Sabtu, 13 Desember 2014

Bukankah memang teka-teki dirancang untuk tak memiliki jawaban pasti?

Buat N,
Disuatu tempat yang entah dimana

Selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam, N, aku taktahu kapan kamu akan membaca surat yang bahkan tak pernah bisa kukirimkan ke alamat rumahmu yang jelas dan begitu rinci. Atau barangkali ini memang bukan surat, ini hanya memoar, atau mungkin hanya sebatas pembicaraan tentang kamu antara aku dan diriku sendiri atau mungkin aku tak akan pernah tahu bisa disebut apakah hal yang seperti ini.

 Ingatkah kamu? Ini bulan keenam, N. Sejak kamu dan aku memutuskan untuk berjalan berdampingan di jalan setapak yang sama. Iya. Ini pertengahan tahun kita. Memang benar, aku bahkan tak pernah memanggilmu sayang atau memanggilmu dengan panggilan kesayangan seperti  tradisi yang dilakukan kebanyakan pasangan lainnya. Aku juga bahkan tak pernah memberimu kabar secara teratur setiap harinya, tentang apa yang sedang kulakukan atau hanya sekedar menayakan kabarmu sebagai basa-basi untuk tetap menjaga komunikasi diantara kita. Maaf, jika selama perjalanan kita, aku bahkan tak pernah mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Tapi aku mengenalmu sebagai orang yang teramat sangat perasa, bukan? Bukankah kamu sudah tahu apa yang sebenarnya aku pendam dalam-dalam selama ini? Tentang perasaan yang sengaja tidak pernah ditunjukkan. Tentang rindu yang sengaja dikubur dalam-dalam. Tentang semua rahasia yang masih belum terkuak, yang sengaja tidak dibongkar, karena ada perempuan yang tak mau hatinya tersakiti sebab keterjatuhannya yang terlalu telak pada dekap seorang laki-laki yang  dingin dan kaku. Bukan maksudku untuk lari dari semua hal tentang rasa sakit atau mencoba pergi dari segala hal yang menyakitkan. Aku tahu bahwa bahagia dan rasa sakit ditakdirkan untuk berjalan berdampingan. Aku tahu bahwa rasa sakit akan menjadi bayangan abadi milik bahagia. Bukankah memang manusia dirancang untuk terluka? Bukankah manusia memang dirancang untuk merasakan sukarnya meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan sekarang? Bukankah rasa sakit memang seperti akar dan bahagia seperti pohon? Semakin tinggi pohon maka semakin besar pula akarnya. Semakin tinggi tingkat kebahagiaan seseorang, maka semakin besar peluang orang itu untuk merasakan rasa sakit. Maka dari itu, N, aku memutuskan untuk membatasi segala bentuk bahagia agar suatu saat aku tahu bahwa aku tak akan jatuh terlalu jauh dalam jurang yang kubuat sendiri. Maka dari itu, N, aku tak pernah teramat sangat mencintai seseorang, karena sungguh aku tak mau rasa cinta yang teramat sangat itu akan berubah menjadi rasa sakit yang teramat dalam juga. Aku tak pernah mau jatuh terlalu telak, pada siapapun, termasuk kamu.

Kalau kaumau tahu, aku telah berusaha begitu keras menahan diriku sendiri agar tidak jatuh terlalu telak kedalam kamu. Tapi, sungguh, kenyataan berbalik seratusdelapanpuluh derajat dengan skenario perasaan yang pernah kurancang matang-matang. Aku terlanjur menggali lubang bahagia yang begitu besar, aku telah terlanjur menjatuhkan diriku terlalu telak kepada kamu, aku telah mengetahui bahwa aku mendapat peluang lebih besar untuk merasakan hal-hal yang akan terasa teramat sangat menyakitkan. Bukankah pasti akan ada rintangan yang berat di setiap perjalanan yang hebat? Bukankah pasti ada konsekuensi dibalik sebuah komitmen? Dari awal, sejak aku memutuskan untuk berkomitmen kepadamu tentang kita, aku sudah tahu bahwa kita akan menempuh perjalanan yang hebat, N, tanpa tahu berapa lama waktu yang tersedia untuk menjadi jatah kita. Maka dari itu, bukankah menurutmu aku harus melumuri tubuhku dengan kesiapan menghadapi semua rasa sakit yang pasti akan menghapiri? Sejak aku memutuskan untuk berkomitmen tentang kita, aku tahu kamu yang akan menjadi lumuran kesiapanku untuk menghadapi segala rasa sakit, N. Sejak aku memutuskan untuk ikut berjalan disampingmu di jalan setapak yang sama, aku tahu bahwa kita akan selalu bisa menemukan jalan keluar jika nanti kita menemukan gang buntu di tengah-tengah perjalanan. Aku tak mau pasrah dengan apapun yang akan terjadi padaku, padamu, bahkan pada kita. Aku masih akan terus berjuang pada apapun jenis bahagia atau bahkan rasa sakit yang akan kita temui di persimpangan jalan. Aku bahkan masih tak ingin berjalan menjauh dari bekas-bekas jejak kakimu. Aku ingin bertahan. Ditengah badai yang akan kita hadapi. Di tengah hujan petir yang akan menghalangi. Di antara kabut tebal yang akan menggigilkan hati. Di antara jebakan debar-debar perih yang akan menghentikan perjalanan. Sungguh, aku tak akan menyerah pada hal-hal itu. Bukankah kamu juga akan berjanji kepadaku bahwa kamu tak akan menyerahkan dirimu untuk begitu saja kalah dengan segala hal yang sebenarnya bisa kaukalahkan?

