Sungguh, memulai adalah kelemahan terbesarku. Tapi malam ini, akan kuruntuhkan itu melewati batas waktu. Dan malam ini, akan aku mulai dengan pertanyaan yang selalu menghantui malam-malamku sejak terakhir kali kita bertemu. Bagaimana kabarmu?
Masihkah senyummu seindah saat terakhir kali kamu berikan untukku?
Bukankah sesuatu yang baru pasti terasa berat, karena kita tak akan pernah tau sesuatu itu akan berakhir baik seperti yang ada di angan-angan atau hanya akan menyisakan noda catatan ketidakberhasilan.
Aku baik selama ini, senyum yang kamu lihat kala itu, sepertinya aku lupa bagaimana Ia tersimpan di memorimu, apakah senyum yang merekah indah, atau senyum kecut penuh kepasrahan ku dalam hidup.
Tapi, apa pentingnya mengingat senyumku yang dulu? dan sebenarnya apa yang ingin kamu mulai denganku?
Dari sekian banyak kepasrahan ku terhadap akhir dari sesuatu baru —yang tidak pernah jadi kemampuanku untuk mengetahuinya lebih dulu, kali ini akan ku pertaruhkan semua pasrahku itu dengan sedikit kabar darimu. Kuharap kamu selalu baik. Lalu, pertanyaan mu soal apa pentingnya mengingat senyummu bagiku, sama saja seperti aku bertanya kepadamu soal seberapa penting kamu membahagiakan dirimu sendiri?
Tak ada yang ingin kumulai. Kecuali aku yang hanya ingin memastikan kamu baik disana.
Sepenting itu kah arti senyumku, untukmu? Apakah sama pentingnya dengan aku yang harus memulai ini lebih dulu? Ku lihat kamu ragu mengatakan apa yang tersimpan rapat di balik pertanyaan tentang kabarku di sini.
Haruskah ada sebuah permulaan?
Sepenting itu kah bagimu membicarakan soal mula pada sesuatu yang bahkan kita berdua saja tak ada yang tahu akan seperti apa selanjutnya?
Bukankah keragu-raguan adalah kita berdua?
Ragu-ragu, tak ku sangka itu akan kamu ucapkan. Jika kamu bertanya seberapa penting sebuah permulaan dari semua ini, semua yang kita mulai, barangkali itu memang bisa dimulai dengan keragu-raguan, dengan penuh pertanyaan tentang akhir, tentang apa yang akan kita lalui nanti, tentang semua hal yang akan kita tuju.
Namun, kalau boleh jujur, bukankah selama ini kita memang tidak perlu sebuah permulaan mengenai cerita apa pun? Kita selayaknya manusia lain bukan? Tiba-tiba sudah masuk ke dalam cerita yang kita sendiri tak pernah tahu bermula dari apa dan akan berakhir di mana.
Bukankah sebuah perjalanan baru bisa dikisahkan ketika sudah dimulai?
Bagaimana bisa kita, sebagai manusia, berjalan pada suatu cerita yang bahkan tidak bermula?
Setakut itukah kamu dengan perpisahan sampai-sampai kamu bisa mengatakan bahwa kita tidak memerlukan sebuah permulaan?
Bukankah setiap dari kita memang selalu benci akan perpisahan, seperti halnya aku benci ketika kamu mulai percakapan kita ini yang ujung-ujungnya akan berakhir pada keragu-raguan, pada ketidakpastian atau akan berakhir dengan sebuah perpisahan antara aku dan kamu. Namun, tenang saja. Jika memang itu sudah tertuliskan di kitab Yang Maha Punya Cinta, sepertinya aku tidak akan takut dengan apa yang akan kita mulai berakhir di mana, kapan dan bagaimana, bisa ku katakan jika denganmu segala hal di dunia ini tak perlu ada yang ku risaukan, sekalipun itu menyakitkan nantinya.
Tenang saja. Sungguh, kamu tak perlu merisaukan apapun. Sebab dari segala ketidakpastian yang sedari tadi mengganggu percakapan kita ini. Ada satu hal yang ingin kupastikan padamu. Soal seberapa giat aku merayu Yang Maha Punya Cerita agar segera menjadikan aku dan kamu ada pada satu cerita yang sama. Semoga setelah ini diberiNya aku balasan atas malam-malam penuh dengan rayu dan namamu itu, dan tentu juga malam-malam panjang yang penuh dengan rindu.
Sungguh, tak apa bagiku jika memang tak ada mula.
Asal pastikan saja padaku bahwa itu yang akan menjadi satu-satunya alasan kenapa tak perlu ada akhir diantara kita.
sebuah karya kolaborasi dari percakapan perihal mula.
.keping rasa bagian satu.
0 komentar:
Posting Komentar