Aku memandangi wajah lelap Ray. Masih
sama seperti biasanya, dia indah. Sangat indah. Hari ini, dia pulang lebih dulu
dari pada aku, tanpa memberi tahu. Ada hal yang luar biasa indah di dalam
dirinya-sekalipun ia sedang terlelap, yang mampu menghilangkan berjuta-jutapun
rasa lelahku. Aku selalu tahu dan dia pun selalu meyakinkanku bahwa dia adalah
sebaik-baiknya tempat aku selalu pulang dan kembali ketika harus pergi.
Sabtu, 27 Desember 2014
Sabtu, 20 Desember 2014
remang bayang wayang pada layang-layang, gawang, dan bawang
langit tak pernah sebegini terang
mimpi tak pernah sebegini membunuh awang-awang
kamu pun hilang
mimpi tak pernah sebegini membunuh awang-awang
kamu pun hilang
Sabtu, 13 Desember 2014
Bukankah memang teka-teki dirancang untuk tak memiliki jawaban pasti?
Buat N,
Disuatu
tempat yang entah dimana
Selamat
pagi, selamat sore, atau selamat malam, N, aku taktahu kapan kamu akan membaca
surat yang bahkan tak pernah bisa kukirimkan ke alamat rumahmu yang jelas dan
begitu rinci. Atau barangkali ini memang bukan surat, ini hanya memoar, atau
mungkin hanya sebatas pembicaraan tentang kamu antara aku dan diriku sendiri
atau mungkin aku tak akan pernah tahu bisa disebut apakah hal yang seperti ini.
Kamis, 04 September 2014
dan, memang benar, aku...
Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana
Disuatu tempat yang entah dimana
Jumat, 22 Agustus 2014
Tanpa Syarat
"For the two of us, home isn't a place. It is a person. And we are finally home."
Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana
Selasa, 24 Juni 2014
Haruskah Kerelaan Ini Kulahirkan Paksa, N? (9)
Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana
Selamat
dini hari, N. Bagaimana kamu? Bagaimana hari-harimu? Masih berbahagia seperti
biasanya kah? Aku senang melihatmu begitu. Aku menikmati setiap senyum yang kau
lepas. Kamu indah, N. Terlebih saat kamu tertawa lepas. Betapa tidak, aku sudah
lama jatuh cinta dengan gaya tertawamu yang selalu membuat orang lain ikut
tertawa, termasuk aku. Kamu tahu? Aku selalu menyisipkan sebuah rindu dalam
tatapanku yang diam-diam sering kuluncurkan padamu, tanpa ada yang tahu.
Senin, 23 Juni 2014
Empat Belas (8)
Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana
Selamat
siang berbaur sore, N. Tepat ketika aku mulai menuliskan ini, waktu di layar
ponselku menampilkan angka 14:14. Kamu pasti sudah tahu bagaimana pendapatku
tentang angka empat belas. Aku pernah memberitahu kamu soal ini, kan?
Rabu, 18 Juni 2014
Mati Suri (7)
Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana
(sebenarnya,
surat ini kutulis selang empatpuluh hari setelah aku menulis surat ke enam
untukmu)
Lama tak menuliskanmu, pena-pena
berkarat. Kata terhenti pada bait pertama.
Tertulis;
Aku tak bisa melupakanmu.
Senin, 16 Juni 2014
Dalam Kamu, Kutemukan Candu Baru (6)
Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana
N.. apakah kamu percaya bawa
bahagia –yang bukan sandiwara- itu benar-benar ada? Apa ada yang salah dari
caraku berpura-pura bahagia di depanmu selama ini? Katamu, aku ini sudah
terlampau bahagia dengan jalan pilihanku. Tapi dugaanmu selama ini salah, N.
Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika aku masih tak bisa melepaskan diri dari
masa yang bernama lalu, yang di dalamnya ada kamu?
Dimana Aku Bisa Belajar Berbahagia, N? (5)
Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana
Apa
kabar, N? Rasanya sudah beberapa hari ini kamu tidak meninggalkan jejak di
media sosial milikmu. Semuanya sepi. Meskipun jika kamu ada, tidak pernah
membuatku berani mengajak kamu berbicara duluan, jika memang tidak ada satu hal
penting yang perlu kita bicarakan; setidaknya dari situ aku bisa tahu bahwa
kamu ada dan akan baik-baik saja.
Minggu, 15 Juni 2014
Kita Sama yang Berbeda (4)
Buat N
Di suatu tempat yang entah dimana
Ini surat keempat yang kutulis
untukmu. Sebenarnya, sudah lama aku ingin menulis surat khusus yang berisi
tentang kamu.
Tunggu dulu….
Jika biasanya surat diberi perangko,
dimasukkan kedalam amplop, lalu dikirim kepada alamat yang jelas; surat yang
kubuat kali ini berbeda, N. Surat yang tak butuh perangko, tapi butuh rindu.
Surat yang tak perlu dimasukkan ke dalam amplop, tapi akan dibiarkan usang tanpa
perlu tahu siapa yang akan jadi penerimanya. Surat yang harusnya dikirim ke
alamat yang jelas, tapi tak akan pernah ku lakukan, karena aku tidak pernah
tahu dimana alamat persis hati mu saat ini. Iya surat ini bukan untuk kamu. Tapi
surat ini kubuat untuk hatimu, N.
Apakah Ini Isyarat, N? (3)
Untuk N
Di suatu tempat yang entah dimana
“Aku hanya memintamu untuk
bersabar…”
Ternyata
memang benar, menunggu dengan tabah tidak semudah yang kaukatakan, N.
Terbakar Bukan Berarti Jadi Abu (2)
Buat N
Disuatu tempat yang entah
dimana
Hai, N.
Menurutmu, bagimana rasanya jatuh cinta? Apakah kaupikir rasanya akan semenyenangkan
yang ada di film-film? Apakah kamu pernah merasakan? Kamu tahu, N? Aku sedang
merasakannya sekarang. Kepada seseorang yang sama sepertimu. Iya. Kamu.
Aku memang tak berhak berharap banyak tentang reaksimu. Bahkan, aku tak pernah tau apakah perasaanmu
sama dengan apa yang aku rasakan.
Hujan Punya Rahasia (1)
Teruntuk N
Disuatu tempat yang entah
dimana
“Aku tidak sedang menanti, aku tengah
melangkah untuk menjemput. Maka ku tinggikan segala upaya dan kesabaran. Semoga
dihadiahi keindahan.”
Pertama-tama,
N. Aku ingin bercerita bagaimana aku bisa menaruh perasaan juga harapan kepada
kamu. Aku ingin membuka (lagi) ingatan tentang hujan-yang menjadi kenangan-.
Mungkin benar, ini tentang kamu dan aku yang belum sempat menjadi kita.
Sabtu, 08 Februari 2014
Surat Rindu untuk Bahagia
Selamat
pagi, Bahagia..
Bagaimana
keadaanmu setelah kaubertemu haru? Apakah sekarang kautelah benar-benar menjadi
bahagia?
Kauboleh
membenci Rindu, Bahagia. Bukankah tak ada yang salah dalam hal membenci
seseorang?
