Buat N,
Disuatu
tempat yang entah dimana
Selamat
pagi, selamat sore, atau selamat malam, N, aku taktahu kapan kamu akan membaca
surat yang bahkan tak pernah bisa kukirimkan ke alamat rumahmu yang jelas dan
begitu rinci. Atau barangkali ini memang bukan surat, ini hanya memoar, atau
mungkin hanya sebatas pembicaraan tentang kamu antara aku dan diriku sendiri
atau mungkin aku tak akan pernah tahu bisa disebut apakah hal yang seperti ini.
Kalau kaumau
tahu, aku telah berusaha begitu keras menahan diriku sendiri agar tidak jatuh
terlalu telak kedalam kamu. Tapi, sungguh, kenyataan berbalik
seratusdelapanpuluh derajat dengan skenario perasaan yang pernah kurancang
matang-matang. Aku terlanjur menggali lubang bahagia yang begitu besar, aku
telah terlanjur menjatuhkan diriku terlalu telak kepada kamu, aku telah
mengetahui bahwa aku mendapat peluang lebih besar untuk merasakan hal-hal yang
akan terasa teramat sangat menyakitkan. Bukankah pasti akan ada rintangan yang
berat di setiap perjalanan yang hebat? Bukankah pasti ada konsekuensi dibalik
sebuah komitmen? Dari awal, sejak aku memutuskan untuk berkomitmen kepadamu
tentang kita, aku sudah tahu bahwa kita akan menempuh perjalanan yang hebat, N,
tanpa tahu berapa lama waktu yang tersedia untuk menjadi jatah kita. Maka dari
itu, bukankah menurutmu aku harus melumuri tubuhku dengan kesiapan menghadapi
semua rasa sakit yang pasti akan menghapiri? Sejak aku memutuskan untuk
berkomitmen tentang kita, aku tahu kamu yang akan menjadi lumuran kesiapanku
untuk menghadapi segala rasa sakit, N. Sejak aku memutuskan untuk ikut berjalan
disampingmu di jalan setapak yang sama, aku tahu bahwa kita akan selalu bisa
menemukan jalan keluar jika nanti kita menemukan gang buntu di tengah-tengah
perjalanan. Aku tak mau pasrah dengan apapun yang akan terjadi padaku, padamu,
bahkan pada kita. Aku masih akan terus berjuang pada apapun jenis bahagia atau
bahkan rasa sakit yang akan kita temui di persimpangan jalan. Aku bahkan masih
tak ingin berjalan menjauh dari bekas-bekas jejak kakimu. Aku ingin bertahan.
Ditengah badai yang akan kita hadapi. Di tengah hujan petir yang akan
menghalangi. Di antara kabut tebal yang akan menggigilkan hati. Di antara jebakan
debar-debar perih yang akan menghentikan perjalanan. Sungguh, aku tak akan
menyerah pada hal-hal itu. Bukankah kamu juga akan berjanji kepadaku bahwa kamu
tak akan menyerahkan dirimu untuk begitu saja kalah dengan segala hal yang
sebenarnya bisa kaukalahkan?
Tahukah kamu
bahwa akupun tak pernah tahu perasaan macam apa yang sedang kurasakan saat ini,
N? Hanya ada kamu, aku, bayanganmu, dan bayanganku di dalamnya. Tak pernah aku
temukan cahaya dan gelap di dalamnya. Hanya ada detak hujan dan purnama. Hanya
ada lagu hujan dan senyum senja. Hanya ada rindu. Tanpa tahu untuk apa semua
itu sengaja dihadirkan. Tanpa tahu atas dasar apa hal-hal itu sengaja dirancang
hadir dalam perjalanan yang telah kita sepakati.
Tapi, N..
Bukankah
rindu memang diciptakan untuk dipendam?
Bukankah
cinta memang dihadirkan untuk dinikmati dalam-dalam ?
Bukankah rasa
kecewa juga memang digoreskan agar disembunyikan diam-diam?
Bukankah
tulisan tak akan ada artinya bila tak ada spasi?
Bukankah
kita baru bisa bernafas lega jika ada ruang?
Dan,
bukankah memang teka-teki perasaan memang dirancang untuk tidak memiliki
jawaban yang pasti?
Jika kaumau
tahu tentang rahasia apa yang sebenarnya ingin kuungkapkan. Hanya kamu yang
bisa menjawabnya, N. Hanya kamu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang muncul
ketika kamu membaca surat ini. Yang jelas. Aku telah mengenalmu jauh lebih lama,
dari yang kamu tahu. Untukku, tak butuh waktu lama untuk memahamimu. Percayakah
kamu pada telepati, radar, atau semacamnya? Tidak? Kamu salah, aku sedang
menunjukkan kepada kamu apa yang tidak pernah kamu pahami sebelumnya.
Percayalah, jika kamu adalah pertanyaan, maka aku akan siap menjadi jawabannya.
Jika kamu dermaga terakhir disepanjang samudra luas, aku ingin menjadi kapal
terakhir yang bisa bertahan dari badai samudra yang mematikan. Jadikan aku
hujan, Tuan, yang tak pernah salah menjatuhkan airnya, kepada tanah yang
mencintainya.
Sudah
terungkapkah rahasia apa yang ingin kusampaikan padamu melalui surat ini?
Sudahkah kamu bisa meraba apa makna dibalik segala pertanda dan teka-teki?
Begini saja, bayangkan jika selama ini kamu ternyata mencari potongan-potongan
seseorang dalam setiap manusia yang kamu temui? Dan tiba-tiba, voila, hadirlah dia! Pieces of puzzle you’ve been looking for. All
in one person.
Yang jelas, aku
masih tak bisa menarik diriku sendiri dari keterjatuhan telak kepada kamu.
Lantas, N,
apa lagi yang harus berusaha kutemukan jika aku sudah tahu segala yang kucari
sedang bersembunyi dalam kita?
“Maka, jika pada akhirnya cinta membuat kita
merasa ditinggalkan dan meninggalkan, tetaplah berdiri bersama ketulusan dan
kerelaan. Sebab, saat kita memutuskan untuk jatuh cinta, sejatinya kita telah
membuat kesepakatan kepada hati dan pikiran bahwa cinta suatu saat akan
ditinggalkan atau meninggalkan. Tapi, kita tak perlu cemas kan? Jika hanya
berfokus pada cinta yang menyakitkan, bagaimana kita bisa bahagia? Fokus saja
pada hal yang membahagiakan, hingga pada apapun yang kita lakukan untuk
memaknai cinta, kita akan tetap merasa bahagia. Jangan lupa persiapkan sabar
saat menjaga cinta yang kaupunya, agar kita memiliki kerelaan dan ketulusan
untuk memaknai cinta tanpa rengekan..”
Ingat, jangan mencintai laut biruku terlalu dalam, Sayang,
sebab tak akan kautemukan jalan keluar jika kamu terlanjur tenggelam didasarnya...
0 komentar:
Posting Komentar