Tiba-tiba saja kita ada
pada sebuah akhir yang sungguh tak pernah ingin kuhadapi, namun tetap saja
berusaha kamu ciptakan. Sebuah akhir yang datang begitu mendadak tanpa ada
sedikitpun peringatan telak, seperti sedang mengatakan dengan jelas bahwa sejak
awal bukan aku, orang yang kamu inginkan.
Aku diam. Sedetik, dua detik, dan seterusnya. Setumpuk pertanyaan riuh dalam kepala dan tak ada satupun yang mampu keluar. Aku memilih menyimpan semua pertanyaan ini sendirian, meski ingin sekali segera aku ketahui jawabannya dari mulutmu sendiri. Sebab aku terlalu pengecut dan takut untuk mendengar setiap jawaban yang mungkin hanya akan memiliki satu kesimpulan, bahwa sebenarnya dari awal aku tidak pernah becus untuk membuat kamu tetap disini.
Doa apalagi yang harus aku suarakan? Sebab setelah doaku malam itu, kamu pergi. Sebab setelah aku meminta pada Tuhanku agar kamu bisa lebih lama ada di sebelahku, kamu lari. Dan sejak doa terakhirku perihal kamu, hari-hari ku selanjutnya tak pernah sama. Tak ada lagi kamu di dalamnya. Bahkan sudah selama ini, memahami kepergianmu tak pernah bisa menjadi bagian dari kemahiran ku. Dan memaklumi hilangnya kamu, kini menjadi hal paling rumit yang pernah ada di pikiranku.
Setiap hari, tepat setelah
kamu pergi, bahkan sampai hari ini, aku selalu bertanya pada diriku sendiri,
tanpa henti. Apa benar pamit akan jadi bahagia yang paling
lega? Setidaknya bagimu, mungkin memang begitu. Bagiku? Aku bahkan belum
bisa melupakan hangatnya berada disampingmu, dibawah bulatnya bulan malam
minggu. Masih ingatkah kamu?
Hari ini, dengan alasan
yang entah apa, dengan perasaan yang entah dari mana datangnya, mendadak rindu
akan kamu membuat aku tersedak. Ada awan begitu tebal yang datang bersamaan
dengan bayanganmu tanpa permisi dan malah membuat dadaku terasa semakin sesak.
Mendadak kamu hadir dalam mimpi yang pada akhirnya membuat aku muak. Tidak
peduli sebesar apa aku ingin membencimu, melupakanmu, membuatmu pergi dari
ingatanku, kamu masih saja sering hadir pada sebuah ruang ingatan yang
sebenarnya sudah lama sekali sengaja kuhilangkan kuncinya, hanya agar aku tidak
bisa menemuimu lagi disana.
Terkutuk kah aku akan suatu
kesalahan yang pernah kubuat di masa lalu? Sampai-sampai sekedar melupakan
kamu pun aku tidak diizinkan. Tak peduli seberapa keras ingatanku membawa kamu
kembali, tetap saja kamu tidak akan pernah hadir lagi. Tak peduli seberapa kuat
usahaku untuk menerima bahwa kamu telah benar-benar pergi, tetap saja sering
kali kamu muncul dalam mimpi.
Terkutuk kah aku karena aku
pernah menyumpahi mu? Aku pernah menyumpahi mu atas nama semesta dengan kecewa
sebagai saksinya. Aku pernah menyumpahi mu dibawah hujan deras dalam
perjalananku pulang setelah kamu menghancurkan semua senyumku. Aku pernah
bersumpah disaksikan oleh petir dan hitamnya langit saat itu. Aku bersumpah
bahwa kamu tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yang bisa menerima segala
cela mu sebaik aku. Aku bersumpah bahwa tidak akan ada yang pernah bisa
mencintaimu sedalam aku. Aku bersumpah bahwa hanya aku yang mampu mengerti
tanpa kamu perlu bersusah payah untuk basi-basi. Aku bersumpah bahwa hanya aku
yang bisa bertahan di sampingmu bahkan ketika kamu tidak menginginkan aku ada
disana untuk menemanimu.
Aku mengakui bahwa itu
adalah perbuatan paling bodoh yang pernah aku lakukan ketika aku sedang jatuh
cinta dan setengah mati menginginkan seseorang untuk tetap ada disampingku. Aku
mengakui bahwa saat patah hati, hal paling tidak masuk akal yang akan aku
lakukan adalah bersikap egois, meminta Tuhan untuk mengembalikan
seseorang yang bahkan dengan kesadaran penuh sudah memutuskan untuk
pergi.
Sesampainya dirumah, aku
kembali menangis. Lebih deras dari hujan badai yang baru saja aku lewati. Lebih
gemuruh dari petir yang baru saja menjadi saksi dari patah hati. Entah aku
menangisi kamu yang sudah benar-benar pergi atau aku menangisi keegoisanku yang
masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku bukan lagi orang yang kamu
ingini. Aku meminta maaf pada diriku sendiri yang masih belum bisa berhenti
memikirkan caramu pergi yang bahkan sampai hari ini belum bisa aku pahami. Aku
meminta maaf pada kamu yang begitu aku cintai tapi malah kuhadiahi sumpah yang
sampah ketika kamu berjalan menjauhi tempat dimana aku berdiri. Aku meminta
maaf atas penyesalanku yang menyalahkan keputusanmu, padahal aku tahu pasti aku
juga bersalah sehingga akhirnya kamu memutuskan untuk menyudahi.
Sampai hari ini,
ketika
hujan turun membasahi bumi, aku masih saja merasa perih. Satu-satunya perasaan
yang tidak bisa aku kendalikan. Satu-satunya perasaan yang kamu tinggalkan
sebagai kenang-kenangan. Sebagai satu-satunya cara aku mengenang hari dimana
akhirnya kamu menjadi sama saja seperti mereka yang singgah kemudian pergi.
Sampai hari ini,
aku masih mengutuk diriku sendiri ketika mulai menyadari bahwa aku tidak pernah cukup untuk bisa menahanmu pergi.
0 komentar:
Posting Komentar