Aku tahu,
sejak kautahu kalau Rindu menaruh haranya pada Haru-mu, kamu tak pernah mau
mendengarkan kata-kata R-I-N-D-U lagi. Iya. Aku tahu bahwa kamu tak ingin membagi
Haru-mu dengan Rindu. Mana ada seseorang bisa benar-benar bahagia jika melihat
orang yang dikagumi memiliki tawa lain, selain dirinya ?
Apakah
kauberfikir bahwa Rindu hanya bisa mengagumi sesuatu; yang kaumiliki ? Bahwa
Rindu hanya bisa mengangumi Haru-mu saja ?
Andai saja
kaumau membuka sedikit saja pintu kepekaanmu, maka kauakan segera melihat yang
sebenarnya harus kaulihat..
Rindu Bertuan
WHAT DOES IT TAKE
TO FIND A LOST LOVE ? destiny.
Someday, I will be
a beautiful butterfly (for you) and everything will be better.
Hitam. Aku selalu
menyebut malam seperti itu. Disana masih ada alasanku untuk terus mencari
rindumu. Mencari kepingan puzzle yang hilang dari hidupku selama ini. Mencari
sosok yang akan terus membangkitkan aku dari semua masalah yang akan datang.
Iya. Semuanya memang terlihat bermasalah. Tapi semenjak kamu hadir disini;
disampingku, aku masih ingin terus berjalan, aku tak mau berhenti dulu. Dan aku
masih ingin berjuang. Untuk kamu. Iya. Aku akan terus berjalan, bersama mu.
Berbicara soal
rindu.
Sudah lama aku
menjadi pecandu rindu seseorang yang tergolong keras kepala, namun entah karena
apa dia mampu menguasai semesta perotasianku. Sosok yang masih tergolong
‘dingin’, tapi entah dengan alas an yang seperti apa dia bisa merenggut seluruh
perhatianku dalam sekejap. Iya. Kamu.
Kamis, 06 Februari 2014
Mutiara Kata
Beberapa Mutiara Kata Karya Kahlil Gibran"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)
"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)
"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)
"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)
Rinduku ke Surga
Begitulah kesudahannya; aku hanya
sempat mengenali lelaki itu lima tahun lapan bulan. Aku tahu dia telah pergi.
Linangan air mata ibu yang menuruni cerun pipinya yang putih dan gebu ketika
bersimpuh di sebelah sesusuk tubuh yang terbujur kaku berbalut kain kapan cukup
untuk menggambarkan kedukaannya.
Kancapuri rumahku seolah-olah sebuah perkuburan sepi. Aku yang duduk di ribanya didakap erat. Entah berapa kali ibu mendaratkan bibirnya ke dahi, pipi dan ubun-ubunku. Antara dengar atau tidak, berulang kali ibu berbisik ke telingaku, “Abah Firdaus telah pergi … Abah Firdaus telah pergi.”
Kancapuri rumahku seolah-olah sebuah perkuburan sepi. Aku yang duduk di ribanya didakap erat. Entah berapa kali ibu mendaratkan bibirnya ke dahi, pipi dan ubun-ubunku. Antara dengar atau tidak, berulang kali ibu berbisik ke telingaku, “Abah Firdaus telah pergi … Abah Firdaus telah pergi.”
Saat sekujur tubuh abah diangkat
pergi oleh beberapa orang penduduk kariah dan dimasukkan ke dalam van jenazah
berwarna putih, ibu rebah - beberapa kali ibu rebah. Mujur sempat disambut oleh
beberapa orang penduduk kariah wanita.
Aku
membuntuti van jenazah yang membawa tubuh kaku ayah hingga ke tanah perkuburan
– malah aku turut berdiri betul-betul di bibir lubang kuburnya.
Tubuh abah disambut oleh penggali kubur lalu dibaringkan di liang lahad. Sebaik sahaja keranda menutupi jasadnya dan dikambus dengan tanah oleh para penggali kubur, air mataku tiba-tiba berlinangan. Baharu aku tahu ertinya mati.
Tubuh abah disambut oleh penggali kubur lalu dibaringkan di liang lahad. Sebaik sahaja keranda menutupi jasadnya dan dikambus dengan tanah oleh para penggali kubur, air mataku tiba-tiba berlinangan. Baharu aku tahu ertinya mati.
Kotak Kecil
Cerpen Karya Akto Misriadi
Entah ada apa dengan malam ini, mataku terus berdenyut-denyut disebelah kiri, mataku tidak tertutup ditengah larut malam, lamunanku tidak menentu apa yang aku bicarakan, jantungku pun berdetak lebih cepat dari darah ku mengalir lebih deras, aku seperti sedang diatas awan yang melambung-lambung terbawa angin.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi dimalam itu , setelah aku ikuti kata hatiku ternyata aku teringat seseorang yang jauh nan disana, jauh dari kelopak mata dialah bayu, seseorang yang pernah singgah dihatiku dan telah pergi seperti debu diatas telapak tangan yang terhembus angin lalu terbang tidak tentu arah dan tidak tahu kemana arah itu.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi dimalam itu , setelah aku ikuti kata hatiku ternyata aku teringat seseorang yang jauh nan disana, jauh dari kelopak mata dialah bayu, seseorang yang pernah singgah dihatiku dan telah pergi seperti debu diatas telapak tangan yang terhembus angin lalu terbang tidak tentu arah dan tidak tahu kemana arah itu.
![]() |
Cinta Tak Bertuan
Sepanjang hidup, kita seolah tak berhenti berusaha menaklukkan cinta. Cinta harus satu, cinta tak boleh dua, cinta maksimal empat, dan seterusnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Dan kita tak putus merumuskan cinta, padahal mungkin saja cinta yang merumuskan kita semua. Infinit merangkul yang finit. Hidup berpasangan katanya sesuai dengan alam, seperti buaya yang hidup monogami tapi ironisnya malah menjadi ikon ketidaksetiaan.
Namun terkadang kita melihat seekor jantan mengasuh sekian banyak betina sekaligus, berparade seperti rombongan sirkus. Dan itu pun ada di alam. Lalu ke mana manusia harus bercermin? Sebagaimana semua terpecah menjadi dua kutub dalam alam dualitas ini, terpecahlah mereka yang percaya cinta multipel pastilah sakit dan khianat dengan mereka yang percaya cinta bisa dibagi selama bijak dan bajik. Yang satu bicara hukum publik dan nurani, yang satu bicara hukum agama dan kisah hidup orang besar. Yang satu mengusung komisi anti itu-ini, yang satu menghadiahi piala poligami.
Jawaban Terakhir
Cerpen Karya Akhmad Gufron Wahid
Sehari menjelang Ramadhan.
Gemuruh asap cerobong kereta menguap. Roda-rodanya menari-nari anggun di atas garis besi panjang melintang itu. Dengan gagahnya, sang masinis tersenyum simpul ketika baru saja kereta yang dipandunya mengarungi terowongan gelap di dalam perut gunung Argopuro nan indah berundak-undak.
Sehari menjelang Ramadhan.
Gemuruh asap cerobong kereta menguap. Roda-rodanya menari-nari anggun di atas garis besi panjang melintang itu. Dengan gagahnya, sang masinis tersenyum simpul ketika baru saja kereta yang dipandunya mengarungi terowongan gelap di dalam perut gunung Argopuro nan indah berundak-undak.
