Sabtu, 08 Februari 2014

Surat Rindu untuk Bahagia


Selamat pagi, Bahagia..
Bagaimana keadaanmu setelah kaubertemu haru? Apakah sekarang kautelah benar-benar menjadi bahagia?
Kauboleh membenci Rindu, Bahagia. Bukankah tak ada yang salah dalam hal membenci seseorang?
Aku tahu, sejak kautahu kalau Rindu menaruh haranya pada Haru-mu, kamu tak pernah mau mendengarkan kata-kata R-I-N-D-U lagi. Iya. Aku tahu bahwa kamu tak ingin membagi Haru-mu dengan Rindu. Mana ada seseorang bisa benar-benar bahagia jika melihat orang yang dikagumi memiliki tawa lain, selain dirinya ?
Apakah kauberfikir bahwa Rindu hanya bisa mengagumi sesuatu; yang kaumiliki ? Bahwa Rindu hanya bisa mengangumi Haru-mu saja ?
Andai saja kaumau membuka sedikit saja pintu kepekaanmu, maka kauakan segera melihat yang sebenarnya harus kaulihat..

Rindu Bertuan


WHAT DOES IT TAKE TO FIND A LOST LOVE ? destiny.
Someday, I will be a beautiful butterfly (for you) and everything will be better.
Hitam. Aku selalu menyebut malam seperti itu. Disana masih ada alasanku untuk terus mencari rindumu. Mencari kepingan puzzle yang hilang dari hidupku selama ini. Mencari sosok yang akan terus membangkitkan aku dari semua masalah yang akan datang. Iya. Semuanya memang terlihat bermasalah. Tapi semenjak kamu hadir disini; disampingku, aku masih ingin terus berjalan, aku tak mau berhenti dulu. Dan aku masih ingin berjuang. Untuk kamu. Iya. Aku akan terus berjalan, bersama mu.
Berbicara soal rindu.
Sudah lama aku menjadi pecandu rindu seseorang yang tergolong keras kepala, namun entah karena apa dia mampu menguasai semesta perotasianku. Sosok yang masih tergolong ‘dingin’, tapi entah dengan alas an yang seperti apa dia bisa merenggut seluruh perhatianku dalam sekejap. Iya. Kamu.

Kamis, 06 Februari 2014

Mutiara Kata

DwBeberapa Mutiara Kata Karya Kahlil Gibran
"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)

"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)

Rinduku ke Surga


Begitulah kesudahannya; aku hanya sempat mengenali lelaki itu lima tahun lapan bulan. Aku tahu dia telah pergi. Linangan air mata ibu yang menuruni cerun pipinya yang putih dan gebu ketika bersimpuh di sebelah sesusuk tubuh yang terbujur kaku berbalut kain kapan cukup untuk menggambarkan kedukaannya.

Kancapuri rumahku seolah-olah sebuah perkuburan sepi. Aku yang duduk di ribanya didakap erat. Entah berapa kali ibu mendaratkan bibirnya ke dahi, pipi dan ubun-ubunku. Antara dengar atau tidak, berulang kali ibu berbisik ke telingaku, “Abah Firdaus telah pergi … Abah Firdaus telah pergi.”
Saat sekujur tubuh abah diangkat pergi oleh beberapa orang penduduk kariah dan dimasukkan ke dalam van jenazah berwarna putih, ibu rebah - beberapa kali ibu rebah. Mujur sempat disambut oleh beberapa orang penduduk kariah wanita.

Aku membuntuti van jenazah yang membawa tubuh kaku ayah hingga ke tanah perkuburan – malah aku turut berdiri betul-betul di bibir lubang kuburnya.
Tubuh abah disambut oleh penggali kubur lalu dibaringkan di liang lahad. Sebaik sahaja keranda menutupi jasadnya dan dikambus dengan tanah oleh para penggali kubur, air mataku tiba-tiba berlinangan. Baharu aku tahu ertinya mati.

Kotak Kecil

Cerpen Karya Akto Misriadi

Entah ada apa dengan malam ini, mataku terus berdenyut-denyut disebelah kiri, mataku tidak tertutup ditengah larut malam, lamunanku tidak menentu apa yang aku bicarakan, jantungku pun berdetak lebih cepat dari darah ku mengalir lebih deras, aku seperti sedang diatas awan yang melambung-lambung terbawa angin.

