Rabu, 13 November 2013

Sang Pewarna Senja


Malang, Jawa Timur 2013
Sore ini, aku sedang berada di pendopo rumah. Akhir-akhir ini aku memang ingin belajar mencintai kesepian. Entah... disana aku bisa menemukan segala macam hal yang sedang kucari. Disana aku bisa menyusuri segala ingatan yang mungkin ingin kubuka kembali pintunya.
Semua pasti tahu. Didunia ini, setiap orang memang punya mesin waktunya sendiri-sendiri. Sebagian membawa kita ke masa lalu yang disebut memori. Dan sebagian lain membawa kita kemasa depan yang disebut mimpi. Sekarang, aku sedang mengikuti arah dimensi waktu yang seakan menyuruhku kembali mengingat masa lalu. Iya. Masa lalu dimana aku belum mengenal apa itu gelisah atau semacamnya. Ketika aku belum menyentuh tugas Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris serumit saat ini. Tugas matematika yang dulu ku kenal hanyalah penjumlahan, pengurangan, dan perkalian yang terbatas pada angka satu hingga sepuluh saja; sesederhana itu. Aku tak pernah tau bahwa selain dunia nyata, ada dunia maya, facebook dan twitter misalnya. Yang kukenal hanyalah hamparan sawah dengan setiap pematangnya yang sering kulewati. Yang kuketahui hanyalah sungai kecil jernih yang memiliki arus deras. Aku hanya mengenali bagaimana bentuk senja di Bali. Aku hanya ingat bagaimana caranya belajar peka dengan bau tanah yang tersiram hujan; ketika awan mulai berubah warna menjadi biru yang paling kelabu. Aku hanya mengerti bagaimana caranya merawat bahagia.
Aku memang pernah menangis. Tapi tangisan itu (mungkin) adalah bentuk dari kebahagiaan kecil atau kekecewaan sederhana. Air mata yang akan menderas ketika aku mendapat satu buah sepeda sebagai hadiah ulang tahunku. Air mata yang mungkin hanya akan keluar, jika permintaan ku untuk membeli sebuah boneka Barbie tidak diindahkan oleh orang tuaku, atau bahkan ketika aku kehilangan ayam. haha… Entah dulu orang-orang melihat sosokku seperti apa. Bisa saja sebagian besar menganggap bahwa aku anak kecil yang cengeng, atau malah berfikir aku adalah gadis penakut yang terkenal dengan suara fales jika bernyanyi di kamar mandi.
Dulu aku pernah begitu bahagia, sebelum akhirnya aku mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hingga tiba saatnya dimana dunia mulai memperkenalkanku dengan satu hal aneh dan asing. Hal yang dulu sempat tak pernah kusadari kehadirannya. Sesuatu yang kusebut dengan... air mata nyata.
Aku masih duduk termenung. Di atas meja berserakan beberapa album foto dan buku harian. Instalasi-instalasi yang menguatkan sebuah rangkaian perjalan hidup, selain film dokumenter yang ada dalam memori otakku. Masa lalu. Ada yang indah dan selalu ingin dikenang. Dan ada yang buruk dan tak ingin ku bongkar sedikitpun.
Kini film dokumenter itu berputar perlahan-lahan …
Singaraja, Bali 2008 …
Tiba-tiba aku terbangun dari tidur nyenyakku karena suara berisik dari kamar sebelah. Disana tempat Abiku biasa melepas lelahnya setelah seharian bekerja di kantor. Iya. Sepertinya, sejak semalaman dia tidak tidur. Tugas kantor yang akhir-akhir ini menumpuk, mungkin menjadi salah satu penyebab Abiku tak punya waktu untuk memejamkan mata dan membaringkan tubuhnya di atas kasur biru kesayangannya.
