Aku memandangi wajah lelap Ray. Masih
sama seperti biasanya, dia indah. Sangat indah. Hari ini, dia pulang lebih dulu
dari pada aku, tanpa memberi tahu. Ada hal yang luar biasa indah di dalam
dirinya-sekalipun ia sedang terlelap, yang mampu menghilangkan berjuta-jutapun
rasa lelahku. Aku selalu tahu dan dia pun selalu meyakinkanku bahwa dia adalah
sebaik-baiknya tempat aku selalu pulang dan kembali ketika harus pergi.
Pernikahan kami tinggal satu minggu
lagi. Kami baru bertemu satu bulan yang lalu, disebuah rumah makan tempat orang
tua kami sedang mengadakan pertemuan temu
kangen, katanya. Iya. Dengan waktu sesingkat itu, mana mungkin kita sempat
untuk menjalin hubungan seperti kebanyakan orang lainnya. Iya. Kita bukan
seperti kebanyakan pasangan di dunia ini yang memutuskan menikah setelah
berpacaran selama paling sedikit enam tahun mungkin. Iya. Dengan waktu
sesingkat itu, jelaslah sudah, kita dijodohkan. Ah, tak ada yang percaya, di
jaman seperti ini masih saja ada tradisi perjodohan yang dilakukan antara dua
orang sibuk yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Kami orang kota, tapi
tidak dengan orang tua kami.
Sejak pertama kali mata kami berpapasan,
Ray mengaku dia telah jatuh cinta kepadaku. Ah, cinta pada pandangan pertama. Aku
bukan wanita rumahan yang tidak tahu apa-apa soal cinta. Aku adalah wanita karir
yang bahkan tak sempat meluangkan waktunya untuk melamun sedetikpun. Aku seorang psikolog. Di salah satu perusahan ternama
dan di salah satu Rumah Sakit Umum di Bandung. Aku juga menjadi donatur tetap
disalah satu rumah sakit jiwa disana. Yabegitulah, sebagai psikolog aku pasti
sudah bosan mendengarkan berbagai macam cerita dari orang-orang asing yang tak
pernah kukenal bahkan kutemui sebelumnya. Mulai dari yang mengaku ingin bunuh
diri karena ditinggal pergi dengan yang dianggap sebagai cinta sejatinya, ke
masalah istri yang bingung bagaimana cara merebut kembali hati sumainya yang
terlanjur jatuh cinta kepada sekretaris barunya yang jauh lebih seksi daripada
dia, sampai ke masalah laki-laki yang bingung setengah mati kebingungan mengurus
tiga anaknya setelah istrinya meninggal karena kanker belum lama ini.
Cerita-cerita itu terus berputar dalam
otak. Menjadi sarapan pagi dan makan malamku setiap harinya. Masalah mereka
sekarang menjadi masalahku. Masalah mereka membutuhkan solusi secepatnya. Sungguh,
tak akan kuat melihat orang-orang yang tiba-tiba datang ke ruangan ku dalam
keadaan sedang menangis sejadi-jadinya, meminta tolong sekuat-kuatnya,
menyalahkan Tuhan sekena-kenanya, karena mereka tak tahu harus kemana lagi
berlari selain kesini. Dan menceritakan semuanya kepadaku.
Kembali lagi pada Ray yang mengaku telah
jatuh cinta kepadaku pada pandangan pertama. Oh, ayolah Ray, aku tak pernah
percaya pada cinta pada pandangan pertama. But,
i do believe with love at the first click, anyway. Tapi, mendengar kamu
telah jatuh cinta kepadaku adalah sebuah kelegaan besar ku, Ray. Bagaimana
mungkin aku bisa menikahi laki-laki yang bahkan tidak mencintaiku. Maka sejak
hari pertama pertemuan itu, aku merelakan hatiku untuk menikahi mu dan menikahi
keluargamu, Ray. Aku siap. Tapi, tunggu. Mungkin sekarang, aku belum siap.
Namanya Ray. Ryan Kurniawan. Aku tak tahu
dari mana asalnya nama panggilan Ray. Toh, itu sungguh bukan hal besar yang
harus dipermasalahkan. Dia tinggi, tidak terlalu putih, tidak juga hitam,
matanya coklat, cenderung menjorok kebagian dalam, pria berkacamata, bekerja
sebagai Direktur Utama perusahaan milik ayahnya di Jakarta. Ah, perempuan mana
yang sanggup melangkah menjauh dengan seluruh kesempurnaan Ray. Dia hebat. Di
usianya yang ke dua puluh tujuh tahun dia memimpin sebuah perusahaan. Mungkin
itulah sebabnya dia tak punya waktu untuk mencari-cari wanita yang tepat untuk
menjadi teman hidupnya. Maka, diserahkanlah urusan itu kepada Abah dan
Bundanya. Dan, voila, aku berdiri
disampingnya sebagai kandidat yang bertahan untuk menjadi teman hidup Ray,
nanti. Tujuh hari lagi.
Sebagai dua pekerja keras, kami tak
sempat menyiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan di pernikahan nanti. Jadi,
kami putuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Ayah, Bunda, Mami, dan Papa. Mereka
mengiyakan keputusan itu. Maka, akhirnya, bebaslah kami dari semua urusan itu.