Aku mencoba memahami apa yang terjadi dimalam itu , setelah aku ikuti kata hatiku ternyata aku teringat seseorang yang jauh nan disana, jauh dari kelopak mata dialah bayu, seseorang yang pernah singgah dihatiku dan telah pergi seperti debu diatas telapak tangan yang terhembus angin lalu terbang tidak tentu arah dan tidak tahu kemana arah itu.


Cinta Tak Bertuan

Sepanjang hidup, kita seolah tak berhenti berusaha menaklukkan cinta. Cinta harus satu, cinta tak boleh dua, cinta maksimal empat, dan seterusnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Dan kita tak putus merumuskan cinta, padahal mungkin saja cinta yang merumuskan kita semua. Infinit merangkul yang finit. Hidup berpasangan katanya sesuai dengan alam, seperti buaya yang hidup monogami tapi ironisnya malah menjadi ikon ketidaksetiaan.

Namun terkadang kita melihat seekor jantan mengasuh sekian banyak betina sekaligus, berparade seperti rombongan sirkus. Dan itu pun ada di alam. Lalu ke mana manusia harus bercermin? Sebagaimana semua terpecah menjadi dua kutub dalam alam dualitas ini, terpecahlah mereka yang percaya cinta multipel pastilah sakit dan khianat dengan mereka yang percaya cinta bisa dibagi selama bijak dan bajik. Yang satu bicara hukum publik dan nurani, yang satu bicara hukum agama dan kisah hidup orang besar. Yang satu mengusung komisi anti itu-ini, yang satu menghadiahi piala poligami.

Jawaban Terakhir

Cerpen Karya Akhmad Gufron Wahid

Sehari menjelang Ramadhan.
Gemuruh asap cerobong kereta menguap. Roda-rodanya menari-nari anggun di atas garis besi panjang melintang itu. Dengan gagahnya, sang masinis tersenyum simpul ketika baru saja kereta yang dipandunya mengarungi terowongan gelap di dalam perut gunung Argopuro nan indah berundak-undak.

Detik itu, kereta yang kutumpangi membelah area persawahan hijau yang terhampar luas membentang. Aku tersenyum kecil, telah lebih dari tiga tahun aku tak pernah lagi mendapati pemandangan seperti ini, setelah sebelumnya Iraq merenggutku, merenggut ketidakmampuanku untuk menjadi manusia berpendidikan. Teringat betul ketika dulu aku diwanti-wanti Abah untuk menerima program beasiswa kuliah di negeri Syiah itu. Tapi entah mengapa aku menggelengkan kepala, tak setuju dengan semua itu. Tak lain karena aku tak ingin berjarak jauh dari Abah dan Umi yang semakin lama semakin menua saja. Alasan itu semakin diperkuat dengan diriku yang menjadi anak semata wayang beliau berdua. Hati kecilku menggertakku untuk tak jauh dari Abah dan Umi ketika usia mereka menua seperti saat itu.

Di Balik Tirai Jendela

Cerpen Karya Vinka Aprilla Patricia

Hujan baru saja berhenti, menyisakan ranting-ranting basah serta meninggalkan aroma tanah lembap yang khas.Malam masih jauh di pelupuk mata.Saat aku duduk mendekap lutut di lantai kamar.Tetesan air bening masih mengalir dari mataku.Bayangankujatuh pada kisah masa laluku, tiga tahun silam.

Hari itu adalah hari ulang tahunku, yang ke-12.Seperti biasa, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padaku.Pagi itu ayah memelukku hangat sambil mengecup keningku, di belakang Kak Aninda berdiri seraya membawa sebuah kue ulang tahun dengan dua buah lilin kecil di atasnya.
“Selamat ulang tahun, Sayang!” seru ayah dengan manis
“Terima kasih, Ayah!” balasku sambil memeluknya
Ya, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan kata “selamat” setiap kali aku berulang tahun, dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku menyayanginya melebihi apapun di dunia ini, semua hal yang kualami pasti ku bagi tahu pada ayah.
Dua hari sejak hari ulang tahunku, Kak Aninda memilih mengadu nasib ke Kalimantan, ajakan kawannya.Meninggalkan aku dan ayah berdua.

