Sabtu, 27 Desember 2014

Seminggu Sebelum Bahagia

Aku memandangi wajah lelap Ray. Masih sama seperti biasanya, dia indah. Sangat indah. Hari ini, dia pulang lebih dulu dari pada aku, tanpa memberi tahu. Ada hal yang luar biasa indah di dalam dirinya-sekalipun ia sedang terlelap, yang mampu menghilangkan berjuta-jutapun rasa lelahku. Aku selalu tahu dan dia pun selalu meyakinkanku bahwa dia adalah sebaik-baiknya tempat aku selalu pulang dan kembali ketika harus pergi.
Pernikahan kami tinggal satu minggu lagi. Kami baru bertemu satu bulan yang lalu, disebuah rumah makan tempat orang tua kami sedang mengadakan pertemuan temu kangen, katanya. Iya. Dengan waktu sesingkat itu, mana mungkin kita sempat untuk menjalin hubungan seperti kebanyakan orang lainnya. Iya. Kita bukan seperti kebanyakan pasangan di dunia ini yang memutuskan menikah setelah berpacaran selama paling sedikit enam tahun mungkin. Iya. Dengan waktu sesingkat itu, jelaslah sudah, kita dijodohkan. Ah, tak ada yang percaya, di jaman seperti ini masih saja ada tradisi perjodohan yang dilakukan antara dua orang sibuk yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Kami orang kota, tapi tidak dengan orang tua kami.
Sejak pertama kali mata kami berpapasan, Ray mengaku dia telah jatuh cinta kepadaku. Ah, cinta pada pandangan pertama. Aku bukan wanita rumahan yang tidak tahu apa-apa soal cinta. Aku adalah wanita karir yang bahkan tak sempat meluangkan waktunya untuk melamun sedetikpun. Aku  seorang psikolog. Di salah satu perusahan ternama dan di salah satu Rumah Sakit Umum di Bandung. Aku juga menjadi donatur tetap disalah satu rumah sakit jiwa disana. Yabegitulah, sebagai psikolog aku pasti sudah bosan mendengarkan berbagai macam cerita dari orang-orang asing yang tak pernah kukenal bahkan kutemui sebelumnya. Mulai dari yang mengaku ingin bunuh diri karena ditinggal pergi dengan yang dianggap sebagai cinta sejatinya, ke masalah istri yang bingung bagaimana cara merebut kembali hati sumainya yang terlanjur jatuh cinta kepada sekretaris barunya yang jauh lebih seksi daripada dia, sampai ke masalah laki-laki yang bingung setengah mati kebingungan mengurus tiga anaknya setelah istrinya meninggal karena kanker belum lama ini.
Cerita-cerita itu terus berputar dalam otak. Menjadi sarapan pagi dan makan malamku setiap harinya. Masalah mereka sekarang menjadi masalahku. Masalah mereka membutuhkan solusi secepatnya. Sungguh, tak akan kuat melihat orang-orang yang tiba-tiba datang ke ruangan ku dalam keadaan sedang menangis sejadi-jadinya, meminta tolong sekuat-kuatnya, menyalahkan Tuhan sekena-kenanya, karena mereka tak tahu harus kemana lagi berlari selain kesini. Dan menceritakan semuanya kepadaku.
Kembali lagi pada Ray yang mengaku telah jatuh cinta kepadaku pada pandangan pertama. Oh, ayolah Ray, aku tak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. But, i do believe with love at the first click, anyway. Tapi, mendengar kamu telah jatuh cinta kepadaku adalah sebuah kelegaan besar ku, Ray. Bagaimana mungkin aku bisa menikahi laki-laki yang bahkan tidak mencintaiku. Maka sejak hari pertama pertemuan itu, aku merelakan hatiku untuk menikahi mu dan menikahi keluargamu, Ray. Aku siap. Tapi, tunggu. Mungkin sekarang, aku belum siap.
Namanya Ray. Ryan Kurniawan. Aku tak tahu dari mana asalnya nama panggilan Ray. Toh, itu sungguh bukan hal besar yang harus dipermasalahkan. Dia tinggi, tidak terlalu putih, tidak juga hitam, matanya coklat, cenderung menjorok kebagian dalam, pria berkacamata, bekerja sebagai Direktur Utama perusahaan milik ayahnya di Jakarta. Ah, perempuan mana yang sanggup melangkah menjauh dengan seluruh kesempurnaan Ray. Dia hebat. Di usianya yang ke dua puluh tujuh tahun dia memimpin sebuah perusahaan. Mungkin itulah sebabnya dia tak punya waktu untuk mencari-cari wanita yang tepat untuk menjadi teman hidupnya. Maka, diserahkanlah urusan itu kepada Abah dan Bundanya. Dan, voila, aku berdiri disampingnya sebagai kandidat yang bertahan untuk menjadi teman hidup Ray, nanti. Tujuh hari lagi.
Sebagai dua pekerja keras, kami tak sempat menyiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan di pernikahan nanti. Jadi, kami putuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Ayah, Bunda, Mami, dan Papa. Mereka mengiyakan keputusan itu. Maka, akhirnya, bebaslah kami dari semua urusan itu.