Aku memaksakan diriku untuk bangkit dari ranjang dan perlahan membuka pintu kamar. Dengan rasa penasaran dan langkah gontai, aku memutuskan untuk masuk ke kamar Abiku. "Abi nggak tidur lagi semalaman?" kataku dengan suara serak dan rambut acak-acakan sambil sedikit mengucek mata. "Insomnia, gek.. deadline kantor masih banyak. Tumben sudah bangun?"  jawab Abiku sambil membolak-balik beberapa kertas yang tak pernah ingin kuketahui isinya. Gek adalah panggilan untuk anak perempuan di Bali. Memang Abi dan Umi kadang memanggilku dengan sebutan gek. Tanpa menjawab pertanyaan Abiku, aku langsung meninggalkannya, bermaksud untuk membiarkan Abiku kembali  menyelesaikan tugas kantornya.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci mukaku yang sepertinya kelihatan kusam dan kusut akibat bangun tidur. Karena ini hari Minggu, berarti aku masih mempunyai waktu untuk bersantai-santai lebih lama dari hari-hari biasanya. Biasanya di hari Minggu seperti ini, aku hanya ingin menghabiskan waktuku untuk bermain saja. Aku ingin kembali belajar bagaimana caranya mencium bau hujan ketika awan mulai mendung. Aku ingin kembali menyusuri pematang sawah dengan Kak Alit, Kak Opik, dan Mangde. Mereka semua adalah teman bermainku. Mereka yang mengajariku melepas rasa lelah, dengan berteriak sekencang-kencangnya di sawah kampung sebelah. Mereka yang memperkenalkanku pada satu pelajaran aneh yang tak pernah kupelajari di sekolah; mencium bau hujan. Mungkin, merekalah sosok pencipta bahagiaku saat itu.
Seperti biasanya, aku selalu menikmati setiap hari Minggu yang datang. Aku selalu ingin merasakan bermain dengan tiga orang pencipta bahagiaku, lebih lama lagi. Kita tertawa bersama. Sungguh, semuanya begitu membahagiakan. “Gek, ayo pulang. Kamu ada ngaji kan? Jam berapa ini?” Umi tiba-tiba datang menyusulku ke sawah kampung sebelah dan seakan membuyarkan waktu bahagiaku. “Iya Mi, sebentar lagi, aku bisa pulang sendiri kok..” balasku dengan terus melanjutkan permainan sawah bersama tiga orang pencipta bahagiaku. Umiku berjalan meninggalkanku dan kembali menuju rumah. Rupanya dia mempercayai perkataanku, bahwa aku akan pulang sebentar lagi. Aku kembali menyusuri pematang sawah agar bisa mencapai sungai yang menjadi tempat favoritku untuk melepas semua lelah dengan tiga orang pencipta bahagiaku itu. Lima menit berlalu, aku baru sadar, ada jadwal mengaji di rumah guruku, pagi ini. “Duh gusti” ujarku dalam hati sambil cepat-cepat meninggalkan sawah dan kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Aku memang anak Bali. Aku bersekolah di sekolah swasta yang mayoritas muridnya beragama hindu. Bahkan, kampung yang kutinggali ini dikenal dengan kampung adat hindu paling kental di Kota Singaraja. Tapi, Abi dan Umiku tetap mendidikku dengan ajaran islam yang kuat dan ketat. Mungkin dengan cara seperti inilah yang bisa mengurangi peluangku untuk melakukan hal-hal yang seharusnya memang tidak ku lakukan; sebagai anak muslim.
Bu Kartini. Itulah nama guru mengajiku di Bali. Beliau adalah sosok penuh cinta, kelembutan, dan kebahagiaan. Jarang melihatnya menangis, bahkan aku tak pernah sekalipun melihatnya memasang muka masam, menunjukkan sikap malas, sedikit saja. Entah, ada secercah rasa kagum yang selalu ingin kuberikan padanya.