Detik itu, kereta yang kutumpangi membelah area persawahan hijau yang terhampar luas membentang. Aku tersenyum kecil, telah lebih dari tiga tahun aku tak pernah lagi mendapati pemandangan seperti ini, setelah sebelumnya Iraq merenggutku, merenggut ketidakmampuanku untuk menjadi manusia berpendidikan. Teringat betul ketika dulu aku diwanti-wanti Abah untuk menerima program beasiswa kuliah di negeri Syiah itu. Tapi entah mengapa aku menggelengkan kepala, tak setuju dengan semua itu. Tak lain karena aku tak ingin berjarak jauh dari Abah dan Umi yang semakin lama semakin menua saja. Alasan itu semakin diperkuat dengan diriku yang menjadi anak semata wayang beliau berdua. Hati kecilku menggertakku untuk tak jauh dari Abah dan Umi ketika usia mereka menua seperti saat itu.
Di Balik Tirai Jendela
Cerpen Karya Vinka Aprilla Patricia
Hujan baru saja berhenti, menyisakan ranting-ranting basah serta meninggalkan aroma tanah lembap yang khas.Malam masih jauh di pelupuk mata.Saat aku duduk mendekap lutut di lantai kamar.Tetesan air bening masih mengalir dari mataku.Bayangankujatuh pada kisah masa laluku, tiga tahun silam.
Hari itu adalah hari ulang tahunku, yang ke-12.Seperti biasa, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padaku.Pagi itu ayah memelukku hangat sambil mengecup keningku, di belakang Kak Aninda berdiri seraya membawa sebuah kue ulang tahun dengan dua buah lilin kecil di atasnya.
“Selamat ulang tahun, Sayang!” seru ayah dengan manis
“Terima kasih, Ayah!” balasku sambil memeluknya
Ya, ayah selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan kata “selamat” setiap kali aku berulang tahun, dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku menyayanginya melebihi apapun di dunia ini, semua hal yang kualami pasti ku bagi tahu pada ayah.
Dua hari sejak hari ulang tahunku, Kak Aninda memilih mengadu nasib ke Kalimantan, ajakan kawannya.Meninggalkan aku dan ayah berdua.
Surat Untuk Ibu
Cerpen Karya Intan Irena Bias
Aku hanya ingin mentari tak lagi bersinar . Tuhan , aku lelah , aku menyesal! Tak seharusnya aku berlaku seperti itu . Ambil nyawaku Tuhan! Ambil! Biarkan aku bahagia bersama ibu di surga keindahanmu . Sudah banyak yang aku miliki , rumah mewah , perusahaan besar , istri yang sholehah bahkan anak-anak yang membanggakan . Tapi apalah arti semua itu Tuhan , jika harta terbesar dan terindahku telah lalai aku jaga . Restu ibu adalah segalanya . Aku ingin bersimpuh . Aku ingin memeluk rapat kaki ibu . Aku ingin menangis dan tidur dibuai mimpi di pangkuan ibu , Tuhan . Kenapa secepat ini ? Kenapa Tuhan ? Aku ingin membuat ibu bahagia , bangga ! Aku ingin Tuhan! Aku ingin! Terlalu egoiskah aku untuk meminta ibu kembali lagi bersamaku ? Aku hanya ingin membalas kasih sayang ibu dulu . Aku ingin membalas setiap tetes keringat ibuku. Andai aku bisa. Aku terlambat! Aku benar-benar terlambat. Maafkan aku ibu! Maaf!
Aku hanya ingin mentari tak lagi bersinar . Tuhan , aku lelah , aku menyesal! Tak seharusnya aku berlaku seperti itu . Ambil nyawaku Tuhan! Ambil! Biarkan aku bahagia bersama ibu di surga keindahanmu . Sudah banyak yang aku miliki , rumah mewah , perusahaan besar , istri yang sholehah bahkan anak-anak yang membanggakan . Tapi apalah arti semua itu Tuhan , jika harta terbesar dan terindahku telah lalai aku jaga . Restu ibu adalah segalanya . Aku ingin bersimpuh . Aku ingin memeluk rapat kaki ibu . Aku ingin menangis dan tidur dibuai mimpi di pangkuan ibu , Tuhan . Kenapa secepat ini ? Kenapa Tuhan ? Aku ingin membuat ibu bahagia , bangga ! Aku ingin Tuhan! Aku ingin! Terlalu egoiskah aku untuk meminta ibu kembali lagi bersamaku ? Aku hanya ingin membalas kasih sayang ibu dulu . Aku ingin membalas setiap tetes keringat ibuku. Andai aku bisa. Aku terlambat! Aku benar-benar terlambat. Maafkan aku ibu! Maaf!
Takdir di dalam Takbir
Hidup bukan pilihan. Pilihan-pilihan hanyalah anak-anak tangga sebuah proses dalam hidup. Hidup yang memilih kita. Bukan sebaliknya. Dan setelah itu, perjuangkanlah apapun peranmu. Itu yang benar. Kita tak pernah bisa memilih hidup kita sendiri. Jangankan hidup, lahir di rahim wanita manapun saja kita tak pernah bisa memilih. Tak boleh. Kita ditentukan. Ditakdirkan Tuhan. Tapi kalau pun kita mengeluh dengan yang kita dapatkan, itu juga tak sepenuhnya salah. Tapi ingat, siapa yang akan membela kita kalau kita mengeluh dan mempertanyakan keadilan yang seperti itu? Tidak ada, bukan? Tak seorang pun, tentu. Karena memang tak perlu.
1 Hari untuk 1000 Kebahagiaan
Cerpen Karya Endah Rohmaniyah Safitri
Panas matahari siang ini sebenarnya bisa membuat cucian basah di jemuran menjadi kering dalam sekejap, tapi Pak Arnold tetap tak mau memberi keringanan hukuman padaku dan kedua sahabatku.
“Shannon Grayce!! Tetap berdiri disitu. Jangan manja!” Sahut Pak Arnold ketika aku mencoba bertukar posisi dengan Helen untuk menghindari sengatan matahari.
“Tapi pak, kita capek berdiri disini. Matahari sudah diatas kepala. Nanti kalau kulit kami gosong gimana? Memang bapak bisa membayar perawatan kami di salon mahal?” Sahutku
“SHANNON !! Hukuman kamu bertambah sampai jam pulang sekolah selesai, setelah itu bersihkan kamar mandi dekat perpustakaan. Jangan membantah lagi atau orang tuamu saya panggil menghadap guru BK.” Balas Pak Arnold dengan nada meninggi
Panas matahari siang ini sebenarnya bisa membuat cucian basah di jemuran menjadi kering dalam sekejap, tapi Pak Arnold tetap tak mau memberi keringanan hukuman padaku dan kedua sahabatku.
“Shannon Grayce!! Tetap berdiri disitu. Jangan manja!” Sahut Pak Arnold ketika aku mencoba bertukar posisi dengan Helen untuk menghindari sengatan matahari.
