Sebatang duka tumbuh dimatamu
Akarnya mencengkam jantungmu dan menghentikan detaknya
Duka itu merambat ke mataku
Bermandi curah matahari pagi
Batang duka itu bertunas di matamu
Daunnya hijau; begitu rimbun
Karena fotosintesa air mata
Bergelinang merah senja
Ranting-ranting dari batang duka itu merambat
Mengular panjang
Semacam benalu yang mengisap sari ketabahanmu
"Aku tak suka ada pohon duka di mataku", jeritmu
"Masa lalu gara-garanya," hiburku
Pohon duka itu mulai berbunga
Aku ingin berjalan-jalan dimatamu
Berteduh di rimbun pohon duka itu
Mencangkokkan rinduku di cabang-cabangnya
"Jangan cintai pohon duka ini," katamu, "Daun dan bunganya tak pernah dilapukkan musim."
Tapi...
Cinta mempunyai takdir sendiri
Dimatamu..
Pohon duka itu semakin dirimbunkan oleh rindu
Daun-daunnya menetak jantung musim
Buahnya pahit; sari air mata.
"Ayah kita petani," gumamku.
"Tapi, tak pernah menanam pohon duka."
Matamu berair..
Tiap butirnya jadi buah pohon duka itu
Sebelum malam memelukmu,
engkau mulai merangkulku
"Duka," katamu,
"Pohon yang tak kenal musim, dan kerap kali tumbuh sesukanya"
Khrisna Pabichara
0 komentar:
Posting Komentar