Surat Untuk Ibu

Cerpen Karya Intan Irena Bias

Aku hanya ingin mentari tak lagi bersinar . Tuhan , aku lelah , aku menyesal! Tak seharusnya aku berlaku seperti itu . Ambil nyawaku Tuhan! Ambil! Biarkan aku bahagia bersama ibu di surga keindahanmu . Sudah banyak yang aku miliki , rumah mewah , perusahaan besar , istri yang sholehah bahkan anak-anak yang membanggakan . Tapi apalah arti semua itu Tuhan , jika harta terbesar dan terindahku telah lalai aku jaga . Restu ibu adalah segalanya . Aku ingin bersimpuh . Aku ingin memeluk rapat kaki ibu . Aku ingin menangis dan tidur dibuai mimpi di pangkuan ibu , Tuhan . Kenapa secepat ini ? Kenapa Tuhan ? Aku ingin membuat ibu bahagia , bangga ! Aku ingin Tuhan! Aku ingin! Terlalu egoiskah aku untuk meminta ibu kembali lagi bersamaku ? Aku hanya ingin membalas kasih sayang ibu dulu . Aku ingin membalas setiap tetes keringat ibuku. Andai aku bisa. Aku terlambat! Aku benar-benar terlambat. Maafkan aku ibu! Maaf!

Takdir di dalam Takbir


 
Hidup bukan pilihan. Pilihan-pilihan hanyalah anak-anak tangga sebuah proses dalam hidup. Hidup yang memilih kita. Bukan sebaliknya. Dan setelah itu, perjuangkanlah apapun peranmu. Itu yang benar. Kita tak pernah bisa memilih hidup kita sendiri. Jangankan hidup, lahir di rahim wanita manapun saja kita tak pernah bisa memilih. Tak boleh. Kita ditentukan. Ditakdirkan Tuhan. Tapi kalau pun kita mengeluh dengan yang kita dapatkan, itu juga tak sepenuhnya salah. Tapi ingat, siapa yang akan membela kita kalau kita mengeluh dan mempertanyakan keadilan yang seperti itu? Tidak ada, bukan? Tak seorang pun, tentu. Karena memang tak perlu.

1 Hari untuk 1000 Kebahagiaan

Cerpen Karya Endah Rohmaniyah Safitri

Panas matahari siang ini sebenarnya bisa membuat cucian basah di jemuran menjadi kering dalam sekejap, tapi Pak Arnold tetap tak mau memberi keringanan hukuman padaku dan kedua sahabatku.
“Shannon Grayce!! Tetap berdiri disitu. Jangan manja!” Sahut Pak Arnold ketika aku mencoba bertukar posisi dengan Helen untuk menghindari sengatan matahari.
“Tapi pak, kita capek berdiri disini. Matahari sudah diatas kepala. Nanti kalau kulit kami gosong gimana? Memang bapak bisa membayar perawatan kami di salon mahal?” Sahutku
“SHANNON !! Hukuman kamu bertambah sampai jam pulang sekolah selesai, setelah itu bersihkan kamar mandi dekat perpustakaan. Jangan membantah lagi atau orang tuamu saya panggil menghadap guru BK.” Balas Pak Arnold dengan nada meninggi

Dua jam kemudian bel pulang sekolah berbunyi, kakiku serasa mati. Tapi hukuman ini masih harus ditambah lagi membersihkan kamar mandi dengan bau dan pemandangan mengerikan didepan mataku. Pak Arnold memang keterlaluan, kuku dan kulitku bisa rusak seketika setelah menjalankan hukuman itu. Helen dan Stef malah asyik nongkrong di kantin. Mereka tidak akan mau membantuku, mereka tidak akan rela perawatan mahalnya dirusak dengan “polusi kamar mandi”.

Terimakasih Atas Segalanya


Cerpen Karya Farhadina Rahman
“Heiii!!!” teriak seorang wanita yang cantik dengan rambut hitam panjang, Bella. “Tunggu!!” ucapnya berlari menghampiri seseorang, ya dialah Nita.
“Eh..” Nita berhenti berjalan.
“Pulang bareng yuk!” ucap bella menepuk pundak Nita.
“Ohh.. Yaudah yuk!” saat kalian berdua ingin berjalan, seorang lelaki tampan meghampiri kalian berdua, Irfan.
“Aku ikut” ucapnya.
“Oh boleh” ucapmu membalas senyuman dari iqbaal.

