Malang,
Jawa Timur
2013 …
Sore ini, aku sedang berada di pendopo rumah. Akhir-akhir
ini aku memang ingin belajar mencintai kesepian. Entah...
disana aku bisa menemukan segala macam hal yang sedang kucari.
Disana aku bisa menyusuri segala ingatan
yang mungkin ingin kubuka kembali pintunya.
Semua pasti
tahu. Didunia ini, setiap orang memang punya mesin waktunya sendiri-sendiri. Sebagian membawa kita ke masa lalu yang
disebut memori. Dan sebagian
lain membawa kita kemasa depan yang disebut mimpi. Sekarang, aku sedang mengikuti arah dimensi waktu yang seakan menyuruhku kembali
mengingat masa lalu. Iya. Masa
lalu dimana aku belum
mengenal apa itu gelisah atau semacamnya.
Ketika aku belum menyentuh tugas Matematika, IPA, Bahasa
Indonesia, dan Bahasa Inggris serumit saat ini. Tugas
matematika yang dulu ku kenal
hanyalah penjumlahan, pengurangan,
dan perkalian yang terbatas pada angka
satu hingga sepuluh saja; sesederhana itu.
Aku tak pernah tau bahwa selain dunia
nyata, ada dunia maya, facebook dan twitter misalnya. Yang
kukenal hanyalah hamparan sawah dengan
setiap pematangnya yang sering kulewati. Yang kuketahui hanyalah sungai kecil jernih
yang memiliki arus deras. Aku
hanya mengenali bagaimana bentuk senja di Bali.
Aku hanya ingat bagaimana caranya belajar peka dengan bau tanah yang tersiram hujan;
ketika awan mulai berubah warna
menjadi biru yang paling kelabu.
Aku hanya mengerti bagaimana caranya
merawat bahagia.
Aku memang pernah
menangis. Tapi tangisan itu (mungkin) adalah bentuk dari kebahagiaan kecil atau
kekecewaan sederhana. Air mata yang akan menderas ketika aku mendapat satu buah
sepeda sebagai hadiah ulang tahunku. Air mata yang mungkin hanya akan keluar,
jika permintaan ku untuk membeli sebuah boneka Barbie tidak diindahkan oleh orang tuaku, atau bahkan ketika aku kehilangan
ayam. haha… Entah dulu orang-orang
melihat sosokku seperti apa. Bisa saja sebagian besar menganggap bahwa aku anak
kecil yang cengeng, atau malah berfikir aku adalah gadis penakut yang terkenal
dengan suara fales jika bernyanyi di kamar mandi.
Dulu aku pernah begitu
bahagia, sebelum akhirnya aku mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hingga tiba saatnya dimana dunia mulai memperkenalkanku
dengan satu hal aneh dan asing. Hal yang dulu sempat tak pernah kusadari kehadirannya.
Sesuatu yang kusebut
dengan... air mata nyata.
Aku masih duduk
termenung. Di atas meja berserakan beberapa album foto dan buku harian.
Instalasi-instalasi yang menguatkan sebuah rangkaian perjalan hidup, selain
film dokumenter yang ada dalam memori otakku. Masa lalu. Ada yang indah dan
selalu ingin dikenang. Dan ada yang buruk dan tak ingin ku bongkar sedikitpun.
Kini film dokumenter
itu berputar perlahan-lahan …
Singaraja, Bali 2008 …
Tiba-tiba aku terbangun dari tidur
nyenyakku karena suara berisik dari kamar sebelah. Disana tempat Abiku biasa melepas lelahnya setelah
seharian bekerja di kantor. Iya.
Sepertinya, sejak semalaman dia tidak
tidur. Tugas kantor yang akhir-akhir ini
menumpuk, mungkin menjadi salah satu penyebab Abiku
tak punya waktu untuk memejamkan mata dan membaringkan tubuhnya di atas kasur
biru kesayangannya.
