Kamis, 06 Februari 2014

Surat Untuk Ibu

Cerpen Karya Intan Irena Bias

Aku hanya ingin mentari tak lagi bersinar . Tuhan , aku lelah , aku menyesal! Tak seharusnya aku berlaku seperti itu . Ambil nyawaku Tuhan! Ambil! Biarkan aku bahagia bersama ibu di surga keindahanmu . Sudah banyak yang aku miliki , rumah mewah , perusahaan besar , istri yang sholehah bahkan anak-anak yang membanggakan . Tapi apalah arti semua itu Tuhan , jika harta terbesar dan terindahku telah lalai aku jaga . Restu ibu adalah segalanya . Aku ingin bersimpuh . Aku ingin memeluk rapat kaki ibu . Aku ingin menangis dan tidur dibuai mimpi di pangkuan ibu , Tuhan . Kenapa secepat ini ? Kenapa Tuhan ? Aku ingin membuat ibu bahagia , bangga ! Aku ingin Tuhan! Aku ingin! Terlalu egoiskah aku untuk meminta ibu kembali lagi bersamaku ? Aku hanya ingin membalas kasih sayang ibu dulu . Aku ingin membalas setiap tetes keringat ibuku. Andai aku bisa. Aku terlambat! Aku benar-benar terlambat. Maafkan aku ibu! Maaf!
“Bagas, ini keberapa kalinya ibu dipanggil ke BK?”Ucap ibu tanpa marah sedikitpun.
“Sudahlah bu tak usah terlalu berlebihan, pantas aja ibu dipanggil ke BK orang namanya juga anak laki-laki. Wajar saja bukan”Ucapku membela diri.
“Tak begitu juga Bagas!”Ucapnya seakan menyesal.
“Ohh, apa ibu kecewa telah melahirkanku?”Ucapku memandang tajam matanya.
“Kalau ibu kecewa , tak mungkin kamu jadi seperti sekarang ini Bagas”ucapnya dengan memandangku tak kalah tajam.
“Hahaha. Benar juga ya, ibu memang pintar”Ucapku tanpa ada rasa hormat sedikitpun.
“Kapan kamu sadar Gas? Ibu sudah tak lagi muda . kamu pun sudah besar. Ingat Gas 2 SMA . bukan usia kanak-kanak lagi. Kamu juga sudah harus berpikir dewasa”Kali ini ucapan ibu tak aku hiraukan. Aku berlalu.


“Mati pun ibu tak akan rela jika kamu masih seperti ini. Ya Allah beri hamba umur panjang . Hamba masih ingin melihat Bagas berubah”Doanya dalam hati.
 
Mentari pagi masih terlalu malu memamerkan kekuatan sinarnya. Aku pun juga malas untuk keluar kamar , masih ngantuk . Semalam habis bergadang hingga pukul dua , ada acara bola kesukaanku . Ajax vs Barcelona .
“Gas, bangun nak. Sholat shubuh”Ucap ibu lembut , tapi malah membuat aku geram .
“Aduh ibu! Ini masih jam empat . Aku ngantuk semalam tidur jam dua”Ucapku lantang dan masih memejamkan mata .
“Kamu harus bangun, kamu harus sholat Shubuh!”Ucapnya tak kalah lantang dariku .

Memang untuk urusan dengan Allah ibu selalu tegas . Tak ragu-ragu ia akan berteriak bila diperlukan .
“Ahh cerewet ! Aku ngantuk. Bangunkan aku jika sudah pukul enam”Aku tak menghiraukannya . Kubanting pintu kamar tanpa menghiraukan ibu . Aku tak peduli . Lagian semalam tidur jam dua . Dasar ibu tak pernah mengertikanku .
Ibu hanya menatap kosong pintu yang kubanting tadi . Ia beranjak untuk sholat Shubuh sendiri . Doanya begitu merdu , tak pernah ia lelah mendoakanku dan pastinya almarhum ayah . Namaku selalu ada di setiap doanya . “Ya Allah , kuatkanlah hamba dalam mendidik Bagas anak hamba . Kalau hamba lelah , siapa yang akan merawat Bagas nanti ? Beri hamba kekuatan Ya Allah . Hamba masih ingin melihat bagas berubah menjadi yang lebih baik . Kabulkan permohonan hamba . Amin Ya Robbal Alamin” Tangannya tengadah , matanya membias bagai jalan menuju tempat terkabulnya doa , mulutnya terus mengucap kalimat doa .

Kini mentari telah menjulang indah . Benar-benar sudah ada di atas jendela kamar . Ini menandakan sudah sangat siang . “Mampus! Kesiangan !” Ucapku kesal . Aku berlari ke kamar mandi . Segera mandi dan bergegas pergi ke sekolah .
“Bagas, sarapan dulu”Ucap ibu dengan membawa sepiring nasi goring kesukaanku . Aku tak menghiraukannya . Sebenarnya aku begitu lapar karena semalam aku tak makan apapun . karena terlanjur marah aku tak menghiraukan segala ucapan ibu walaupun dengan sepiring nasi goreng sekalipun .
“Kenapa ibu tak membangunkanku ? Apa ibu sengaja supaya aku terlambat dan kena marah guru? Ibu ini keterlaluan !”Ucapku melotot .
“Maaf nak, ibu dari pasar , ibu lupa kalau harus membangunkanmu jam enam”Ucapnya penuh kasih sayang yang tulus .
“Akhh! Dasar ibu! Terserah ibu mau bilang apa, aku tak perduli!”Ucapku lalu berlalu .
Sempat aku melirik ibu dia tertunduk di kursi tangan kesukaannya .

