Kamis, 06 Februari 2014

Terimakasih Atas Segalanya


Cerpen Karya Farhadina Rahman
“Heiii!!!” teriak seorang wanita yang cantik dengan rambut hitam panjang, Bella. “Tunggu!!” ucapnya berlari menghampiri seseorang, ya dialah Nita.
“Eh..” Nita berhenti berjalan.
“Pulang bareng yuk!” ucap bella menepuk pundak Nita.
“Ohh.. Yaudah yuk!” saat kalian berdua ingin berjalan, seorang lelaki tampan meghampiri kalian berdua, Irfan.
“Aku ikut” ucapnya.
“Oh boleh” ucapmu membalas senyuman dari iqbaal.

Mereka bertiga pun pulang sekolah bersama karna mereka bertiga tinggal di perumahan yang sama. Irfan berjalan di samping bella dan bella berada diantara Nita dan Irfan. Melihat itu, Nita sepertinya cemburu dengan bella.
“Bella, PR matematikamu, kamu udah kerjain?” ucap Irfan bertanya pada bella.
“Udah dong!” ucapnya.
“Wah, hebat kamu udah pinter, cantik lagi” ucap Irfan. Nita yang mendengarnya hanya diam.
“Hehe makasih baal! Nita, kalau kamu udah jadi?” bella mengarahkan pandangannya ke arah Nita. (nama kamu) tak menjawab.
“Mmm... Nita?” bella melambaikan tangan di depan wajah Nita
“Eh iya??” Nita sadar.
“Kok bengong sih?”
“Eee, ngga apa-apa. Oh iya, kamu tadi bilang apa?”
“PR matematikamu udah jadi?”
“Udah kok!”
“Yah, kayaknya sisa aku nih yang belum jadi” kata Irfan sambil menggaruk kepalanya.
“Haha...” Nita dan bella tertawa.
***
Terimakasih Atas Segalanya - Cerpen Sedih
Sore harinya, seperti biasa Nita pergi ke danau yang ada di belakang perumahan Dataran Indah tempat ia tinggal. Jika hatinya sedang bosan atau badmood, biasanya dia melihat keindahan sore hari di danau tersebut.
“Hanya ini yang bisa ku buat. Terus pasrah, pasrah dan pasrah. Tapi hati ini ngga tahan menerimanya. Aku tau Irfan suka sama bella. Iqbaal begitu jarang bicara sama aku. Yah, aku memang jelek. Ngga secantik bella. Aku ngga sempurna, sesempurna bella.” Ucap Nita sambil duduk memeluk lutut di pinggir danau sambil melihat langit sore.

Tiba-tiba, kepala Nita pusing, entah kenapa, kali ini sungguh terasa sakit. Nita akhirnya mencoba berdiri untuk pulang ke rumah walau langkahnya tak beraturan. Saat itu, Irfan dan bella lewat melihat Nita berjalan sambil memegang kepalanya. Akhirnya, mereka berdua menghampiri Nita.
“Nita, kamu kenapa?” Irfan memegang pundakmu. Begitu juga bella.
“Kamu sakit?” ucap bella.
“Pusing...” ucap Nita dan tiba-tiba, kamu pingsan. Bella dan Irfan terkejut sehingga membawa Nita ke rumah sakit. Orang tua Nita sedang bekerja di luar negeri.
***

Sesampainya di rumah sakit, kamu di periksa diruang periksa. Bella dan Irfan menunggu diluar. Dokter pun keluar dan iqbaal menghampiri dokter tersebut.

“Dok, Nita kenapa? Dia baik-baik saja kan?” ucap Irfan.
“Hmm... Nita terkena kanker otak. Kami perkirakan, hidupnya sampai akhir bulan ini.” Ucap dokter dengan wajah yang pasrah.
“Dok! Ngga mungkin Nita terkena penyakit kanker! Saat kami pulang sekolah, Nita baik-baik aja! Dokter jangan ngasal!” bella tak percaya.
“Saya tidak bohong, sudah lama Nita menderita kanker. Kami sudah periksa. Selama ini, mungkin Nita menyembunyikannya kepada kalian.”
“Kalau begitu, kami boleh masuk?” ucap Irfan.
“Silahkan.” Dokter mempersilahkan bella dan Irfan untuk masuk melihat Nita.

Di dalam ruangan, terlihat Nita dipasang alat inpus. Bella sahabat Nita melihat Nita dengan mengeluarkan air mata.

Nita, kamu harus kuat! Kamu bisa melawan penyakit ini! Aku disini” ucap bella memegang tangan Nita
“Sabar bel, Allah yang mengetahuinya...” Irfan megelus pundak bella.
“Baal, aku titip sahabatku ini. Besok, aku akan ke bandung untuk beberapa hari. Papa mamaku ada urusan. Aku ngga bisa tinggal sendiri di sini. Bibiku pulang kampung.”
“Yaudah bel.”
***

Irfan terus menjaga Nita sampai ia siuman. Hingga suatu hari, Irfan tidur meletakkan kepalanya sebelah tangan Nita dan duduk di kursi tepat di samping Nita. Tiba-tiba, Nita perlahan menggerakkan tangannya dan Nita mengelus kepala iqbaal. Irfan pun terbangun.
“Nita Alhamdulillah kamu udah sadar!” ucap Irfan memegang tangan Nita. (nama kamu) hanya tersenyum, ia ingin berbicara tapi mulutnya tak kuat mengeluarkan kata-kata. “Bella ngga ada. Bella lagi keluar kota sama mama papanya.” Ucap Irfan. “Oh iya, kamu makan dulu.” Irfan lalu mengambil bubur yang ada di meja. Irfan lalu menyuap Nita.