Aku memaksakan diriku untuk bangkit dari ranjang dan perlahan membuka pintu kamar. Dengan
rasa penasaran dan langkah gontai, aku memutuskan untuk masuk ke kamar Abiku. "Abi nggak tidur lagi semalaman?"
kataku dengan suara serak dan rambut acak-acakan sambil sedikit mengucek mata. "Insomnia,
gek.. deadline kantor masih banyak. Tumben sudah bangun?" jawab Abiku sambil membolak-balik beberapa
kertas yang tak pernah ingin kuketahui isinya. Gek adalah panggilan untuk anak perempuan
di Bali. Memang
Abi dan Umi
kadang memanggilku dengan sebutan gek.
Tanpa menjawab pertanyaan Abiku, aku langsung meninggalkannya,
bermaksud untuk membiarkan Abiku
kembali menyelesaikan tugas kantornya.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk
sekedar mencuci mukaku yang sepertinya kelihatan kusam dan kusut akibat bangun
tidur. Karena ini hari Minggu, berarti aku masih mempunyai
waktu untuk bersantai-santai lebih lama dari hari-hari biasanya. Biasanya di hari Minggu seperti ini, aku hanya ingin
menghabiskan waktuku untuk bermain saja. Aku ingin kembali belajar bagaimana
caranya mencium bau hujan ketika awan mulai mendung. Aku ingin kembali
menyusuri pematang sawah dengan Kak Alit, Kak Opik, dan Mangde. Mereka semua
adalah teman bermainku. Mereka yang mengajariku melepas rasa lelah, dengan
berteriak sekencang-kencangnya di sawah kampung sebelah. Mereka yang
memperkenalkanku pada satu pelajaran aneh yang tak pernah kupelajari di
sekolah; mencium bau hujan. Mungkin, merekalah sosok pencipta bahagiaku saat
itu.
Seperti
biasanya, aku selalu menikmati setiap hari Minggu yang datang. Aku selalu ingin
merasakan bermain dengan tiga orang pencipta bahagiaku, lebih lama lagi. Kita
tertawa bersama. Sungguh, semuanya begitu membahagiakan. “Gek, ayo pulang. Kamu ada ngaji kan? Jam berapa ini?” Umi tiba-tiba
datang menyusulku ke sawah kampung sebelah dan seakan membuyarkan waktu bahagiaku.
“Iya Mi, sebentar lagi, aku bisa pulang sendiri kok..” balasku dengan terus
melanjutkan permainan sawah bersama tiga orang pencipta bahagiaku. Umiku
berjalan meninggalkanku dan kembali menuju rumah. Rupanya dia mempercayai
perkataanku, bahwa aku akan pulang sebentar lagi. Aku kembali menyusuri
pematang sawah agar bisa mencapai sungai yang menjadi tempat favoritku untuk
melepas semua lelah dengan tiga orang pencipta bahagiaku itu. Lima menit
berlalu, aku baru sadar, ada jadwal mengaji di rumah guruku, pagi ini. “Duh
gusti” ujarku dalam hati sambil cepat-cepat meninggalkan sawah dan kembali ke
rumah untuk bersiap-siap. Aku memang anak Bali. Aku bersekolah di sekolah
swasta yang mayoritas muridnya beragama hindu. Bahkan, kampung yang kutinggali
ini dikenal dengan kampung adat hindu paling kental di Kota Singaraja. Tapi,
Abi dan Umiku tetap mendidikku dengan ajaran islam yang kuat dan ketat. Mungkin
dengan cara seperti inilah yang bisa mengurangi peluangku untuk melakukan
hal-hal yang seharusnya memang tidak ku lakukan; sebagai anak muslim.
Bu Kartini.
Itulah nama guru mengajiku di Bali. Beliau adalah sosok penuh cinta,
kelembutan, dan kebahagiaan. Jarang melihatnya menangis, bahkan aku tak pernah
sekalipun melihatnya memasang muka masam, menunjukkan sikap malas, sedikit
saja. Entah, ada secercah rasa kagum yang selalu ingin kuberikan padanya.