“Tapi pak, kita capek berdiri disini. Matahari sudah diatas kepala. Nanti kalau kulit kami gosong gimana? Memang bapak bisa membayar perawatan kami di salon mahal?” Sahutku
“SHANNON !! Hukuman kamu bertambah sampai jam pulang sekolah selesai, setelah itu bersihkan kamar mandi dekat perpustakaan. Jangan membantah lagi atau orang tuamu saya panggil menghadap guru BK.” Balas Pak Arnold dengan nada meninggi
Dua jam kemudian bel pulang sekolah berbunyi, kakiku serasa mati. Tapi hukuman ini masih harus ditambah lagi membersihkan kamar mandi dengan bau dan pemandangan mengerikan didepan mataku. Pak Arnold memang keterlaluan, kuku dan kulitku bisa rusak seketika setelah menjalankan hukuman itu. Helen dan Stef malah asyik nongkrong di kantin. Mereka tidak akan mau membantuku, mereka tidak akan rela perawatan mahalnya dirusak dengan “polusi kamar mandi”.
Terimakasih Atas Segalanya
Cerpen Karya Farhadina Rahman
“Heiii!!!” teriak seorang wanita yang cantik dengan rambut hitam panjang, Bella. “Tunggu!!” ucapnya berlari menghampiri seseorang, ya dialah Nita.
“Eh..” Nita berhenti berjalan.
“Pulang bareng yuk!” ucap bella menepuk pundak Nita.
“Ohh.. Yaudah yuk!” saat kalian berdua ingin berjalan, seorang lelaki tampan meghampiri kalian berdua, Irfan.
“Aku ikut” ucapnya.
“Oh boleh” ucapmu membalas senyuman dari iqbaal.
Mereka bertiga pun pulang sekolah bersama karna mereka bertiga tinggal di perumahan yang sama. Irfan berjalan di samping bella dan bella berada diantara Nita dan Irfan. Melihat itu, Nita sepertinya cemburu dengan bella.
“Bella, PR matematikamu, kamu udah kerjain?” ucap Irfan bertanya pada bella.
“Udah dong!” ucapnya.
“Wah, hebat kamu udah pinter, cantik lagi” ucap Irfan. Nita yang mendengarnya hanya diam.
“Hehe makasih baal! Nita, kalau kamu udah jadi?” bella mengarahkan pandangannya ke arah Nita. (nama kamu) tak menjawab.
“Mmm... Nita?” bella melambaikan tangan di depan wajah Nita
“Eh iya??” Nita sadar.
“Kok bengong sih?”
“Eee, ngga apa-apa. Oh iya, kamu tadi bilang apa?”
“PR matematikamu udah jadi?”
“Udah kok!”
“Yah, kayaknya sisa aku nih yang belum jadi” kata Irfan sambil menggaruk kepalanya.
“Haha...” Nita dan bella tertawa.
***
“Eh..” Nita berhenti berjalan.
“Pulang bareng yuk!” ucap bella menepuk pundak Nita.
“Ohh.. Yaudah yuk!” saat kalian berdua ingin berjalan, seorang lelaki tampan meghampiri kalian berdua, Irfan.
“Aku ikut” ucapnya.
“Oh boleh” ucapmu membalas senyuman dari iqbaal.
Mereka bertiga pun pulang sekolah bersama karna mereka bertiga tinggal di perumahan yang sama. Irfan berjalan di samping bella dan bella berada diantara Nita dan Irfan. Melihat itu, Nita sepertinya cemburu dengan bella.
“Bella, PR matematikamu, kamu udah kerjain?” ucap Irfan bertanya pada bella.
“Udah dong!” ucapnya.
“Wah, hebat kamu udah pinter, cantik lagi” ucap Irfan. Nita yang mendengarnya hanya diam.
“Hehe makasih baal! Nita, kalau kamu udah jadi?” bella mengarahkan pandangannya ke arah Nita. (nama kamu) tak menjawab.
“Mmm... Nita?” bella melambaikan tangan di depan wajah Nita
“Eh iya??” Nita sadar.
“Kok bengong sih?”
“Eee, ngga apa-apa. Oh iya, kamu tadi bilang apa?”
“PR matematikamu udah jadi?”
“Udah kok!”
“Yah, kayaknya sisa aku nih yang belum jadi” kata Irfan sambil menggaruk kepalanya.
“Haha...” Nita dan bella tertawa.
***
Demi Sebuah Janji dalam Perjalanan
Cerpen Karya Miftachur Rosyad
“Hujanitu berkah,Hujan itu anugerah,Hujan itu kehidupan….”(mr)
“Tidurlahjika kau yakin bahwa di atas bantal terdapat mimpi-mimpi tentang kemajuan,Tapijika tidak,bangkitlah … dan lakukan sesuatu “(adz-mr)
“ Nanti kujemput,di mana?di tempat biasasaja,itulah janjiku pada seseorang yang kukagumi,”Sore itu aku gelisahmenyaksikan langit di kota ini mulai berubah wajah,kecerahan warna lambat launtergeser oleh arak-arakan awan hitam dan terus menghitam pekat lagi menakutkan,akuyang sedari tadi menyaksikan fenomena alam tersentak teringat sebuah janjiuntuk menjemput gadis suci penyemangat nurani……ahhh ngaji saja dulu pikirku,bergegaskutenteng meja buatanku besrta kitab dan kudekap erat bak pecinta yang takingin berpisah dari kekasih hatinya,konsentrasi penuh mulai kusimak saat Sangmaha guru membacakan kata perkata dari kitab yang di kaji untuk kemudiankusalin dalam mushaf kitab cintaku dengan tarian pena made in china yang kubelibeberapa hari yang lalu,sesekali kulirik jam dinding di ujung mushola,hmmhsudah hampir jam4sore,perasaan resahgelisah mulai menyerang dan menggelayuti pikiranku namun pengajian tak kunjungusai,entahlah aku yang mulai tak sabaratau memang terlalu lama,ya…kuselesaikan saja mungkin tak lama lagi gumamkudalam keresahan,ternyata benar tepat jam 4 lewat 10 menit pengajianpunusai,Alhamdulillah kataku seraya tersenyum.
