Tenanglah hatiku, karena langit tak pun
mendengari
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan
ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan
nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak
menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan
mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar
tiba, karena dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan
kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
Dalam mimpi aku melihat seekor murai
menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga lili menyembulkan
kelopaknya dibalik salju.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain
dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah
mimpi. Ketika aku terjaga dan memandangi sekelilingku, kulihat gunung berapi
memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia
terbang.
Kulihat langit menaburkan salju diatas pada
dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret,
tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satupun kulihat disana yang
bergoyang dalam tarian, juga tidak tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan
kepedihan; ke manakah perginya keembiraan dan kesenangan impian ?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan
bagaimana gambaran-gambarannya menghilang ?
Bagaimana mungkin jiwa ertahan sampai sang
tidur membawa roh-roh dari hasrat dan harapannya?
Dengarlah hatiku, dan dengarkanlah
ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang
kukuh dan tua, menghujam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya
mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul
buah pada musim panas. Pada musim gugur ku kumpulkan buahnya di mangkuk perak
dan kuletakkan di tengah jalan.
Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan
memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.
kahlil Gibran
0 komentar:
Posting Komentar