Sesampai di sekolah ternyata benar aku terlambat . Aku berlari tergesah-gesah melewati koridor sekolah . Sampai akhirnya aku bertabrakan dengan seorang perempuan berseragam beda denganku .
“Awww!” pekik perempuan yang kutabrak tadi .
“Kalau jalan liat-liat kali ! berantakan kan nih tugas. Mana udah terlambat makin terlambat gara-gara kamu!” omelku tanpa melihat wajahnya karna terlalu sibuk memunguti lembaran yang berserakan . Setelah aku memastikan semua lembaran itu lengkap , aku kembali berlari tanpa menghiraukan perempuan itu .

Sesampai di kelas ternyata Bu Yunita sudah duduk sempurna di kursinya .
“Maaf bu saya terlambat”
“Kamu selalu , selalu dan selalu terlambat ! Mau ibu kamu saya panggil ke sekolah lagi ?”
“Tidak bu, maaf .”Ucapku menunduk .
“Segera kamu duduk ! cepat !”Ucap galak Bu Yunita.
“Iya bu, terimakasih”Ucapku sedikit lega.
“Anak-anak tugasnya kalian kumpulkan di meja . ibu ke kantor dulu”Ucap Bu Yunita sembari melangkah menuju kantor yang tak jauh dari kelasku . Tak sadar aku melamunkan perempuan yang ku tabrak tadi , sedangkan yang lain sibuk mengumpulkan dan sebagian masih memindah jawaban lainnya . Sampai Bu Yunita sampai di kelaspun aku masih belum mengumpulkan tugas . Sampai akhirnya …….
“Bagggaaasss!”Panggilnya menyeramkan.
Aku tersentak .
“Iya bu!”Jawabku tak kalah kagetnya.
“Mana tugasmu ?” Badan tinggi besar dan rambut papak itu berjalan menghampiriku .

Aku baru sadar tugas itu masih rapi di mejaku .
“Iya bu, ini”Tanganku gemetar menyerahkan setumpuk tugas Bahasa Indonesia.
“dasar kamu itu”Matanya melotot seperti akan berubah menjadi zombie .
Setelah ia membalikkan badan dan berjalan menuju kursinya aku malah sibuk mengata-ngatainya habis-habisan . Saat ia sudah sempurna duduk di kursinya , dia memberitahukan sesuatu .
“Baik anak-anak hari ini ada teman baru untuk kalian , silahkan masuk”Ucapnya kemudian memalingkan kepala ke arah pintu

Semua mata berpaling ke arah pintu . Aku ? Tak tertarik sedikitpun . Saat orang dimaksud masuk, aku terdiam “Hah? Perempuan tadi? Dia anak baru? Pantas seragamnya berbeda denganku”Celotehku dalam hati . Saat dia sudah berada tepat di depan kelas , dia memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Bias Aulia. Semoga saya diterima baik di kelas ini” Ucapannya begitu lembut, selembut parasnya . Kerudung yang dipakainya menambah kesan manis.
“Silahkan duduk Bias di sebelah Bagas” Ucap Bu Yunita .
“Hah gilak? Dia duduk di sebelah aku? Hari baik buat aku. Makasih Tuhan” Ucapku dalam hati .
“Terimakasih bu”Ucapnya lembut.

Sekarang dia sudah duduk sempurna di sebelahku .
“Hey, aku Bagas”Sapaku.
“Hey, aku Bias Aul” Jawabnya.
“Maaf masalah tadi”
“Masalah apa?”
“Itu yang waktu aku nabrak kamu di koridor tadi”
“Ohh itu. Iya-iya gak papa”
“Panggilnya apa nih?”
“Hmm, Yash aja. Kalo kamu?”
“Bagas aja deh”
“Jangan Bagas”Ucapnya megkerutkan alis.
“Lalu?”
“Mutun aja”
“Hah Mutun? Apaan itu?”
“Muka Kartun”Dia cekikikan.
“Hmm. Iyadeh gak papa”
Memang, aku tak punya terlalu banyak teman di sekolah ini . Ada dua kemungkinan, yang pertama karena terlalu nakalnya aku dan yang kedua teman di sekolah ini tak sesuai dengan keinginanku. Semenjak ada Bias aku sedikit lebih menjadi baik. Tak nakal dan tepatnya selalu mengumpulkan tugas . Banyak perubahan drastis pada diriku . Bias banyak cerita tentang keluarganya . Menyenangkan sekali tentang berbagai kisahnya. Andai itu terjadi padaku dan ibu . Sebenarnya lebih indah kisahku dan ibu tapi aku terlalu angkuh . Biarlah.

