malam minggu. Masih ingatkah kamu?

Hari ini, dengan alasan yang entah apa, dengan perasaan yang entah dari mana datangnya, mendadak rindu akan kamu membuat aku tersedak. Ada awan begitu tebal yang datang bersamaan dengan bayanganmu tanpa permisi dan malah membuat dadaku terasa semakin sesak. Mendadak kamu hadir dalam mimpi yang pada akhirnya membuat aku muak. Tidak peduli sebesar apa aku ingin membencimu, melupakanmu, membuatmu pergi dari ingatanku, kamu masih saja sering hadir pada sebuah ruang ingatan yang sebenarnya sudah lama sekali sengaja kuhilangkan kuncinya, hanya agar aku tidak bisa menemuimu lagi disana.

Terkutuk kah aku akan suatu kesalahan yang pernah kubuat di masa lalu? Sampai-sampai sekedar melupakan kamu pun aku tidak diizinkan. Tak peduli seberapa keras ingatanku membawa kamu kembali, tetap saja kamu tidak akan pernah hadir lagi. Tak peduli seberapa kuat usahaku untuk menerima bahwa kamu telah benar-benar pergi, tetap saja sering kali  kamu muncul dalam mimpi.

Terkutuk kah aku karena aku pernah menyumpahi mu? Aku pernah menyumpahi mu atas nama semesta dengan kecewa sebagai saksinya. Aku pernah menyumpahi mu dibawah hujan deras dalam perjalananku pulang setelah kamu menghancurkan semua senyumku. Aku pernah bersumpah disaksikan oleh petir dan hitamnya langit saat itu. Aku bersumpah bahwa kamu tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yang bisa menerima segala cela mu sebaik aku. Aku bersumpah bahwa tidak akan ada yang pernah bisa mencintaimu sedalam aku. Aku bersumpah bahwa hanya aku yang mampu mengerti tanpa kamu perlu bersusah payah untuk basi-basi. Aku bersumpah bahwa hanya aku yang bisa bertahan di sampingmu bahkan ketika kamu tidak menginginkan aku ada disana untuk menemanimu.

Aku mengakui bahwa itu adalah perbuatan paling bodoh yang pernah aku lakukan ketika aku sedang jatuh cinta dan setengah mati menginginkan seseorang untuk tetap ada disampingku. Aku mengakui bahwa saat patah hati, hal paling tidak masuk akal yang akan aku lakukan adalah bersikap egois, meminta Tuhan untuk mengembalikan seseorang  yang bahkan dengan kesadaran penuh sudah memutuskan untuk pergi.

Sesampainya dirumah, aku kembali menangis. Lebih deras dari hujan badai yang baru saja aku lewati. Lebih gemuruh dari petir yang baru saja menjadi saksi dari patah hati. Entah aku menangisi kamu yang sudah benar-benar pergi atau aku menangisi keegoisanku yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku bukan lagi orang yang kamu ingini. Aku meminta maaf pada diriku sendiri yang masih belum bisa berhenti memikirkan caramu pergi yang bahkan sampai hari ini belum bisa aku pahami. Aku meminta maaf pada kamu yang begitu aku cintai tapi malah kuhadiahi sumpah yang sampah ketika kamu berjalan menjauhi tempat dimana aku berdiri. Aku meminta maaf atas penyesalanku yang menyalahkan keputusanmu, padahal aku tahu pasti aku juga bersalah sehingga akhirnya kamu memutuskan untuk menyudahi.

Sampai hari ini, 

ketika hujan turun membasahi bumi, aku masih saja merasa perih. Satu-satunya perasaan yang tidak bisa aku kendalikan. Satu-satunya perasaan yang kamu tinggalkan sebagai kenang-kenangan. Sebagai satu-satunya cara aku mengenang hari dimana akhirnya kamu menjadi sama saja seperti mereka yang singgah kemudian pergi.

Sampai hari ini, 

aku masih mengutuk diriku sendiri ketika mulai menyadari bahwa aku tidak pernah cukup untuk bisa menahanmu pergi.

0 komentar:

Posting Komentar