Tahukah kamu bahwa akupun tak pernah tahu perasaan macam apa yang sedang kurasakan saat ini, N? Hanya ada kamu, aku, bayanganmu, dan bayanganku di dalamnya. Tak pernah aku temukan cahaya dan gelap di dalamnya. Hanya ada detak hujan dan purnama. Hanya ada lagu hujan dan senyum senja. Hanya ada rindu. Tanpa tahu untuk apa semua itu sengaja dihadirkan. Tanpa tahu atas dasar apa hal-hal itu sengaja dirancang hadir dalam perjalanan yang telah kita sepakati.

Tapi, N..
Bukankah rindu memang diciptakan untuk dipendam?
Bukankah cinta memang dihadirkan untuk dinikmati dalam-dalam ?
Bukankah rasa kecewa juga memang digoreskan agar disembunyikan diam-diam?
Bukankah tulisan tak akan ada artinya bila tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bernafas lega jika ada ruang?
Dan, bukankah memang teka-teki perasaan memang dirancang untuk tidak memiliki jawaban yang pasti?

Jika kaumau tahu tentang rahasia apa yang sebenarnya ingin kuungkapkan. Hanya kamu yang bisa menjawabnya, N. Hanya kamu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang muncul ketika kamu membaca surat ini. Yang jelas. Aku telah mengenalmu jauh lebih lama, dari yang kamu tahu. Untukku, tak butuh waktu lama untuk memahamimu. Percayakah kamu pada telepati, radar, atau semacamnya? Tidak? Kamu salah, aku sedang menunjukkan kepada kamu apa yang tidak pernah kamu pahami sebelumnya. Percayalah, jika kamu adalah pertanyaan, maka aku akan siap menjadi jawabannya. Jika kamu dermaga terakhir disepanjang samudra luas, aku ingin menjadi kapal terakhir yang bisa bertahan dari badai samudra yang mematikan. Jadikan aku hujan, Tuan, yang tak pernah salah menjatuhkan airnya, kepada tanah yang mencintainya.

Sudah terungkapkah rahasia apa yang ingin kusampaikan padamu melalui surat ini? Sudahkah kamu bisa meraba apa makna dibalik segala pertanda dan teka-teki? Begini saja, bayangkan jika selama ini kamu ternyata mencari potongan-potongan seseorang dalam setiap manusia yang kamu temui? Dan tiba-tiba, voila, hadirlah dia! Pieces of puzzle you’ve been looking for. All in one person.
Yang jelas, aku masih tak bisa menarik diriku sendiri dari keterjatuhan telak kepada kamu.
Lantas, N, apa lagi yang harus berusaha kutemukan jika aku sudah tahu segala yang kucari sedang bersembunyi dalam kita?

“Maka, jika pada akhirnya cinta membuat kita merasa ditinggalkan dan meninggalkan, tetaplah berdiri bersama ketulusan dan kerelaan. Sebab, saat kita memutuskan untuk jatuh cinta, sejatinya kita telah membuat kesepakatan kepada hati dan pikiran bahwa cinta suatu saat akan ditinggalkan atau meninggalkan. Tapi, kita tak perlu cemas kan? Jika hanya berfokus pada cinta yang menyakitkan, bagaimana kita bisa bahagia? Fokus saja pada hal yang membahagiakan, hingga pada apapun yang kita lakukan untuk memaknai cinta, kita akan tetap merasa bahagia. Jangan lupa persiapkan sabar saat menjaga cinta yang kaupunya, agar kita memiliki kerelaan dan ketulusan untuk memaknai cinta tanpa rengekan..”

                                               



Ingat, jangan mencintai laut biruku terlalu dalam, Sayang, sebab tak akan kautemukan jalan keluar jika kamu terlanjur tenggelam didasarnya...

  

0 komentar:

Posting Komentar