“Assalamualaikum..”
sapaku saat tiba di rumah Bu Kartini. “Waalaikumsalam,
Put.. Sini masuk, duduk dulu..” balasnya dengan tatapan teduhnya. Aku hanya
membalasnya dengan senyuman kecil, lalu duduk di kursi ruang tamunya. Rumahnya
tidak terlalu megah dan besar, begitu sederhana. Rumah kecilnya terletak tepat
di samping Pantai Penimbangan. Pantai yang terkenal dengan ‘surga senja’ nya.
Aku sengaja meminta Umiku untuk mengatur jadwal mengajiku agar aku mengaji pada
sore hari saja. Karena hanya di waktu-waktu seperti itulah, aku bisa mengaji
sambil menikmati suara hempasan ombak ketika senja datang untuk menunjukkan
warna merahnya. Saat-saat seperti itulah, yang ingin kunikmati setiap harinya. Ketika
aku memfokuskan pandanganku pada langit yang dipenuhi senja, aku mulai
berfikir. Sampai kapankah aku bisa melihat langit seperti ini? Apakah senja
tahu bahwa aku ingin memandanginya seperti ini, lebih lama lagi? Mungkinkah suatu saat nanti aku akan
kehilangan perasaan tenang seperti ini ? Tiba-tiba beribu-ribu pertanyaan mulai
mucul dalam perotasian otakku, tanpa meminta jawaban yang pasti dari hati.
“Gek, kenapa ? Kok melihat langitnya
seperti itu? Sudah hafal haditsnya?” tiba-tiba Bu kartini datang membawa
secangkir teh hangat dan membuyarkan semua percakapan kecilku pada senja dan langit.
“Nggak ada apa-apa.. sudah kok, Bu. Hafalan sekarang ya?” aku membenarkan posisi
dudukku, meminum sedikit teh yang sudah dibawakan dan mulai melafalkan hadits
di bawah langit senja hari itu.
Hari mulai
petang, langit mulai gelap, dan senja sudah mengakhiri perjalanan di hamparan
langit biru untuk kembali pada singgasananya. Bu Kartini dan aku akan segera
mengakhiri kelas mengaji hari ini. Seperti biasanya di akhir kelas mengaji, Bu
Kartini akan memberiku satu rangkaian
kata-kata indah. Entah, aku selalu merasa penasaran dan ingin mencoba menebak,
kira-kira kata-kata seperti apa lagi yang akan diberikan untukku.
“Put, kamu tau?
Selalu ada yang retak pada apa yang sudah diciptakan Tuhan. Kamu nanti pasti
akan mengerti seperti apa rasa sakit yang sebenarnya, kalau kamu sudah besar.
Ketika kamu bingung cari jalan keluar buat nemuin bahagia di ujung rasa sakit,
kamu harus selalu inget.. Jika langit itu gulita, nggak ada segaris senja di
sana. Jangan pernah mengeluh. Kita harus bisa bertahan. Kamu harus bisa melukis
senja mu sendiri. Meskipun susah, kamu harus bisa pertahanin semuanya.. oke?”
Bu Kartini mengatakan itu dengan suara penuh keteduhan dan dengan tatapan penuh
cinta.. Beliau, memberi satu makna kehidupan lagi, hari itu..
Malang, Jawa Timur, 2013
Aku selalu
mengingat semua hal yang pernah membuat ku bahagia. Aku akan menyimpan semua
orang yang pernah menjadi pencipta bahagia, di laci lemari otakku. Setelah
menyusuri lagi kenangan masa lalu di bibir Pantai Penimbangan, sore itu. Aku
bisa mengerti. Iya. Aku harus bisa melukiskan senja ku sendiri, pada langit
yang bewarna biru paling kelabu sekalipun. Tuhan pasti akan memberikan
pembahagiaan dibalik rasa sakit yang Dia berikan.
Aku sudah
berubah sekarang. Aku bukan lagi gadis cengeng seperti dulu. Dan kini, baru
kurasakan kebenaran perkataan Bu Kartini beberapa tahun silam. Dalam kepingan
hati ini, aku berjanji akan berusaha mewarnai senja kehidupan dengan
warna-warna terindah seperti yang menjadi harapannya padaku…
hazrinaputri
0 komentar:
Posting Komentar