Mereka bertiga pun pulang sekolah bersama karna mereka bertiga tinggal di perumahan yang sama. Irfan berjalan di samping bella dan bella berada diantara Nita dan Irfan. Melihat itu, Nita sepertinya cemburu dengan bella.
“Bella, PR matematikamu, kamu udah kerjain?” ucap Irfan bertanya pada bella.
“Udah dong!” ucapnya.
“Wah, hebat kamu udah pinter, cantik lagi” ucap Irfan. Nita yang mendengarnya hanya diam.
“Hehe makasih baal! Nita, kalau kamu udah jadi?” bella mengarahkan pandangannya ke arah Nita. (nama kamu) tak menjawab.
“Mmm... Nita?” bella melambaikan tangan di depan wajah Nita
“Eh iya??” Nita sadar.
“Kok bengong sih?”
“Eee, ngga apa-apa. Oh iya, kamu tadi bilang apa?”
“PR matematikamu udah jadi?”
“Udah kok!”
“Yah, kayaknya sisa aku nih yang belum jadi” kata Irfan sambil menggaruk kepalanya.
“Haha...” Nita dan bella tertawa.
***

Demi Sebuah Janji dalam Perjalanan


Cerpen Karya Miftachur Rosyad

“Hujanitu berkah,Hujan itu anugerah,Hujan itu kehidupan….”(mr)
“Tidurlahjika kau yakin bahwa di atas bantal terdapat mimpi-mimpi tentang kemajuan,Tapijika tidak,bangkitlah … dan lakukan sesuatu “(adz-mr)
“ Nanti kujemput,di mana?di tempat biasasaja,itulah janjiku pada seseorang yang kukagumi,”Sore itu aku gelisahmenyaksikan langit di kota ini mulai berubah wajah,kecerahan warna lambat launtergeser oleh arak-arakan awan hitam dan terus menghitam pekat lagi menakutkan,akuyang sedari tadi menyaksikan fenomena alam tersentak teringat sebuah janjiuntuk menjemput gadis suci penyemangat nurani……ahhh ngaji saja dulu pikirku,bergegaskutenteng meja buatanku besrta kitab dan kudekap erat bak pecinta yang takingin berpisah dari kekasih hatinya,konsentrasi penuh mulai kusimak saat Sangmaha guru membacakan kata perkata dari kitab yang di kaji untuk kemudiankusalin dalam mushaf kitab cintaku dengan tarian pena made in china yang kubelibeberapa hari yang lalu,sesekali kulirik jam dinding di ujung mushola,hmmhsudah hampir jam4sore,perasaan resahgelisah mulai menyerang dan menggelayuti pikiranku namun pengajian tak kunjungusai,entahlah aku yang mulai tak sabaratau memang terlalu lama,ya…kuselesaikan saja mungkin tak lama lagi gumamkudalam keresahan,ternyata benar tepat jam 4 lewat 10 menit pengajianpunusai,Alhamdulillah kataku seraya tersenyum.

Indonesia's First Literary Museum

Museum Andrea Hirata adalah museum sastra (literary museum) pertama di Indonesia. Museum unik ini ada di desa Gantong, Belitong, tempat kisah Laskar Pelangi. Museum ini terbuka untuk umum setiap hari, pukul 10.00-17.30. Tujuan utama Museum Kata Andrea Hirata adalah untuk menginspirasi generasi muda Indonesia agar Pantang Menyerah dan Berani Bermimpi sesuai dengan semangat Laskar Pelangi, serta demi melestarikan nilai-nilai luhur pendidikan. Tujuan lainnya adalah sebagai learning centre dan media untuk mengapresiasi karya-karya sastra dari para penulis baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam museum terdapat pula karya-karya Andrea Hirata yang belum pernah diterbitkan dan merupakan keistimewaan bagi pengunjung museum karena karya-karya yang sangat inspiratif tersebut hanya bisa dibaca di museum ini. Demi melengkapi unsur budaya lokal, di museum juga terdapat warung kopi dengan gaya warung kopi Melayu asli dengan rasa kopi Belitong,namanya Warung Kupi Kuli. Jl. Laskar Pelangi No 10, Gantong, Belitong 

Welcome To 

Museum Kata Andrea Hirata-Andrea Hirata Words Museum

Indonesia's First Literary Museum