“Assalamualaikum..” sapaku saat tiba di  rumah Bu Kartini. “Waalaikumsalam, Put.. Sini masuk, duduk dulu..” balasnya dengan tatapan teduhnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil, lalu duduk di kursi ruang tamunya. Rumahnya tidak terlalu megah dan besar, begitu sederhana. Rumah kecilnya terletak tepat di samping Pantai Penimbangan. Pantai yang terkenal dengan ‘surga senja’ nya. Aku sengaja meminta Umiku untuk mengatur jadwal mengajiku agar aku mengaji pada sore hari saja. Karena hanya di waktu-waktu seperti itulah, aku bisa mengaji sambil menikmati suara hempasan ombak ketika senja datang untuk menunjukkan warna merahnya. Saat-saat seperti itulah, yang ingin kunikmati setiap harinya. Ketika aku memfokuskan pandanganku pada langit yang dipenuhi senja, aku mulai berfikir. Sampai kapankah aku bisa melihat langit seperti ini? Apakah senja tahu bahwa aku ingin memandanginya seperti ini, lebih lama lagi?  Mungkinkah suatu saat nanti aku akan kehilangan perasaan tenang seperti ini ? Tiba-tiba beribu-ribu pertanyaan mulai mucul dalam perotasian otakku, tanpa meminta jawaban yang pasti dari hati.
Gek, kenapa ? Kok melihat langitnya seperti itu? Sudah hafal haditsnya?” tiba-tiba Bu kartini datang membawa secangkir teh hangat dan membuyarkan semua  percakapan kecilku pada senja dan langit. “Nggak ada apa-apa.. sudah kok, Bu. Hafalan sekarang ya?” aku membenarkan posisi dudukku, meminum sedikit teh yang sudah dibawakan dan mulai melafalkan hadits di bawah langit senja hari itu.
Hari mulai petang, langit mulai gelap, dan senja sudah mengakhiri perjalanan di hamparan langit biru untuk kembali pada singgasananya. Bu Kartini dan aku akan segera mengakhiri kelas mengaji hari ini. Seperti biasanya di akhir kelas mengaji, Bu Kartini akan memberiku satu  rangkaian kata-kata indah. Entah, aku selalu merasa penasaran dan ingin mencoba menebak, kira-kira kata-kata seperti apa lagi yang akan diberikan untukku.
“Put, kamu tau? Selalu ada yang retak pada apa yang sudah diciptakan Tuhan. Kamu nanti pasti akan mengerti seperti apa rasa sakit yang sebenarnya, kalau kamu sudah besar. Ketika kamu bingung cari jalan keluar buat nemuin bahagia di ujung rasa sakit, kamu harus selalu inget.. Jika langit itu gulita, nggak ada segaris senja di sana. Jangan pernah mengeluh. Kita harus bisa bertahan. Kamu harus bisa melukis senja mu sendiri. Meskipun susah, kamu harus bisa pertahanin semuanya.. oke?” Bu Kartini mengatakan itu dengan suara penuh keteduhan dan dengan tatapan penuh cinta.. Beliau, memberi satu makna kehidupan lagi, hari itu..
Malang, Jawa Timur, 2013
Aku selalu mengingat semua hal yang pernah membuat ku bahagia. Aku akan menyimpan semua orang yang pernah menjadi pencipta bahagia, di laci lemari otakku. Setelah menyusuri lagi kenangan masa lalu di bibir Pantai Penimbangan, sore itu. Aku bisa mengerti. Iya. Aku harus bisa melukiskan senja ku sendiri, pada langit yang bewarna biru paling kelabu sekalipun. Tuhan pasti akan memberikan pembahagiaan dibalik rasa sakit yang Dia berikan.
Aku sudah berubah sekarang. Aku bukan lagi gadis cengeng seperti dulu. Dan kini, baru kurasakan kebenaran perkataan Bu Kartini beberapa tahun silam. Dalam kepingan hati ini, aku berjanji akan berusaha mewarnai senja kehidupan dengan warna-warna terindah seperti yang menjadi harapannya padaku…

hazrinaputri 

0 komentar:

Posting Komentar