Indonesia's First Literary Museum
Museum Andrea Hirata adalah museum sastra (literary museum) pertama di Indonesia. Museum unik ini ada di desa Gantong, Belitong, tempat kisah Laskar Pelangi. Museum ini terbuka untuk umum setiap hari, pukul 10.00-17.30. Tujuan utama Museum Kata Andrea Hirata adalah untuk menginspirasi generasi muda Indonesia agar Pantang Menyerah dan Berani Bermimpi sesuai dengan semangat Laskar Pelangi, serta demi melestarikan nilai-nilai luhur pendidikan. Tujuan lainnya adalah sebagai learning centre dan media untuk mengapresiasi karya-karya sastra dari para penulis baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam museum terdapat pula karya-karya Andrea Hirata yang belum pernah diterbitkan dan merupakan keistimewaan bagi pengunjung museum karena karya-karya yang sangat inspiratif tersebut hanya bisa dibaca di museum ini. Demi melengkapi unsur budaya lokal, di museum juga terdapat warung kopi dengan gaya warung kopi Melayu asli dengan rasa kopi Belitong,namanya Warung Kupi Kuli. Jl. Laskar Pelangi No 10, Gantong, Belitong
Welcome To
Museum Kata Andrea Hirata-Andrea Hirata Words Museum
Indonesia's First Literary Museum
Kamis, 30 Januari 2014
My Idiot Brother
” Ketika tidak ada lagi cara untuk mencari kebahagiaan maka kita hanya memiliki satu pilihan untuk mengorbankan apa yang kita sebut kebencian, sebab hanya dengan itulah kebahagiaan akan terlahir disamping kita ” Agnes Davonar
Sebenarnya apa sih arti kebahagiaan. Buat gua, kebahagian itu dilihat dari siapa saja yang ada di sekitar kita. Buat gua, kebahagiaan itu. Seharusnya dalam hidup gua, hanya ada orang-orang yang berarti. Tapi, sayangnya kebahagiaan yang gua miliki rasanya dikotorin oleh pikiran gua sendiri. Alkisah, gua punya keluarga lengkap, ayah, ibu dan seorang kakak laki-laki. Tapi kakak laki-laki gua ini sangat berbeda. Dia seperti penghalang kebahagiaan dalam hidup gua, bukan karena dia pinter ataupun bisa merebut kasih sayang orang tua gua. Tapi karena dia idiot. tapi dari dia, gua belajar akan satu hal, satu hal yang mengajarkan bahwa dialah malaikat dalam hidup gua yang berwujub manusia
Idiot dalam arti kata bego, cacat dan bikin malu gua sebagai adik. Ga ada yang bisa gua banggakan dari dia, umurnya uda 5 tahun lebih tua dari gua, tapi begonya seperti 10 tahun lebih mudah dari gua. Gua gak heran, nyokap sampai harus rela nunda kelahiran gua 5 tahun kemudian, hanya demi merawat dia. Dalam bahasa kedokteran, dia itu kena sindrom Down yang bikin otak dia itu bego. Ga penting apa penyakit yang dia bawa sejak lahir, seharusnya dia itu ga pernah ada aja, karena menurut gua, dia itu hanya bikin malu gua.
My Last Love
” Masa lalu adalah pilihan yang kita lalui sedangkan masa depan adalah pilihan yang kita tentukan” agnes davonar
” Sebuah kisah cinta antara Angel seorang gadis lumpuh dan Martin seorang penderita AIDS, Bagaimana mereka menunjukkan pada dunia, Tidak ada yang berbeda dengan apa yang orang lihat, mereka hanyalah manusia yang berusaha untuk diakui sebagai bagian dari masyarakat”
The Happiness

” Karena sekeras apapun kesenangan yang didapatkan karena materi, ia tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan sejati, sebab kebahagiaan sejati tercipta karena keikhlasan, kasih sayang dan ketulusan sesama untuk saling melengkapi”
agnes davonar
Menjadi kaya dalam kehidupan adalah anugerah yang tak ternilai yang kehidupan. Anugerah yang mengajarkan bahwa apapun bisa kita lakukan ketika kita menjadi kaya. Tapi, kaya tidak selalu indentik dengan kebahagiaan. Ada hal lain yang harus dicari dalam kehidupan selain menjadi kaya semata tapi bagaimana membahagiakan diri kita dengan cara melihat kebahagiaan orang lain terlebih dahulu.
Aku kaya dan memiliki segalanya dalam hidup. Tapi semua bukan karena hasil yang aku dapatkan. Warisan yang diberikan oleh kedua orang tuaku saat mereka meninggal karena kecelakaan. Semua yang aku mau dalam kehidupan, selalu aku dapatkan. Entah itu mobil baru, rumah baru atau apapun yang bisa aku miliki kecuali satu hal. Kebahagiaan sejati. Aku melihat sendiri bagaimana orang yang aku cintai, disaat aku sedang tak ada disampingnya dan ia mengatakan bahwa
“ gue Cuma cinta sama duit dia.. mana mau gua sama dia, uda gendut, jelek, pendek, hidup lagi..”
My Step Brother
” Apa dan bagaimana siapapun yang hadir dalam hidup kita, entah begitu kelamnya sejarah yang ia miliki, bukan kita yang pantes mengatakan ia baik/buruk. hanya Tuhan yang menilai dan waktu yang membuktikan akan jadi apa ia dalam hidup kita sebagai takdir”
Agnes Davonar
Aku adalah seseorang yang bebas melakukan apapun yang aku sukai. Kuliah di luar negeri, berfoya-foya di saat malam minggu dan menikmati masa mudaku sebagai laki-laki tanpa harus peduli bagaimana aku memikirkan masa depanku. Semua kulalui dengan baik-baik saja sampai akhirnya, hidupku serasa berhenti ketika semua kebutuhan dan kesenanganku hilang. Tidak ada lagi uang di ATM pribadiku, tagihan kartu kredit membengkak dan uang kuliah belum terbayar. Tidak seperti biasanya, ayah akan mengirimkan uang kepadaku, tapi tiba-tiba tanpa alasan semua ia hentikan.
Bersamamu 1000 Tahun Lagi
” Ada seribu cara untuk mengenangmu sebagai hal terindah tapi tak ada satu cara pun untuk melupakanmu sebagai bagian kehidupan, sebab seribu kebersamaan denganmu adalah surga kehidupan yang paling berharga dalam hidupku” Agnes davonar
Ini adalah sebuah kisah, tentang kesetiaan dan kasih sayang. Tentang bagaimana seseorang menerima orang lain dengan ketulusan. Tentang cinta dua dunia yang berharap dapat bersama 1000 tahun lagi.
Adalah Hari. bermimpi kelak bisa menjadi seorang yang sukses dibidang yang ia sukai. Yaitu menjadi seorang petenis yang meraih satu emas dalam sejarah hidupnya. Semua yang bisa ia lakukan untuk meraih mimpiku selalu dilakukan. Latihan pagi dan sore tanpa lelah. Menambah porsi fisik sehingga lebih baik dari hari ke hari. segalanya telah ia kulakukan sejak umurku 8 tahun sampai kini 12 tahun berjalan. Ketika ia mendapatkan kesempatan untuk mewakili Negara yang ia cintai menjelang 1 tahun lagi meraih satu emas di benaknya, suatu bencana terjadi. Saat ia sedang naik sepeda untuk latihan fisik, ia tertabrak oleh motor sehingga tangannya patah.. Hari pun cemas terhadap impiannya.
