Jumat, 22 Agustus 2014

Tanpa Syarat

"For the two of us, home isn't a place. It is a person. And we are finally home."

Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana

Maaf N, rasanya sudah lama aku tak sempat menuliskan surat untukmu. Duniaku jadi begitu rumit dan terlalu sibuk, mungkin gara-gara telah waktunya aku memasuki dunia baru, begitu juga kamu. Kita telah ada pada tahun kesepuluh perjalanan mencari arti hidup, atau bahkan sudah lebih dari itu. Sebenarnya jutaan kata-kata dalam kamusku untuk serangkaian surat yang harusnya kukirim ke alamat hatimu secara rutin tak pernah berhenti berputar dalam semestaku, hanya saja aku tak punya cukup waktu untuk menuliskannya lagi. Tak usah khawatir, kamu masih jadi topik utama yang selalu ingin ku bahas dalam setiap percakapan kecilku dengan Tuhan, setiap malamnya. Kamu masih jadi pemeran utama pada tokoh dalam setiap surat dan cerita-cerita milikku.

Bagaimana hari-harimu, N? Apakah masih semenyenangkan yang kau harapkan dan yang ku bayangkan? Tapi tak mungkin jika harimu tak menyenangkan. Betapa tidak. Aku tahu, kamu selalu bisa membuat segalanya menjadi bahagia bagaimanapun situasinya. Bagaimana dengan teman-temanmu? Apakah kira-kira mereka bisa menjadi saksi baik yang akan menemani perjalananmu selama tiga tahun kedepan? ah, semoga saja Tuhan selalu mengiyakan segala permintaan ku tentang kamu; yang hanya ingin kamu memahami bahagia dari sudut manapun, begitu juga aku. Begitu juga kita.

Kita sudah sama-sama tahu, N. Tentang rindu; rasa yang sepertinya belum cukup matang untuk disebut dengan cinta. Ohya, apakah kau tahu? Setiap kali aku mendengar 'cinta', aku tak pernah merasa senang dan tenang seperti kebanyakan orang lainnya. Sungguh. Bahkan aku hampir tak pernah mengatakan 'cinta' kepada siapapun yang pernah singgah. Kautahu? Aku takut dengan segala yang bernama cinta. Karena aku hanya tahu dua hal setelah mendengar 'cinta'; ditinggalkan atau meninggalkan. Sama-sama menyisakan luka bukan? Betapa tidak. Cinta bukan mainan yang seenaknya saja bisa dikatakan tanpa ada bukti yang jelas tentang keberadaannya. Aku bukan kebanyakan orang yang mudah memiliki kemudian menyakiti seseorang dan mengatasnamakan semua rasa sakit dengan c.i.n.t.a. Iya, cinta tidak pernah menjadi hal yang mudah, N. Cinta juga tak pernah menjadi hal yang begitu penting dalam hidup dan kehidupanku limabelas tahun terakhir. Aku masih perempuan yang belajar berjalan untuk menjadi seorang wanita. Bagaimana bisa seorang perempuan bisa dengan mudah memahami apa itu cinta kemudian dengan mudah bisa merasakannya? Mungkin, yang kautahu, teman-teman perempuanmu sudah banyak bercerita denganmu perihal cintanya kepada seseorang yang mereka cinta. Tidak dengan aku, N. Aku tak pernah mau menyebut segala perasaan yang singgah ke dalam hatiku adalah cinta. Cinta adalah selamanya. Sementara aku selalu percaya tak akan ada hal yang selamanya, bukan? 
Jadi, maaf jika aku tak pernah mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta kepada kamu. Aku hanya akan akan mengaku, bahwa kamu tak pernah bisa lepas dari semua perhatianku. Bahwa kamu yang selama ini ingin kupanggil dengan bahagia. Iya. Kamu seperti candu yang tak pernah ingin kuhilangkan dengan rehabilitasi apapun.