Dalam hati, Nita berkata. “Ya allah, Irfan begitu perhatian sama aku. Makasih ya allah, engkau telah membuka hati Irfan untuk menjagaku dan merawatku. Aku harap, penyakitku bisa sembuh dan bisa bersama dia lagi.” Sambil meneteskan air mata.
“Loh? Kok kamu nangis?” Irfan lalu mengusap air mata Nita. “Ngga usah nangis, jangan takut. Aku di sini. Penyakitmu itu akan hilang! Keep smile” ucap Irfan. Nita hanya tersenyum. Irfan melanjutkan untuk menyuap Nita.

Setelah makan, Nita pun tertidur karena kekenyangan. Irfan terus memandang Nita. Tiba-tiba, Irfan memegang tangan Nita dan mencium tangannya.
“Aku tau, selama ini kamu cemburu kan kalau aku deket sama bella. Dan kamu mengira kalau aku suka sama bella. Itu ngga bener Nita. Orang yang aku sayang itu kamu. Ngga mungkin aku selalu menjagamu di sini kalau aku ngga sayang sama kamu. Nanti kalau kamu sudah sembuh, aku mau nembak kamu di danau belakang perumahan” ucap nya sambil mengelus kepala Nita.
***

Tepat tanggal 30 September, dan itu tepat di hari ulang tahun Nita. Nita duduk di tepi danau bersama Irfan. Mereka berdua menikmati pemandangan sore hari di danau.

“Nita...” Irfan memanggilnya tapi matanya masih melihat langit sore.
“Ya?” Nita membalas panggilan dari Irfan.
“Kamu tau ngga, aku lagi bahagia banget! Sekarang, aku duduk di sini sambil menikmati indahnya langit sore dan di temani sama wanita yang aku sayangi.”
“Maksud kamu?” Nita lalu melihat Irfan dan mengerutkan alisnya
“Kamu ngga ngerti?” Irfan lalu memegang kedua tangan Nita, “Yang aku maksud itu dirimu. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu setelah ayah dan ibuku.” Ucapnya. Nita lalu meneteskan satu per satu air mata. Irfan lalu berkta, “Kamu mau kan, jadi pacar aku?”
“Aku mau Fan!” Nita memeluk Irfan erat. Irfan membalas pelukan Nita. Tapi, tiba-tiba saja wajah Nita pucat dan mengeluarkan darah dari hidungnya kemudian Nita pingsan di pelukan Irfan. Irfan yang panik membawa Nita ke rumah sakit.
***

Sesampainya dirumah sakit, Nita kembali di periksa. Saat dokter keluar dengan wajah sedih, iqbaal menghampiri dokter tersebut.

“Dok, Nita ngga kenapa-napa kan?!”
“Hmm... Sekarang tanggal berapa?”
“Tanggal 30 dok. Emang kenapa?”
“Tepat tanggal kelahirannya. Daann.....”
“Dan apa dok?! Katakan!”
“Dan... tepat juga waktunya Nita dijemput sama Allah...”
“Apa dok??!! Saya sama dia baru aja 15 menit pacaran sama dia dok. Ngga mungkin!!!”
“Saya sudah pernah bilang. Hidup Nita hanya sampai akhir bulan ini karena kankernya. Jadi maafkan saya.”

Irfan menangis tak karuan. Wanita yang dicintainya telah pergi. Padahal, Nita dan iqbaal resmi pacaran sejak 15 menit lalu. Akhirnya, Irfan kembali ke danau.
***

“Mengapa? Mengapa Nita? Kamu ninggalin aku? Kita baru pacaran sekitar 15 menit yang lalu. Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja? Kamu ngga sayang sama aku?” ucap Irfan duduk di tepi danau tepat saat ia nembak Nita.

Tiba-tiba, Irfan menemukan surat tepat ditempat Nita duduk tadi. Irfan lalu membuka surat itu dan membacanya.

“Maaf Fan. Tiba saatnya aku pergi. Maafkan aku. Ini semua sudah takdir. Aku sebenarnya ngga mau ninggalin kamu. Aku juga sayang sama kamu. Tapi, allah berkata lain. Kamu ngga pernah sendiri Fan, aku ada kok disetiap langkahmu. Aku selalu menemanimu setiap kamu pergi. Aku ngga bakalan membiarkanmu sendiri walau aku udah ngga ada disampingmu lagi. Walaupun kita udah pacaran 15 menit yang lalu, walau hanya sebentar, aku seneng Fan, aku seneng bisa jadi milikmu. Lebih baik, kita akhiri saja hubungan ini. Aku rela kok, kamu harus cari posisiku Fan. Jangan pernah menyerah! Di luar sana banyak wanita yang lebih baik dariku. Kamu pasti bisa! :)

Makasih atas segalanya. Kau adalah malaikat yang dikirimkan oleh allah untuk menemaniku disaat terakhirku. Aku seneng, nafas terakhirku ada di pelukanmu. Remember! I always I'm here! In your heart! I will not stop loving you even though I've been gone! I LOVE YOU!!” Irfan membaca surat ini sambil meneteskan air mata.

Irfan lalu melihat wanita bersayap di langit sore dengan memakai baju sampai lutut sambil melambaikan tangannya. Irfan tersenyum melihat wanita itu. “I love you” ucap wanita itu dan wanita itu lenyap begitu saja. “I love you, more.” Ucap Irfan.


http://www.lokerseni.web.id

0 komentar:

Posting Komentar