Kamis, 06 Februari 2014

Di Balik Tirai Jendela

Cerpen Karya Vinka Aprilla Patricia

Hujan baru saja berhenti, menyisakan ranting-ranting basah serta meninggalkan aroma tanah lembap yang khas.Malam masih jauh di pelupuk mata.Saat aku duduk mendekap lutut di lantai kamar.Tetesan air bening masih mengalir dari mataku.Bayangankujatuh pada kisah masa laluku, tiga tahun silam.

Hari itu adalah hari ulang tahunku, yang ke-12.Seperti biasa, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padaku.Pagi itu ayah memelukku hangat sambil mengecup keningku, di belakang Kak Aninda berdiri seraya membawa sebuah kue ulang tahun dengan dua buah lilin kecil di atasnya.
“Selamat ulang tahun, Sayang!” seru ayah dengan manis
“Terima kasih, Ayah!” balasku sambil memeluknya
Ya, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan kata “selamat” setiap kali aku berulang tahun, dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku menyayanginya melebihi apapun di dunia ini, semua hal yang kualami pasti ku bagi tahu pada ayah.
Dua hari sejak hari ulang tahunku, Kak Aninda memilih mengadu nasib ke Kalimantan, ajakan kawannya.Meninggalkan aku dan ayah berdua.

Di Balik Tirai Jendela - Cerpen Cinta Ibu
Kalau tentang seorang ibu, aku tak tahu harus bercerita darimana tentang ibu.Karena aku tak tahu siapa ibuku sebenarnya, dan tak pernah merasakan kasih seorang ibu, aku menganggap peran ibu tidak terlalu penting mengisi hidupku. Ayah dan Kak Aninda telah memberi kasih sayang padaku melebihi kata cukup. Mungkin, aku lebih senang menceritakan tentang Kak Aninda, daripada harus bicara panjang lebar mengenai sosok seorang ibu.

Kak Aninda, melihat wajahnya membuat hatiku selalu nyaman didekatnya. Mendengar suaranya, seakan mendengar lantunan lagu paling indah.Sebenarnya hubunganku dan Kak Aninda sangat dekat, dan aku sempat tak rela saat harus berpisah dengan Kakak.Apalagi hari ulang tahunku baru saja lewat.

Jika diperhatikan secara detail, sebenarnya Kak Aninda tidak mirip dengan ayah. Tapi setiap kali aku bertanya tentang ini pada ayah, ia selalu menjawab bahwa Kak Aninda mirip dengan ibu. Jadilah aku tahu sedikit tentang rupa ibuku.Dan, walaupun aku tak memiliki rasa sayang pada ibu yang melahirkanku, namun, rasa sayangku pada Kak Aninda yang menggambarkan sosok ibu sangat besar.
“Ayah, apakah aku bisa bertemu ibu?” tanyaku suatu waktu.Walaupun aku tak terlalu suka dengan ibu, tapi tetap saja rasa ingin mengenalnya lebih jauh, selalu ada dalam diriku.
“Ehm, hmm…Mungkin, mungkin suatu saat nanti kau akan bertemu ibumu” gelagapan ayah menjawab pertanyaanku
“Kenapa mungkin?” tanyaku
“Ya, karena Ayah tidak tahu kapan kamu akan bertemu ibumu. Jadi jawabannya mungkin” tuturnya lagi

Saat aku sedang berbincang dengan ayah, tiba-tiba telepon rumahku berbunyi.Dengan segera aku melangkah riang kearah meja telepon.
“Hallo, dengan Sonya di sini. Dengan siapa di sana?” celotehku riang
“Hallo, ahh untunglah kau yang menjawab teleponnya” ucap seseorang di seberang menjawab sapaanku
“Ahh… Tante Dian!” aku girang menyebut namanya
“Haha, Tante hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Maaf terlambat” tuturnya
“Terima kasih Tante. Takapa, yang penting Tante mau ngucapin selamat sama Sonya. Oh iya, Tante kapan main ke sini?”
“Hmm, kapan ya? Tante rasa bukan dalam waktu dekat, soalnya Tante sibuk di sini”
“Yahh… padahal sudah lama aku tidak bertemu Tante Dian” suaraku menyesal
“Nanti Tante usahakan.Ya sudah.Tante hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya!”
“Iya, dah Tante! Salam pada Om Irwan!” aku mengakhiri pembicaraan

Aku melangkah lagi menuju ayah yang tengah duduk sambil menonton televisi.
“Siapa?” Tanya ayah
“Tante Dian” jawabku. Ayah memalingkan wajahnya, seperti sedang berfikir, kemudian menatapku tajam.
“Ayah tidak suka kamu berhubungan dengan Tante Dian!” ucapnya kasar
“Ke, kenapa?” tanyaku kebingungan
“Kalau Ayah bilang tidak suka. Ya, tidak suka! Jangan tanya kenapa. Yang pasti Ayah tidak suka!”
“Tapi…..” aku menunduk. Ayah pergi dari ruangan televisi, meninggalkanku yang mulai mengisak.
Tante Dian adalah tetanggaku dulu,ia sering menjagaku ketika ayah pergi bekerja. Tapi sekitar setahun yang lalu, ia bersama suaminya pindah ke luar kota. Dari dulu hubungan Tante Dian dengan Ayah memang tidak terlalu baik, entah apa penyebabnya. Tapi, ayah pernah bilang, bahwa ia tidak suka pada Tante Dian karena takut kehilangan aku. Ya, hingga tahun ke-12 pernikahannya, Tante Dian belum dikaruniai anak, ini menyebabkan perhatiannya padaku terlampau banyak, dan ayah takut aku terbuai karenanya dan melupakan ayah.
Agak berlebihan memang, tapi aku cukup setuju dengan ayah.Aku tak mau terbuai karenanya, walaupun aku sudah terlampau dekat dengannya.
Seminggu setelah Tante Dian meneleponku, akhirnya dia berkunjung ke rumah.Ayah yang melihat kedatangannya segera masuk ke dalam kamar.Aku yang melihatnya hanya terdiam, dan mencoba menyambut tamuku dengan senang hati.