Kamis, 23 Januari 2014
Di Bawah Lindungan Ka'bah (Ringkasan)
Novel Di Bawah Lindunga
n Kabah ditulis oleh Hamka, novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, karena mengajak kita untuk tidak membedakan padangan dari segi harta duniawi tapi dari kecintaan patuh pada perintah-Nya. Novel ini menceritakan dua insan yang dilanda asmara dalam suasana tragis, yang satu prihatin sejak kecil yang satunya lagi dilanda sakit yang parah, keduanya meninggal hampir bersamaan pada tempat yang berbeda,
n Kabah ditulis oleh Hamka, novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, karena mengajak kita untuk tidak membedakan padangan dari segi harta duniawi tapi dari kecintaan patuh pada perintah-Nya. Novel ini menceritakan dua insan yang dilanda asmara dalam suasana tragis, yang satu prihatin sejak kecil yang satunya lagi dilanda sakit yang parah, keduanya meninggal hampir bersamaan pada tempat yang berbeda,
Novel kedua Hamka (= Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ini pertama kali di terbitkan Balai Pustaka (1983) hingga cetakan VI. Setelah cetakan VII sampai cetakan terakhir ini diterbitkan Bulan Bintang. “Dengan mengambil tempat bermainya sebagai cerita di negeri Arab dan dengan memajukan falsafah keislaman, roman Di Bawah Lingkungan Kabah ini menjadi suatu roman yang bercorak dan beraliran keislaman.” Demikian pendapat H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Gramedia, 1985; hlm. 46 ). Walaupun dalam soal kemurungan, Di Bawah Lindungan Kabah, masih terasa tak berbeda jauh dalam karya pertamanya, Di Jemput Mamaknya(1930). Namun, dalam napas keislamaan, Di Bawah Lindungan Kabah jauh lebih kuat. Di samping itu, latar tempat kejadian di Mekah itu, ternyata juga sangat mendukung suasana murung dan kepedihan jiwa tokoh utamanya, Hamid.
Layar Terkembang (Ringkasan)
Masih ingatkan tokoh wanita di Indonesia yang pernah berjuang melawan penjajah, tokoh wanita yang aktif di organisasi dalam menggerakan kaum wanita, tokoh wanita yang mengangkat emansipasi wanita? Jika masih ingat maka akan lebih asyik lagi jika membaca novel Layar Terkembang, isi novel ini menurut saya menyampaikan pentingnya kaum wanita untuk beremansipasi dengan tidak meninggalkan kodrat wanita dan kondrat manusia yang selalu tidak lepas dari rasa cinta dan kasih sayang, novel ini sangat seru dibaca oleh para remaja. Sebagian besar kritikus sastra, antara lain, Aji Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, H.B. Jassin , maupun Teuw, menyebutkan novel Layar Terkembang sebagai novel bertendesi. Di antaranya juga ada yang berpendapat bahwa sifat dan pemikiran tokoh Tuti lebih menyerupai sebagai sifat dan pemikiran S. Takdir Alisjahbana, khususnya dalam usaha mengangkat harkat kaum wanita (Indonesia). Tokoh Tuti yang digambarkan sebagai wanita modern yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, memang tidak sedikit melontarkan gagasan progresif. Ia juga selalu merasa terpanggil untuk ikut terjun memajukan bangsanya sendiri, khususnya kaum wanita. “Karya penting ketiga diantara roman-roman sebelum perang menurut anggapan umum, ialah Layar Terkembang ….’’ Demikian Tulis Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980).
Bagi yang memerlukan ringkasan novelnya dapat di baca di bawah ini.
Salah Asuhan (Ringkasan)
Pengarang: Abdul Muis (1886-17 Juli 1959)
Penertbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1928, Cetakan XIX, 1990
Penertbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1928, Cetakan XIX, 1990
Hanafi adalah pemuda pribumi asal Minangkabau. Sesungguhnya, ia termasuk orang yang sangat beruntung dapat bersekolah di Betawi sampai tamat HBS. Ibunya yang sudah janda, memang berusaha agar anaknya tidak segan-segan menitipkan Hanafi pada keluarga Belanda walaupun utnuk pembiayaannya ia harus meminta bantuan mamaknya, Sutan Batuah. Setamat HBS, Hanafi kembali ke Solok dan bekerja sebagai klerek di kantor Asisten Residen Solok. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi komis (lihat halaman 27).
Pendidikan dan pergaulan yang serba Belanda, memungkikan Hanafi berhubungan erat dengan Corrie De Busse, gadis Indo-Perancis. Hanafi kini merasa telah bebas dari kungkungan tradisi dan adat negerinya. Sikap, pemikiran dan cara hidupnya juga sudah kebarat-baratan. Tidaklah heran jika hubungannya dengan Corrie ditafsirkan lain oleh Hanafi karena ia kini sudah bukan lagi sebagai orang “inlander” (bangsa pribumi yang di jajah oleh Belanda). Oleh karena itu, ketika Corrie datang ke Solok dalam rangka mengisi liburan sekolahnya, bukan main senangnya hati Hanafi. Ia dapat berjumpa kembali dengan sahabat dekatnya.
Siti Nurbaya (Ringkasan)
SITTI NURBAYA
(Kasih Tak Sampai)
Pengarang : Marah Rusli (7 Agustus 1889-17 Januari 1968)
Penerbit : Balai Pustaka
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.
Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.
Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.
Barangkali
Barangkali
Kita adalah sepasang sepi yang nyeri
Saling menunggu luka dan menanti lara
Melisankan tatapan ingatan sebuah kenangan
Tanpa sedikit jeda hela nafas
Barangkali
Kamu adalah sebuah air mata
Dari sebuah aku disela hujan tanpa pelangi
Jatuh mengendap dipelukan tanah
Membias basah di tepian daun
Jalan-jalan, taman, lampu dan jendela
Meniadakan suara bak memoar kehilangan
Barangkali
Ada rasa yang menyetia di sudut keterasingan
Memeluk angan dan angin malam lengang
Entah pada gigil rindu atau gerah cemburu
Namun waktu selalu menjadi pemenang
Pada tiap perih yang dikenang
Barangkali
Langit sudah terlalu enggan bahkan bosan
Menghadirkan kerlip bintang di kedua matamu
Menumpahkan pelangi pada sudut bibirmu
Yang terlalu dingin nan hening
Melebihi gema yang disuarakan senyapku
Selepas sajakku menapakkan kakinya
Aku ingin menjadikan kamu sebagai jalan buntu
Tempat dimana dia kehilangan jejak arah
Lalu perlahan tiap baitnya memuai pada dinding bisumu
Tentang sebuah harap yang mencari tepi
Barangkali.
Kita adalah sepasang sepi yang nyeri
Saling menunggu luka dan menanti lara
Melisankan tatapan ingatan sebuah kenangan
Tanpa sedikit jeda hela nafas
Barangkali
Kamu adalah sebuah air mata
Dari sebuah aku disela hujan tanpa pelangi
Jatuh mengendap dipelukan tanah
Membias basah di tepian daun
Jalan-jalan, taman, lampu dan jendela
Meniadakan suara bak memoar kehilangan
Barangkali
Ada rasa yang menyetia di sudut keterasingan
Memeluk angan dan angin malam lengang
Entah pada gigil rindu atau gerah cemburu
Namun waktu selalu menjadi pemenang
Pada tiap perih yang dikenang
Barangkali
Langit sudah terlalu enggan bahkan bosan
Menghadirkan kerlip bintang di kedua matamu
Menumpahkan pelangi pada sudut bibirmu
Yang terlalu dingin nan hening
Melebihi gema yang disuarakan senyapku
Selepas sajakku menapakkan kakinya
Aku ingin menjadikan kamu sebagai jalan buntu
Tempat dimana dia kehilangan jejak arah
Lalu perlahan tiap baitnya memuai pada dinding bisumu
Tentang sebuah harap yang mencari tepi
Barangkali.