“Kenapa kamu memilih lebih diam akhir-akhir ini? Kalau Mas ada salah, kamu bilang dong, Sayang. Kamu tahu, Mas benci isyarat.” kata Ray menghampiriku setelah dia tiba-tiba terbangun karena suara kucuran air mandiku lima menit lalu.
“Dalam keraguan orang akan memilih lebih baik diam, Mas..” jawabku seadanya tanpa menatap matanya selekat biasanya.
“Ayolah, Re. Tidak pernah kamu sediam ini. Apa lagi yang harus kamu ragukan. Acaranya sebentar lagi..”
“Bukan. Bukan tentang pernikahan itu, Ray..”
“Lantas apalagi, Sayang? Aku mencintaimu, sungguh.” Dia mengatakannya dengan suara rendah. Tangannya memelukku dari belakang. Berusaha mengalihkan pandanganku yang daritadi tak pernah mau menemui matanya.
“Aku tak mengatakan bahwa aku tak mencintaimu, Ray. Aku pun mencintaimu, utuh.”
“Rea Firasamala Kurniawan, bicaralah, katakan apapun yang ingin kamu katakan..”
Mendengar nama belakangnya yang tiba-tiba dia letakkan seenaknya pada nama belakangku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku sedang tidak berada di dalam diriku sendiri. Aku sedang tidak baik-baik saja, Sayang. Satu minggu sebelum hari pernikahan kita, ada banyak keraguan yang disertai tanda tanya besar dalam diriku. Pantaskah aku berada disampingmu? Pantaskah kamu menjadi milikku? Pantaskah aku menikahimu, Ray? Ah, pantaskah aku menjadi wanita pilhanmu dan keluargamu? Pantaskah aku? Pantaskah aku?
Ray mengeratkan pelukannya. Dia merasakan kebingungan seperti kebingungan yang sedang kurasakan, yang selama ini berusaha kupendam sendiri. Sungguh, aku tak sanggup membiarkan Ray tersiksa dengan masalah-masalah yang memang diperuntukkan hanya untuk aku dan diriku. Masalah yang ditakdirkan ada untuk tidak memiliki solusi dan jalan keluar.
“Sungguh, Ray.. Jika menikahi mu berarti aku juga harus menikahi keluargamu, aku telah siap. Aku telah yakin kepadamu sejak pertama kali tatapan kita bertemu. Tapi, Ray...” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Mulutku menganga, tapi tak ada satupun kata yang sanggup kulontarkan dihadapan Ray. Matanya telah berkaca-kaca. Ray panik. Aku tak sanggup melihat kecintaan ku sebigini tersiksa dengan diamku.
“Kenapa, Sayang? Re.. tolong, lepaskan semuanya. Aku rumahmu, Re. Buang segalanya, jangan pendam sakit itu sendirian, Sayang.. aku ada tidak untuk kauanggap tidak ada.” aku tahu bagaimana usahamu menenangkanku disaat kamu sendiri tak bisa merasa tenang dengan semua ini, Ray. Aku tahu kamu tahu aku mencintaimu.
“Mengapa aku harus mengetahui bahwa untuk berada disisimu harus semenyakitkan ini baru seminggu sebelum pernikahan kita, Ray?” aku mengancamnya. Sekuat tenaga aku berkata-kata ditengah kekeringanku. Ray mendadak kaku, seperti orang kedinginan yang baru saja keluar dari lautan penuh es. Kamu pasti tahu kemana arah pembicaraan kita, Ray. Aku tahu engkau tahu.
“Kemarin ada wanita yang tiba-tiba masuk keruang kerjaku, membawa anak laki-lakinya yang tampan, matanya coklat, kulitnya tidak terlalu putih, tidak juga hitam, Ray. Umurnya sekitar setengah tahunan. Dia tampan dalam gendongan ibunya yang sedang menangis sejadi-jadinya. Wanita itu mengeluh kepadaku tentang hidupnya. Dia menyalahkan Tuhan atas semua masalah yang sedang dia hadapi. Tentang bapak anaknya yang pergi begitu saja tanpa berani bertanggung jawab atas semua hal yang telah dilakukannya. Wanita itu mengaku bapak dari anaknya tak mau bertanggung jawab. Iya, Ray. Laki-laki yang bahkan belum jadi suaminya itu tidak mau bertanggung jawab. Dia memintaku agar merasakan hal yang dia rasakan dan menyuruhku untuk segera mencarikan solusinya. Kautahu, Ray? Aku telah berjanji kepadanya, jika aku merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan, aku akan memutuskan untuk menguliti laki-laki pengecut yang melarikan diri setelah hal memalukan yang telah dia lakukan. Nama wanita itu Ratu. Dan anak laki-lakinya, Bayu Kurniawan.”
Kamu mendadak berlutut dihadapanku yang sakit sesakit sakitnya. Kamu menangis sejadi jadinya. Kamu tak lagi berani menatap lekat mataku. Kamu menciumi kakiku. Aku bisa merasakan sesaknya nafasmu, Ray. Aku merasakan rasa takut dan sakitmu.   
“Rea sayang...”
“Kemana perginya kamu enam bulan lalu, saat kekasihmu membutuhkanmu disampingnya untuk menemaninya berjuang melahirkan anakmu, Ray?”

0 komentar:

Posting Komentar