Selasa, 10 November 2020

Sebelum Sebuah Rela : Bagian Kedua

Bagian paling sial dari semua ini adalah mempercayai kamu yang pernah berjanji bahwa denganmu aku akan selalu tertawa, tapi pada akhirnya tetap saja meninggalkan kecewa dan tentu sebuah luka. Singkatnya, aku mencintai kamu sekerasnya, tapi kamu hanya memaknai sekedarnya.

Sudah satu tahun lebih, sejak aku memutuskan untuk menutup rapat semua pintu yang aku punya. Menjaga dan menjauhkan hatiku dari rasa sakit dan kenangan pahit yang selalu dimulai dengan dongeng-dongeng cinta yang sebenarnya hanya ada di kepala dan tak pernah jadi nyata. Sudah kuhabiskan lebih banyak dari ratusan hari, untuk berusaha tidak berhenti mencintai diriku sendiri; agar aku bisa dengan cepat berhenti mencintai kamu, melupakan kamu, juga memaafkan diriku yang membutuhkan waktu lebih banyak dari yang aku kira untuk menerima bahwa tidak semua yang aku inginkan bisa aku miliki selamanya. Berusaha untuk mengikhlaskan kamu yang saat ini sedang kebingungan mencari bahagia. Bahagia yang kamu kira akan kamu temukan dengan mudah sesaat setelah kamu memutuskan pergi. Nyatanya, sampai sekarang, tak jarang aku masih melihatmu kebingungan mengatasi pikiranmu yang tetap saja belum berubah. Pemikiran yang dulu selalu membuat kita bertengkar. Perihal kamu yang merasa tidak pernah bisa menjadi yang terbaik, padahal kamu sudah mengupayakan semua hal baik yang bisa kamu usahakan. Aku masih mengetahuimu diam-diam mencari tahu apa yang sedang mengganggu pikiranku.

Dimana perempuan yang pikirmu akan bisa lebih menguatkan setiap langkahmu daripada aku yang pernah bersusah payah meneguhkan hatimu?

Kemana perginya dia yang waktu itu kamu anggap akan bisa membuatmu lebih mudah melupakanku?

Kemana perginya dia yang waktu itu kamu pikir akan bisa mencintaimu lebih hebat daripada aku?

Kemana perginya rasa percaya dirimu bahwa kamu akan selalu bisa mencari pengganti yang jauh lebih baik dariku?

Kemana perginya rasa sombongmu bahwa tidak ada hari yang akan kamu habiskan untuk kembali memikirkanku setelah perpisahan itu?

Kemana perginya dia yang kamu kira akan menghapus rasa khawatirmu lebih baik dari aku yang berulang kali berusaha menghapus air matamu?

Benarkah dia yang kamu mau?

Benarkah dia mampu memberikan segala hal baik, seperti harapanmu?

Sudah benarkah keputusanmu untuk pergi dari seseorang yang demi Tuhan mencintaimu dengan utuh dan seluruh, kemudian mengejar seseorang yang bahkan tak lebih mahir dalam mengenalmu?

Jika kamu ingin tahu mengapa waktu itu terlihat begitu mudah bagiku untuk membiarkan kamu pergi, maka jawabannya adalah aku tidak mau menyesal atas keputusanku untuk menahan seseorang yang dengan kesadaran penuh melepasku. Aku tidak mau menyesal atas keputusanku untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak tahu cintanya benar untukku atau tidak. Sungguh, aku tidak mau menyesali keputusanku untuk mempertahankan seseorang yang sejak awal tidak mahir memperjuangkan sesuatu kecuali egonya sendiri. Dan, demi Tuhan, bagaimana bisa aku terus mengharapkan sebuah bahagia dari seseorang yang terus memintaku untuk mencari bahagia lain?

Bisakah kita tetap bertemu, meski sekarang kita sudah tidak lagi seperti dulu?” tanyamu memecah riuh dalam kepalaku yang mendadak datang, sebab sialan, tidak kubayangkan bahwa pada akhirnya lagi-lagi aku harus menghadapi perpisahan. Kamu bertanya tanpa ada sedikitpun getar pada suaramu. Sementara setengah mati aku menahan tubuhku yang terasa semakin ringan dan mataku yang memanas. Sungguh, aku benci dengan pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang kamu buat dengan segala bualan semata-mata untuk menenangkan aku, bahwa aku masih bisa melihatmu bahkan setelah kamu memutuskan untuk pergi dariku. Bukankah itu sama sekali tidak adil bagiku? Bagaimana bisa kamu melontarkan pertanyaan itu dengan mudah seakan-akan kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang begitu menyakitiku?

Beberapa detik aku memilih bungkam. Berputar-putar dalam kepalaku sendiri, mencari jawaban atas pertanyaan yang paling aku benci. Bisakah aku bertemu dengan seseorang yang baru saja memutuskan bahagiaku? Bisakah aku memaafkan seseorang yang dengan sengaja pergi sebab kalah dengan egonya sendiri? Bisakah aku seperti kamu yang dengan mudahnya mengganggap bahwa tak pernah terjadi apapun diantara kita berdua?

Aku menjawab, “tentu kamu bisa terus menemuiku.” Sekilas aku melihatmu tersenyum. Aku bisa membaca matamu yang begitu angkuh, mengira bahwa aku tidak bisa berjalan tanpa kamu. Tapi, aku belum selesai bicara. Kuhembuskan nafas panjang dan melanjutkan jawabanku, “aku berjanji, kamu akan terus menemuiku, pada setiap rasa sesalmu.” 

Kamu menunduk. Kini tak ada sedikitpun suara yang bisa keluar dari mulutmu, sebab aku tahu persis bahwa suaramu akan jauh lebih gemetar dari perasaanku yang baru saja dipaksa untuk menghadapi perpisahan. Kini tubuhmu lebih panas dari mataku yang berusaha menahan agar tak ada setetespun air yang jatuh dari sana. Setelah ini, kamu akan menyadari bahwa sekali aku melepasmu, maka kamu tidak akan pernah menemui aku yang dulu sempat begitu mahir membuatmu jatuh cinta, sebelum akhirnya kamu memilih untuk menyia-nyiakannya. 

Setelah ini, akan kubiarkan kamu merasakan bahwa ternyata akan ada hari dimana memikirkanku membuat hari-harimu penuh dengan kebingungan, merindukanku membuat perasaanmu berantakan, dan melepaskanku hanya meninggalkan rasa sesal yang tidak tertahankan.

Bagian paling sial dari semua ini adalah ternyata cerita kita lebih singkat dari harapan panjang yang pernah aku semogakan dengan kuat. Ternyata semesta membuat cerita kita berakhir lebih cepat dari waktu yang selalu terasa lambat ketika kita tertawa. Ternyata perjalanan kita lebih pendek dari doa panjang yang pernah kita genggam begitu erat. Dan ternyata, tidak seperti yang aku kira, ternyata kamu jauh lebih bangsat dari masalah hidupku yang berat.

0 komentar:

Posting Komentar