Hingga suatu hari Bias ingin agar aku mengajaknya ke rumah. Baik aku mengiyakan ajakannya . Pada hari yang ditentukan aku menjemputnya di rumahnya . Oh ya setahun terakhir perusahaan ayahku bisa bangkit lagi berkat kerja keras ibu. Sekarang kebutuhanku lebih tercukupi . Bahkan ibu pun jarang sekali di rumah karena sibuk mengurus kantor . Aku pun sekarang juga sudah lebih (sedikit) menghargai sosok ibu.
“Yaash”Panggilku saat aku melihat sosoknya ke luar dari gerbang.
“hey Tun”Timpalnya.
“Yuuk”
“Ayukk”

Sesampai di rumah , ibu membukakan pintu untuk kami. Memang sejak kecil aku tak terbiasa mencium tangan ibu entah itu pergi ataupun pulang . Itu membuat Bias heran. Malah dia mencium tangan ibu yang bisa dibilang bukan siapa-siapanya . Aku tak menghiraukannya . Aku segera duduk di sofa dan melempar tasku tak beraturan. Bias hanya melihatku heran. “Bu, ambilkan aku minum! Aku sangat haus. Oh ya ibu tak ke kantor tumben?”Ucapku seperti berbincang dengan temanku sendiri . Saat ibu pergi ke dapur , Bias menegurku .
“Tun, kamu kok gitu sih sama ibu kamu kayak sama temen kamu?”
“Emang kenapa Yash?”
“Yaa kamu gak sopan banget sma ibu kamu”
“Halah orang ibu juga mau kok”
“Kamu bisa kan ngambil air sendiri gak perlu nyuruh juga”
“Ibu itu kuat, masih muda, dia itu berbakti sama anaknya karna emang aku ini anak satu-satunya”
“Orang itu gak selamanya sehat! Kamu harus jaga-jaga”
“Aku yakin ibu pasti akan sehat! Orang baru umu empat tiga kok. Muda banget kan”
“Suatu saat nanti kamu pasti ngerti apa maksud omongan aku”

Tiga tahun berlalu . Aku sudah bekerja meneruskan perusahaan ibu . Bias? Aku tak tau keberadaannya sekarang. Sesekali aku memikirkannya. Entah dia. Suatu hari saat di kantor , Bi Minah menelfonku dan memberitahukan kalau ibu masuk rumah sakit . Aku kaget dan awalnya tak percaya. Akhirnya aku memutuskan untuk memastikan berita itu dengan mendatangi langsung rumah sakit dimana ibu dirawat .
“Pak Bagas”Sapa dokter.
“Iya dok. Bagaimana keadaan ibu?”
“Emm, ibu anda terkena”
“Terkena apa dok? Jangan aneh-aneh”
“Ibu anda terkena Kanker Otak Stadium IV”
Itu mustahil! Ibu yang selalu terlihat kuat dan tegar terkena Kanker Otak Stadium IV . Itu sungguh tak mungkin! Bagai terhempas. Aku begitu lemas. Aku tertunduk lesu di kursi tunggu. Aku terus memandangi tubuh lemas ibu dari kaca Ruang ICU . Aku masih tak percaya. Empat jam berlalu . Dokter bilang kondisi ibu semakin drop . Hingga akhirnya ibu meninggal dunia . Tak pernah aku merasakan seperti ini . Aku begitu kehilangan sosok ibu yang selalu aku sia-siakan.

Satu tahun berlalu aku bertemu lagi dengan Bias di sebuah café di daerah Kemang.
“Bagas? Mutun?”Ucapnya seakan tak percaya.
“Bias? Yaa ampun gak nyangka kita bisa ketemu lagi”
“Iya Tun”
Dua bulan berlalu semenjak pertemuan kami di café . Aku mantap untuk melamar Bias . Dan itu terlaksana . Pernikahan mewah tanpa sosok ibu. Aku kembali teringat sosok ibu. Semua hal yang dilakukan ibu seakan di copy paste oleh Bias . Kini aku telah bahagia . Tapi hatiku sakit. Bahkan benar-benar sakit . Aku tak pernah membahagiakan ibu.Aku selalu mengecewakannya. Andai waktu itu dapat terulang , air mata jatuh tak beraturan .Nafasku sesak . Memori tentang ibu seakan brutal menyerang pikiranku . “Tuhan, sampaikan suratku ini untuk ibu”

Surat untuk Ibu
Ibu, kasihmu tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Kasihmu tak akan putus walaupun kini kita telah berbeda dunia. Ibu segala perkataanmu kini benar-benar terjadi . Segala apapun yang kau katakan benar-benar aku rasakan saat ini . Ibu aku hanya ingin Ibu tau . Aku kini menyesal ! Benar-benar menyesal ! Andai aku punya mesin waktu aku ingin kembali ke masa itu. Biarlah waktu yang tau bahwa penyesalan ini tak akan berujung . Aku sayang ibu . Salam untuk ayah. Aku juga begitu menyayanginya .

Dari yang menyesal


http://www.lokerseni.web.id

0 komentar:

Posting Komentar