Kusebut Luka
Luka yang tak mengenal waktu
Luka yang tak mengerti dan tak mau berhenti
Luka yang tau, ia ada hanya untuk melukai
Luka yang tak bisa disembuhkan
Luka yang tak mau disembuhkan
Luka yang tak mau pergi
Luka yang terus abadi
Dan memang ia abadi
Luka yang beranak pinak
Luka yang jamak menjadi banyak
Luka yang pedih mengucur perih
Luka-luka yang baru
Luka-luka yang bertemu dengan luka lain
Luka-luka yang bahagia dan berkuasa
Luka-luka yang menjadi tuan bagi pemiliknya
Luka-luka yang menikam kecewa di sebuah pengharapan
Luka yang terus menikahi sepi
Bergeming pada detik detak degup angin
Anak-anak sunyi menyanyikan kehilangan
Sedang gerbang-gerbang kepulangan masih termangu
Menunggu jejak kaki yang terus terpatri.
Luka yang tau, ia ada hanya untuk melukai
Luka yang tak bisa disembuhkan
Luka yang tak mau disembuhkan
Luka yang tak mau pergi
Luka yang terus abadi
Dan memang ia abadi
Luka yang beranak pinak
Luka yang jamak menjadi banyak
Luka yang pedih mengucur perih
Luka-luka yang baru
Luka-luka yang bertemu dengan luka lain
Luka-luka yang bahagia dan berkuasa
Luka-luka yang menjadi tuan bagi pemiliknya
Luka-luka yang menikam kecewa di sebuah pengharapan
Luka yang terus menikahi sepi
Bergeming pada detik detak degup angin
Anak-anak sunyi menyanyikan kehilangan
Sedang gerbang-gerbang kepulangan masih termangu
Menunggu jejak kaki yang terus terpatri.
sumber : tepiansajak.blogspot.com
Sisa Rindu Disela Kata
Akhir cerita tak pernah bersahabat dengan waktu
Keduanya saling memunggungi dan mengekalkan diri
Hingga dari jejak-jejak mereka ciptakan
Setumpuk jarak, menetap, dan beranak pinak
Merentang temu yang tersulut ambisi
Dari setiap jengkal harapan yang tertinggal
Narasi bahagia pernah kita tuliskan
Meski terlalu singkat disebut paragraf cinta
Namun tiap kalimat penyusunnya begitu jelas
Pena layaknya anganku
Yang terus ingin memuisikan adamu
Pada tiap-tiap lembar-lembar kekosongan
Kelopak matamu pernah menghangat; panas
Disudut tatap sebelum senja redup menuju temaram
Sempat pula ia meneduhkan puisi-puisiku
Sebelum hujan akhirnya merabunkan baitnya
Genangan luka kenang semakin berpeluh basah
Menyelinap pada ujung-ujung tepian daun
Pada kaca jendela; mereka membentuk uap
Atas dingin yang hampa
Napasku berembus melukiskan wajahmu
Sedang ingatan terlalu lupa bagaimana cara menghapuskan kata.
Hingga dari jejak-jejak mereka ciptakan
Setumpuk jarak, menetap, dan beranak pinak
Merentang temu yang tersulut ambisi
Dari setiap jengkal harapan yang tertinggal
Narasi bahagia pernah kita tuliskan
Meski terlalu singkat disebut paragraf cinta
Namun tiap kalimat penyusunnya begitu jelas
Pena layaknya anganku
Yang terus ingin memuisikan adamu
Pada tiap-tiap lembar-lembar kekosongan
Kelopak matamu pernah menghangat; panas
Disudut tatap sebelum senja redup menuju temaram
Sempat pula ia meneduhkan puisi-puisiku
Sebelum hujan akhirnya merabunkan baitnya
Genangan luka kenang semakin berpeluh basah
Menyelinap pada ujung-ujung tepian daun
Pada kaca jendela; mereka membentuk uap
Atas dingin yang hampa
Napasku berembus melukiskan wajahmu
Sedang ingatan terlalu lupa bagaimana cara menghapuskan kata.
sumber : tepiansajak.blogspot.com
Tulisan Yang Diacuhkan
Sudah seminggu aku tidak mencari berita, berpetualang seperti pemburu liar babi hutan. Kini sudah akhir pekan, masihkah aku akan tetap keluyuran?

Ah… bukan bosan atau lelah karena terus ke sana-ke mari mencari sebuah peristiwa tapi, sudah saatnya mencari hal baru yang lebih menantang dari sekedar mencari berita. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat di dunia jurnalistik, namun kini dunia kewartawanan sudah mulai (lagi) diusik. Banyak wartawan yang dianiaya dan sibuat tak berdaya. Ada juga beberapa majalah yang hilang tak tentu arah. Inilah efek Soehartonisasi.
Di stasiun kereta banyak orang lalu-lalang. Ada yang datang lalu mengarah pulang, ada juga yang pergi lalu berharap Ia dianggap hilang.
Aku duduk di pojok tembok yang di atasnya ada spanduk besar bertuliskan jadwal keberangkatan. Tidak jauh dari sana, ada pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam koran. Pasti di sana tulisanku berada dulu. Anehnya, hanya pedagang koran yang masih berjualan di sini (baca: Stansiun) dan tanpa ada pedagang lain. Semua yang sudah berjualan lama telah digusur entah ke mana. Padahal, apa bedanya menjual koran dengan lontong sayur? Toh, sama-sama mengenyangkan. Apa bedanya menjual rokok dengan koran? Toh, sama-sama membuang uang. Harga koran di stasiun mendapat subsidi silang dari penerbitnya, sehingga harganya bisa lebih murah dibanding yang ada di pinggir jalan atau yang ada di lampu lalu lintas. Karena harga koran di stasiun relatif lebih murah, akhirnya banyak orang beli koran hanya untuk duduk di kereta dengan lesehan.
***
Hatiku bertanya, apakah semua aktifitas junalistik yang pernah aku buat benar dinikmati pembaca? Raditya Dika bilang, "Harta yang paling berharga dari penulis adalah pembaca." Aku setuju untuk itu. Sangat setuju. Lantas, untuk apa kita menulis kalau tidak dibaca? Itu sama saja seperti sering ibadah tapi ogah masuk surga.
Perlahan ajakan otak membuat stimulus pada kaki untuk beranjak mendekat penjual koran. Sekedar memastikan apakah media tempat aku sempat singgahi juga menjadi pilihan orang yang sengaja datang ke mari.

Ah… bukan bosan atau lelah karena terus ke sana-ke mari mencari sebuah peristiwa tapi, sudah saatnya mencari hal baru yang lebih menantang dari sekedar mencari berita. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat di dunia jurnalistik, namun kini dunia kewartawanan sudah mulai (lagi) diusik. Banyak wartawan yang dianiaya dan sibuat tak berdaya. Ada juga beberapa majalah yang hilang tak tentu arah. Inilah efek Soehartonisasi.
Di stasiun kereta banyak orang lalu-lalang. Ada yang datang lalu mengarah pulang, ada juga yang pergi lalu berharap Ia dianggap hilang.
