Rabu, 13 November 2013

Antara Pagi dan Malam Hari


Tenanglah hatiku, karena langit tak pun mendengari
Tenanglah, karena bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, karena roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, karena dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

Dalam mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga lili menyembulkan kelopaknya dibalik salju.
Kulihat bidadari menari di antara batu batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandangi sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju diatas pada dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satupun kulihat disana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya keembiraan dan kesenangan impian ?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang ?
Bagaimana mungkin jiwa ertahan sampai sang tidur membawa roh-roh dari hasrat dan harapannya?

Dengarlah hatiku, dan dengarkanlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghujam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur ku kumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkan di tengah jalan.
Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

kahlil Gibran

0 komentar:

Posting Komentar