Sabtu, 30 November 2013

Memaafkan Itu Menyembuhkan Diri




Harus diakui bahwa memaafkan itu tidak selalu mudah. Lebih-lebih jika menyangkut peristiwa yang terlalu menyakitkan hati. Namun, kita perlu memahami, bahwa memaafkan itu perlu dilakukan karena ternyata menguntungkan bagi diri orang yang memberi maaf itu sendiri. Jadi, untuk apa luka hati dibawa mati?

Pernah merasa disakiti dan luka itu begitu mendalam, hingga membekas di hati? "Anda tidak sendiri," ujar psikolog Rieny Hutami Hassan.

Dalam perjalanan hidup, selalu terbuka kemungkinan untuk orang lain menyakiti hati kita. Ketika terlibat pada hubungan pribadi yang mendalam, misalnya, kita sesungguhnya membuka diri terhadap kemungkinan mendapat luka. Ketidaksetiaan, pengkhianatan, orang tua yang melakukan KDRT, suami yang pergi begitu saja adalah contoh perbuatan yang bisa menimbulkan luka dan sakit hati.

"Sakit hati ini tidak sembuh begitu saja. Kita perlu menghentikan kenangan yang menyakitkan hati itu dengan satu cara, yaitu memaafkan dan melumpuhkan kekuatan untuk mengingat dengan mulai melupakan," kata ibu dua anak ini saat ditemui GHS di kediamannya yang asri.


Menghapus bekas luka

Maaf, disebutkan Gus Arifin, Ketua Dewan Syuro Nahdatul Ulama, berasal dari al-afwu, yang berarti menghapus. Memaafkan berarti menghapus bekas-bekas luka di hati.

"Hanya ada tiga perkara yang diperintahkan Allah kepada manusia, yakni salat, zakat, dan memberi maaf. Perintah adalah sesuatu yang berat. Dan Allah menjanjikan pahala bagi orang yang memberi maaf," ujar Gus Arifin.

"Bukanlah memaafkan bila masih ada dendam. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan dalam tahap 'masih menahan marah'," katanya.

Karena itu, ia menyarankan agar kita berusaha menghilangkan 'noda' itu hingga bersih. Dengan begitu, baru kita bisa dikatakan telah memberi maaf kepada orang lain.

"Memang, memaafkan adalah pekerjaan cinta yang paling berat sekaligus merupakan risiko cinta yang paling besar," ungkap Rieny. Bila keliru dalam memahami soal memaafkan, kita bisa menjadi manipulator yang tidak berperasaan; atau sebaliknya kita dimanipulasi oleh orang lain.

Meskipun memaafkan bukan kemampuan yang dengan sendirinya ada di dalam diri kita, bagaimanapun kita perlu melatih diri ke arah sana. Ada empat tahap yang biasanya dilalui agar bisa sampai ke perbuatan memaafkan, yakni: 1) tahap sakit hati, 2) tahap membenci, 3) tahap menyembuhkan, dan 4) tahap mengundangnya masuk kembali ke dalam kehidupan kita. Tentu saja, setiap tahap biasanya butuh waktu.

Kalau bisa mendoakan

Memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita, berarti kita memperbaiki ingatan atau memori kita. Ingatan baru itulah yang menyelamatkan kita. Ada kalanya orang telah menyimpan luka hatinya itu jauh ke bawah sadar, sehingga memerlukan bantuan terapis untuk menyadarinya dan selanjutnya memperbaiki memori negatif itu menjadi positif.

Sebenarnya kapan proses memaafkan telah dimulai? Proses dimulai ketika memori tentang orang yang menyebabkan luka batin atau sakit hati itu tidak lagi memberikan pengaruh terhadap diri kita.

Kalau menurut Rieny, "Anda akan tahu bahwa pemberian maaf telah dimulai, yaitu ketika Anda mengingat orang yang menyakiti hati Anda dan merasakan kesanggupan untuk mendoakannya."

