Kamis, 04 September 2014

dan, memang benar, aku...

Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana


Pertanyaan yang akan kuajukan pertama kali dalam surat ini masih sama, N. Aku masih ingin tahu, bagaimana kabarmu? Apakah aku masih baik-baik saja dalam semestamu? Semoga masih semenyenangkan yang kubayangkan dan yang kauinginkan.
Aku tak akan berbasa-basi atau akan mengajakku kearah yang berlawanan dulu untuk membuatmu mengerti mengapa aku menulis dan berniat mengirimkan surat ini ke alamat hatimu. 

Begini...
Bukankah aku pernah bercerita panjang soal rasa percaya yang sepenuhnya telah menjadi milikmu terhitung dua bulan yang lalu? 
Memang benar, aku telah sepenuhnya percaya kepadamu, tapi entah bagaimana samapi saat ini aku belum bisa menemukan jawaban dari mengapa rasa takut masih bisa hadir diantara rasa percaya dan jarak.
Memang benar, aku tidak bisa selalu ada kapanpun yang kamu mau, tanpa kamu minta. Aku bahkan tidak bisa membaca kapan saat-saat terendahmu dan kapan waktu kamu ada di tempat tertinggi.
Memang benar, aku menyesali hal-hal itu. Tentang aku yang tidak bisa selalu ada seperti mereka; seperti yang kauangankan.
Memang benar, aku sedang kebingungan mengatasi rasa takut yang setengah mati tidak bisa pergi.

Aku takut akan ada orang lain yang mendahuluiku untuk ada disampingmu.
Aku takut akan ada telinga lain yang lebih dulu siap mendengar apapun yang ingin kauceritakan.
Aku takut akan ada mata lain yang lebih bisa meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku takut akan ada orang lain yang lebih dulu siap memberikan perhatian lebih mendalam daripada yang kulakukan.
Aku takut jika kauakan memutuskan untuk memberikan rasa nyamanmu kepada yang selain aku.
Aku takut akan ada senyum lain yang selalu hadir lebih awal untuk menghilangkan segala desir-desir resahmu.
Aku takut, N...
Aku takut bagaimana jadinya jika akan ada bahu lain yang lebih kokoh dan siap untuk menampung seluruh rasa lelahmu.
Aku takut bagaimana jika akan ada seseorang yang akan bersedia menjadi rumah tempat kamu selalu pulang.
Aku takut..
Aku takut bagaimana seandainya jika yang satu-satunya akan kalah dengan yang selalu ada.

Lantas, gara-gara itu, N, aku tak pernah bisa berhenti bertanya pada diriku sendiri tentang 'bagaimana nasib sosok aku dalam hatimu' atau 'apakah aku masih akan selalu jadi satu-satunya'.
Memang benar, aku percaya bahwa kamu akan bisa menjaga semua yang harusnya kamu pertahankan. 
Memang benar, aku telah percaya bahwa aku tak akan salah jika keputusanku untuk menitipkan setengah bagian dari hatiku kepadamu adalah pilihan yang paling tepat.
Tapi sungguh, takut tak pernah mau pergi dari hati, N. Tapi takut selalu hadir sebagai abu-abu dalam biru langitku.
Aku tahu kamu pasti mempunyai sekian juta teman yang bahkan tak pernah kau pilah. Begitupun aku. Tapi jika kaumau tahu, aku telah berusaha untuk menjaga semua yang seharusnya aku pertahankan. 
Kepadamu aku hanya akan mengatakan, harusnya rasa percaya yang telah kaumiliki, kaujadikan sebagai batasan yang harus terus kaujaga.

Masalah yang terlalu kecil dan sangat sepele memang. Hanya saja, kautahu, aku bukan seperti kebanyakan orang yang mau saja menerima apapun yang diberikan. Aku lebih mencintai diam dan mengungkapkan perasaan pelan-pelan ketimbang harus mengekang kemudia berujung bermain diam-diam.
Tapi, yasudahlah, tak perlu khawatir, bagaimanapun situasinya, apapun yang sedang terjadi, kesepakatan bahwa 'semuanya akan baik-baik saja selama masih ada kamu dalam semestaku. Dan aku dalam semestamu.' masih akan tetap berlaku.

Maka, jika memang kautelah mengerti apa yang sebenarnya ingin kukatakan melalui surat ini, percayalah, ini bukan tentang surat protes atau unjuk rasa karena ketidak puasaan atau keresahan yang sedang terjadi; ini surat rindu yang (maaf) kali ini berwarna biru berdominan abu yang sengaja kukirim untukmu agar kamu tahu tentang satu hal.

Aku telah melihat foto yang kaukirim dalam salah satu media sosial milikmu, tertera didalamnya penyebab mengapa rasa takutku tak pernah bisa berhenti menguasai meskipun percaya mempunyai tempat lebih besar dalam hati. Tertera didalamnya sebuah foto bisu yang membuat endap abu-abu pada rindu.
Jawabannya, tertera pada perempuan yang tak pernah kuketahui, sedang merangkul bahumu dari belakang.

Apakah kamu mendapati aku pernah melakukan hal sama seperti yang dia lakukan kepadamu, N? Tentu tidak.
Apakah kamu telah memahami perasaan apa yang sedang terjadi dalam diriku, N?

Dan, memang benar, aku cemburu.




Dari,
Bisu Hatiku

0 komentar:

Posting Komentar