Melalui surat ini, N. Aku hanya ingin memberitahumu tentang satu hal yang harus kamu mengerti. Bahwa aku tak akan pernah bisa jadi seseorang yang selama ini kamu inginkan, karena bahkan tak ada darah malaikat yang mengalir dalam tubuhku. Tapi percayalah, aku tak pernah menganggap kesepakatan sebagai satu hal yang begitu saja mudah dipatahkan atau ditinggal lari dengan segala janji. Memang kali ini tak akan ada janji yang ingin kuumbar kepadamu kali ini. Aku hanya ingin memberimu semua rasa percaya yang kupunya. Soal akan kau apakan rasa percaya itu, kuserahkan semuanya kepada kamu dan hatimu. 

Harusnya kita telah sadar dan mengerti, N. Kita bukan lagi anak kecil yang dalam laju perputaran otaknya hanya akan ada jutaan permainan apa saja yang ingin dimainkan. Kita bukan lagi seorang nahkoda gadungan yang gemar berlayar dari hati satu kehati lain seenaknya sendiri. Kita tak boleh lagi menganggap semua yang telah kita lewati dan semua yang akan kita jalani hanya sebuah kebetulan atau persinggahan yang tidak memiliki arti. Tidak ada pertemuan yang tidak memiliki arti, N. Aku percaya, kau dan aku bertemu karena satu alasan yang belum pernah kita pahami. Sekarang, kita akan mencari jawaban dari semua pertanyaan 'mengapa kita dipertemukan' bersama-sama, maukah kamu?

Terakhir, N..
Terima kasih telah memberi satu hal yang selama ini tak pernah ada dalam daftar permintaanku. 
Terima kasih telah memintaku menjadi saksi dari semua bahagia dan rasa sakit yang akan kaujalani. 
Jujur saja, aku tak pernah meminta hal-hal yang bahkan tak pernah bisa kuatur sendiri alurnya. Aku tak pernah memaksa Tuhan agar aku dipersejalankan dengan seseorang yang bernama kamu.
Aku juga tak pernah meminta agar kamu harus selalu ada tanpa kuminta, atau kamu tak boleh menyakiti hatiku bahkan membuatku menangis, atau aku harus jadi satpam yang harus selalu tahu sedang apa kamu setiap menitnya, atau mungkin kamu harus selalu membuatku bahagia dengan segala cara yang tak pernah mau aku tahu. Tidak. Aku tidak pernah meminta hal-hal diatas yang begitu memuakkan. 
Aku hanya bisa berusaha dan berharap kita akan diberi yang terbaik. Yang terbaik bagi siapapun. Yang terbaik untukmu, untukku, dan kita.
Bukankah memang seharusnya kita manut dan pasrah pada segala yang kita rasa? Biar sisanya Tuhan yang menulis cerita-cerita lanjutannya.

Tak perlu khawatir. Hati yang kumiliki hanya satu, sedang aku sudah berikan itu untukmu. Sehingga tak akan ada orang lain lagi yang akan menerima hatiku. 
Tolong yakinkan padaku, bahwa kamu akan menjaga hatimu baik-baik, N. Sebaik yang kamu bisa. Karena hanya itu yang akan jadi satu-satunya tempat aku menemukan jalan terang dan pulang.

Dengan begitu jauh jarak yang harus kita nikmati. Dengan begitu banyak rindu yang harus kita rawat setiap hari. Maka, melalui surat ini, akan kuyakinkan kamu, bahwa aku akan bersedia menjaga semuanya tetap baik-baik saja, selama kamu tetap mau perjuankan apa yang harus kamu pertahankan. Iya. Akan kupastikan semuanya akan baik-baik saja selama masih ada kamu dalam semestaku. Dan aku dalam semestamu.


Jadikan aku rumah tempat kamu selalu pulang, Tuan.
Maka akan kutampung segala yang akan kamu buang;
tanpa syarat.
Percayalah..
 Rindu akan selalu ada,
tanpa jeda.

dari,
aku. 

0 komentar:

Posting Komentar