Harus diakui bahwa memaafkan itu tidak selalu mudah. Lebih-lebih jika menyangkut peristiwa yang terlalu menyakitkan hati. Namun, kita perlu memahami, bahwa memaafkan itu perlu dilakukan karena ternyata menguntungkan bagi diri orang yang memberi maaf itu sendiri. Jadi, untuk apa luka hati dibawa mati?
Pernah merasa disakiti dan luka itu begitu mendalam, hingga membekas di hati? "Anda tidak sendiri," ujar psikolog Rieny Hutami Hassan.
Dalam perjalanan hidup, selalu terbuka kemungkinan untuk orang lain menyakiti hati kita. Ketika terlibat pada hubungan pribadi yang mendalam, misalnya, kita sesungguhnya membuka diri terhadap kemungkinan mendapat luka. Ketidaksetiaan, pengkhianatan, orang tua yang melakukan KDRT, suami yang pergi begitu saja adalah contoh perbuatan yang bisa menimbulkan luka dan sakit hati.
"Sakit hati ini tidak sembuh begitu saja. Kita perlu menghentikan kenangan yang menyakitkan hati itu dengan satu cara, yaitu memaafkan dan melumpuhkan kekuatan untuk mengingat dengan mulai melupakan," kata ibu dua anak ini saat ditemui GHS di kediamannya yang asri.