Aku duduk di pojok tembok yang di atasnya ada spanduk besar bertuliskan jadwal keberangkatan. Tidak jauh dari sana, ada pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam koran. Pasti di sana tulisanku berada dulu. Anehnya, hanya pedagang koran yang masih berjualan di sini (baca: Stansiun) dan tanpa ada pedagang lain. Semua yang sudah berjualan lama telah digusur entah ke mana. Padahal, apa bedanya menjual koran dengan lontong sayur? Toh, sama-sama mengenyangkan. Apa bedanya menjual rokok dengan koran? Toh, sama-sama membuang uang. Harga koran di stasiun mendapat subsidi silang dari penerbitnya, sehingga harganya bisa lebih murah dibanding yang ada di pinggir jalan atau yang ada di lampu lalu lintas. Karena harga koran di stasiun relatif lebih murah, akhirnya banyak orang beli koran hanya untuk duduk di kereta dengan lesehan.
***
Hatiku bertanya, apakah semua aktifitas junalistik yang pernah aku buat benar dinikmati pembaca? Raditya Dika bilang, "Harta yang paling berharga dari penulis adalah pembaca." Aku setuju untuk itu. Sangat setuju. Lantas, untuk apa kita menulis kalau tidak dibaca? Itu sama saja seperti sering ibadah tapi ogah masuk surga.
Perlahan ajakan otak membuat stimulus pada kaki untuk beranjak mendekat penjual koran. Sekedar memastikan apakah media tempat aku sempat singgahi juga menjadi pilihan orang yang sengaja datang ke mari.
Dalil Lintang
Lintang, adalah sesosok manusia mega canggih yang pernak aku tau didunia ini selain para Nabi, Thomas Alfa Edison, Alberth Einstein, B.J Habibie dan lain.lain, dan sebagainya, dan seterusnya . .
Lintang merupakan anak tertua dari putra nelayan dan harus ditinggal selama.lama nya oleh sang ayahanda saat melaut. Dia adalah bujang kecil berkulit hitam yang penuuh dengan berjuta fenomena dan penuh dengan eksperimen.eksperimen nya yang gila dan sangat canggihm , melebihi batas pikiran manusia mana pun . .
Di sd muhammadiyah, dia bagai Isaac newton, ahli matematika kesayangan ibu muslimah kebanggaan kelas laskar pelangi . berpuluh.puluh kilometer harus dia tempuh dengan menggunakan sepeda reot satu.satu nya harta berharga untuk Lintang agar bisa sampai ke sekolah, walau harus melewati seekor buaya buas, tak getar hatinya untuk berputar arah, hanya demi satu mimpi yang tidak bisa dibayar dengan apapun, yaitu PENDIDIKAN
Kesulitan, masalah dan apapun itu akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, lalu tempatkan dirimu sebagai ilmuwan, karena dengan ilmu apapun bisa lebih hebat . .
Di negeri ini, para pemimpi adalah para pemberani. Mereka kesatria ditanah nan peduli, dan medali harus harus dikalungkan dileher mereka . .
Tekanan adalah keniscayaan semesta, dasr keseimbangan galaksi.galaksi. kita tegak berdiri akibat tekanan dari seluruh kosmos. Bumi berputar.putar, air mengalir, angin bertiup, burung.burung terbang, mekanika sendi.sendi tubuh, laut pasang surut, mulut berbunyi, semuanya karena tekanan . .
Tekanan bersembunyi dalam setiap serpih.serpih cahaya dan gerak halus benda.benda, disini llah tersimpan rahasia. Mengapa kita ada disini . .
Lintang merupakan anak tertua dari putra nelayan dan harus ditinggal selama.lama nya oleh sang ayahanda saat melaut. Dia adalah bujang kecil berkulit hitam yang penuuh dengan berjuta fenomena dan penuh dengan eksperimen.eksperimen nya yang gila dan sangat canggihm , melebihi batas pikiran manusia mana pun . .
Di sd muhammadiyah, dia bagai Isaac newton, ahli matematika kesayangan ibu muslimah kebanggaan kelas laskar pelangi . berpuluh.puluh kilometer harus dia tempuh dengan menggunakan sepeda reot satu.satu nya harta berharga untuk Lintang agar bisa sampai ke sekolah, walau harus melewati seekor buaya buas, tak getar hatinya untuk berputar arah, hanya demi satu mimpi yang tidak bisa dibayar dengan apapun, yaitu PENDIDIKAN
Kesulitan, masalah dan apapun itu akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, lalu tempatkan dirimu sebagai ilmuwan, karena dengan ilmu apapun bisa lebih hebat . .
Di negeri ini, para pemimpi adalah para pemberani. Mereka kesatria ditanah nan peduli, dan medali harus harus dikalungkan dileher mereka . .
Tekanan adalah keniscayaan semesta, dasr keseimbangan galaksi.galaksi. kita tegak berdiri akibat tekanan dari seluruh kosmos. Bumi berputar.putar, air mengalir, angin bertiup, burung.burung terbang, mekanika sendi.sendi tubuh, laut pasang surut, mulut berbunyi, semuanya karena tekanan . .
Tekanan bersembunyi dalam setiap serpih.serpih cahaya dan gerak halus benda.benda, disini llah tersimpan rahasia. Mengapa kita ada disini . .
Hujan Jangan Marah
Bagi sebagian orang, hujan itu romantis tapi ada sebagian orang menganggap hujan itu sumber risky dan ada pula hujan itu sebuah bencana . .
Itu llah manusia , memiliki sifat; pemikiran atau apapun itu nama nya yang berbeda.beda antara satu dengan lainnya . .
Apa kalian bisa bayangkan kalau setiap manusia itu seragam . . ?? pasti sangat tidak menyenangkan*apa hidup harus menyenangkan, mengapa . . ?? yaa, hidup itu harus menyenangkan karena dengan begitu kalian pasti akan tersenyum dengan tersenyum semua masalah pasti terasa mudah . .
Hujan itu sebuah anugrah yang diberikan oleh TUHAN untok manusia agar bisa dinikmati dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk hidup. apabila hujan tidak ada, apa tumbuhan di hutan bisa tumbuh . . ??* jelas tidak, siapa juga yang mau nyiramiin itu pohon yang begitu banyak, siapa juga yang berani nge’gaji karyawan untuk nyiramin itu pohon yang banyak* ; apabila hujam tidak ada, apa binatang bisa hidup . . ??*jelas tidak, alasan nya hampir sama kayak yang tadi dehh*. Tapi kenapa oleh manusia hujan itu sering sekali tidak dimanfaatkan . . ?? padahal manusia itu adalah makhluk yang sempurna, karena munusia diberi akal pikiran oleh TUHAN . .
*sifat keserakahan llah yang membuat semus ini terjadi, manusia selalu merasa diri nya di posisi kekurangan*
Hujan.hujan dan hujan . .
Disuatu ketika, hujan turun begitu deras tanpa henti dari terbit nya sang surya sampai dia terbenam. Dan apa yang terjadi . . ?? banjir datang; semua terendam; semua panic; semua cemas; semua . .
Kami tau dan kami sadar, ini adalah salah kami, kami tidak pernah menjaga planet ini sehingga semua kacau dan tidak terkendali . .
HUJAN, JANGAN MARAH . .
Langganan:
Postingan (Atom)