Dengan memaafkan, sesungguhnya orang menghilangkan hambatan moral untuk menjalin kembali persahabatan atau tali kasih dengan orang yang telah menyakitinya, kemudian memantapkan kembali keleluasaan dan keceriaan persahabatan. Hilangnya "hambatan moral" itulah kunci untuk mencapai penyelesaian maaf secara tuntas.

Bila ingin membangun kembali keceriaan dan kebahagiaan dan hubungan yang erat dengan orang yang menyakiti hati, tentu diperlukan kerja sama tulus dari kedua pihak. Namun, bila salah satu pihak menolaknya, bukan berarti lantas berhenti berikhtiar agar terbebas dari rasa bend dan memperoleh damai di hati.

Para spiritualis sering mengingatkan, bahwa yang berkepentingan dengan memaafkan adalah kita sendiri, sebab dengan memaafkan kita akan terbebas dari emosi negatif. Jadi, kalau bicara untung rugi, sesungguhnya memaafkan itu yang diuntungkan adalah diri kita sendiri.

Itulah sebabnya, untuk bisa memaafkan, tidak perlu kita menunggu orang yang kita anggap berbuat salah itu meminta maaf. Untuk memberi, kita tidak perlu menunggu ada yang meminta. Itulah yang disebut tulus ikhlas.

Apakah ketulusan hati itu?

Ketulusan adalah kerelaan jiwa dan pikiran yang berhubungan dengan niat kita yang sesungguhnya. Memaafkan harus sungguh-sungguh datang dari hati. Ketulusan inilah yang harus ada, ketika seseorang ingin terbebas dari belenggu sakit hati atau luka batin.

"Secara lebih spesifik, orang perlu jujur menyadari luka hati dan kebenciannya, merasakannya, lalu bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi," tutur Rieny.

Karena itu, memberi maaf akan bermakna penyembuhan luka batin hanya bila tdak bersyarat. Ini adalah pilihan sukarela yang kita lakukan, untuk diri kita sendiri, dan terjadi di dalam lubuk hati kita yang terdalam.

"Kita tdak bisa mengembalikan semua kehidupan yang lama. Memberi maaf adalah satusatunya jalan untuk mengurangi ketidakadilan, juga satu-satunya cara untuk berlaku adil kepada diri sendiri dan berpijak pada realitas," ungkapnya.

Singkat kata, memaafkan adalah jalan kebebasan dari sakit hati dan kebencian. Dan kebebasan adalah kekuatan untuk sembuh.

Belum Tentu Memaafkan

1. Anda sudah memaafkan kalau telah melupakan.
Tidak selalu demikian. Ada kalanya memori luka batin atau sakit hati itu ada di pikiran bawah sadar, sehingga otak sadarnya tdak lagi mengingatnya. Namun, belum berarti yang bersangkutan sudah memaafkan. Sebaliknya, pemberian maaf yang tulus bisa diberikan, walaupun Anda masih mengingatnya.

2. Anda membiarkan, berarti sudah memaafkan mereka.
Belum tentu. Anda memaafkan mereka karena menganggap mereka yang bertanggung jawab atas luka batin atau sakit hati Anda, sehingga Anda tdak membiarkan mereka.

3. Anda sudah memaafkan kalau memadamkan konflik.
Tidak demikian. Memadamkan konflik tdak berarti memaafkan. Namun, kalau Anda selamanya memendam pertikaian dengan orang lain, Anda merampas kesempatan mereka untuk dimaafkan.

4. Sudah menerima orang itu kembali berarti sudah memaafkan.
Tidak. Anda tdak otomatis memaafkan semata-mata karena sudah menerima mereka kembali.

5. Anda memberi toleransi berarti Anda telah memaafkan mereka dengan segala perbuatannya.
Bukan begitu. Anda bisa memaafkan, tapi tetap menolak memberi toleransi terhadap perbuatan mereka.

Sumber: http://cybermed.cbn.net.id

0 komentar:

Posting Komentar