Setelah puas melepas rindu, ayah keluar dari kamar, membawa beberapa lembar kertas dan menghamburkannya ke hadapanku. Aku agak kaget melihat perlakuan ayah didepan tamu istimewaku.
“Apa ini, Yah?” tanyaku heran
“Ini surat nikah Ayah dengan Tante Dian” suaranya sedikit tersendat
“Surat nikah?Ayah dengan Tante Dian?!Maksudnya apa?”
“Dulu kami pernah menikah.Hanya sekitar tiga tahun.Lalu kami berpisah, karena Dokter telah memvonis Tante Dian tidak bisa memiliki keturunan.Dan, karena dia merasa bersalah, dia menyuruhku untuk menikahi adiknya, Aninda. Dan setelah itu, lahirlah kau” jelas ayah panjang lebar
“Apa? Jadi Ayah dan Tante Dian?!” aku tergagap

Tante Dian hanya mengangguk sambil tetap tertunduk
“Dan Kak Aninda? Dia adalah ibuku?Ibu kandungku?Bukan kakakku?”
“Iya, Aninda adalah ibu kandungmu, yang selama ini kau cari” sambung ayah lagi
“Kenapa kalian menutupinya dariku?” aku mulai menangis, air mataku tak tertahankan lagi
“Ayah menunggu waktu yang tepat, Nak. Dan Ayah kira, sekarang adalah saatnya.”

Ayah mencoba melapangkan pikiranku.
“Tapi…, ahh…” dengan derai air mata, aku berlari meninggalkan mereka semua.Kubanting pintu kamarku, ku jatuhkan diri diatas kasur.Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan semua duri menghujam jantungku.Sakit.Hanya itu yang bisa kurasakan.
Mengapa harus seperti ini kejadiannya?Dan mengapa harus aku yang mengalaminya?
Mengapa Tante Dian rela memberikan adiknya pada Ayah hanya untuk mendapat keturunan? Siapa yang salah? Ayah atau Tante Dian kah? Atau mungkin, Kak Aninda?Tidak-tidak, Kak Aninda jelas tidak bersalah.Mungkin aku, aku yang salah. Jika bukan demi mendapat keturunan, Ayah tak mungkin melakukan ini semua. Jelas sudah, aku yang salah.
Dengan mata sembap habis menangis, aku keluar dari kamar.Menatap dalam-dalam mata mereka yang hanya diam membisu.Tak terasa air mata itu jatuh lagi.Dan kini menggenang di mata orang-orang itu juga. Tante Dian berjalan mendekatiku, dan akhirnya memelukku hangat.

Kurasakan naluri seorang ibu begitu kuat dalam dirinya.
“Maaf” katanya lirih. Aku hanya mengalihkan wajah darinya
“Kami tak bermaksud…”
“Cukup, aku cukup mengetahuinya” tuturku
Aku tertunduk, berfikir sejenak. Ah, mungkin memang begini takdirku. Hidup ditengah keluarga yang terpaksa turun ranjang.

Dua tahun setelah kejadian itu, Ayah meninggal dunia. Ia memang sering sakit-sakitan melihat aku yang menjadi pendiam dan sering mengacuhkannya. Tante Dian dengan telaten mengurusiku.
“Sudahlah, Son. Jangan terlalu kau pikirkan semua ini, terima saja” ucap Tante Dian sambil memelukku yang tengah duduk mendekap lutut di lantai
“Bagaimana mungkin aku bisa menerimanya begitu saja?Aku tengah sakit, biarkan aku sendiri” ucapku pada perempuan yang dulu sangat kusayangi itu.
Di saat-saat seperti ini, aku sangat merindukan sosok Kak Aninda.Mungkin saat ini hanya dia yang bisa menenangkanku.
Malam kian larut, namun semua kenangan itu terus bergulir dalam benakku, silih berganti menjadi rangkaian sebuah film yang terus berputar.Air mata sesekali masih menetes membasahi pipiku, sampai sebuah suara ketukan halus mendarat di jendela kamarku, sangat lembut.Mungkin hampir tak terdengar. Aku beranjak mengintip di balik tirai jendela, dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang sangat kutunggu berdiri di balik jendela, Kak Aninda berdiri di sana sambil tersenyum.

Kupastikan keberadaannya, aku berlari keluar rumah, kupeluk perempuan yang telah hilang tiga tahun belakangan.Rasanya aku sangat rindu pada perempuan ini, ibu kandungku. Air mataku kembali tumpah, mengenang Ayah dan Kak Aninda.
“Maafkan Kakak, Son” ucapnya lirih
“Kenapa harus minta maaf, Bu?” tanyaku
“Bu?Kau memanggilku Ibu?”
“Aku tahu semuanya, Bu. Tak ada lagi yang perlu dirahasiakan”

Kembali ia memeluk diriku, sambil mencium kepalaku.
“Aku merindukanmu anakku, sangat.” Air matanya menetes mengaliri kepalaku hingga jatuh ke pipiku.
“Aku juga, Bu”
Akhirnya kutemukan siapa ibuku, perempuan yang sebenarnya sangat dekat denganku.Yang sempat hilang tiga tahun lamanya.Kutemukan dia di balik tirai jendela, tirai jendela kamarku.


http://www.lokerseni.web.id

0 komentar:

Posting Komentar