“Kenapa kamu memilih lebih diam akhir-akhir
ini? Kalau Mas ada salah, kamu bilang dong, Sayang. Kamu tahu, Mas benci
isyarat.” kata Ray menghampiriku setelah dia tiba-tiba terbangun karena suara
kucuran air mandiku lima menit lalu.
“Dalam keraguan orang akan memilih lebih
baik diam, Mas..” jawabku seadanya tanpa menatap matanya selekat biasanya.
“Ayolah, Re. Tidak pernah kamu sediam
ini. Apa lagi yang harus kamu ragukan. Acaranya sebentar lagi..”
“Bukan. Bukan tentang pernikahan itu,
Ray..”
“Lantas apalagi, Sayang? Aku
mencintaimu, sungguh.” Dia mengatakannya dengan suara rendah. Tangannya memelukku
dari belakang. Berusaha mengalihkan pandanganku yang daritadi tak pernah mau
menemui matanya.
“Aku tak mengatakan bahwa aku tak
mencintaimu, Ray. Aku pun mencintaimu, utuh.”
“Rea Firasamala Kurniawan, bicaralah,
katakan apapun yang ingin kamu katakan..”
Mendengar nama belakangnya yang
tiba-tiba dia letakkan seenaknya pada nama belakangku, aku menangis
sejadi-jadinya. Aku sedang tidak berada di dalam diriku sendiri. Aku sedang
tidak baik-baik saja, Sayang. Satu minggu sebelum hari pernikahan kita, ada banyak
keraguan yang disertai tanda tanya besar dalam diriku. Pantaskah aku berada disampingmu? Pantaskah kamu menjadi milikku?
Pantaskah aku menikahimu, Ray? Ah, pantaskah aku menjadi wanita pilhanmu dan
keluargamu? Pantaskah aku? Pantaskah aku?
Ray mengeratkan pelukannya. Dia merasakan
kebingungan seperti kebingungan yang sedang kurasakan, yang selama ini berusaha
kupendam sendiri. Sungguh, aku tak sanggup membiarkan Ray tersiksa dengan
masalah-masalah yang memang diperuntukkan hanya untuk aku dan diriku. Masalah
yang ditakdirkan ada untuk tidak memiliki solusi dan jalan keluar.
“Sungguh, Ray.. Jika menikahi mu berarti
aku juga harus menikahi keluargamu, aku telah siap. Aku telah yakin kepadamu
sejak pertama kali tatapan kita bertemu. Tapi, Ray...” aku tak sanggup
melanjutkan kata-kataku. Mulutku menganga, tapi tak ada satupun kata yang
sanggup kulontarkan dihadapan Ray. Matanya telah berkaca-kaca. Ray panik. Aku
tak sanggup melihat kecintaan ku sebigini tersiksa dengan diamku.
“Kenapa, Sayang? Re.. tolong, lepaskan
semuanya. Aku rumahmu, Re. Buang segalanya, jangan pendam sakit itu sendirian,
Sayang.. aku ada tidak untuk kauanggap tidak ada.” aku tahu bagaimana usahamu
menenangkanku disaat kamu sendiri tak bisa merasa tenang dengan semua ini, Ray.
Aku tahu kamu tahu aku mencintaimu.
“Mengapa aku harus mengetahui bahwa
untuk berada disisimu harus semenyakitkan ini baru seminggu sebelum pernikahan
kita, Ray?” aku mengancamnya. Sekuat tenaga aku berkata-kata ditengah kekeringanku.
Ray mendadak kaku, seperti orang kedinginan yang baru saja keluar dari lautan
penuh es. Kamu pasti tahu kemana arah pembicaraan kita, Ray. Aku tahu engkau
tahu.
“Kemarin ada wanita yang tiba-tiba masuk
keruang kerjaku, membawa anak laki-lakinya yang tampan, matanya coklat, kulitnya
tidak terlalu putih, tidak juga hitam, Ray. Umurnya sekitar setengah tahunan. Dia
tampan dalam gendongan ibunya yang sedang menangis sejadi-jadinya. Wanita itu
mengeluh kepadaku tentang hidupnya. Dia menyalahkan Tuhan atas semua masalah
yang sedang dia hadapi. Tentang bapak anaknya yang pergi begitu saja tanpa
berani bertanggung jawab atas semua hal yang telah dilakukannya. Wanita itu
mengaku bapak dari anaknya tak mau bertanggung jawab. Iya, Ray. Laki-laki yang
bahkan belum jadi suaminya itu tidak mau bertanggung jawab. Dia memintaku agar
merasakan hal yang dia rasakan dan menyuruhku untuk segera mencarikan
solusinya. Kautahu, Ray? Aku telah berjanji kepadanya, jika aku merasakan hal
yang sama seperti apa yang dia rasakan, aku akan memutuskan untuk menguliti
laki-laki pengecut yang melarikan diri setelah hal memalukan yang telah dia
lakukan. Nama wanita itu Ratu. Dan anak laki-lakinya, Bayu Kurniawan.”
Kamu mendadak berlutut dihadapanku yang
sakit sesakit sakitnya. Kamu menangis sejadi jadinya. Kamu tak lagi berani
menatap lekat mataku. Kamu menciumi kakiku. Aku bisa merasakan sesaknya nafasmu,
Ray. Aku merasakan rasa takut dan sakitmu.
“Rea sayang...”
“Kemana perginya kamu enam bulan lalu,
saat kekasihmu membutuhkanmu disampingnya untuk menemaninya berjuang melahirkan
anakmu, Ray?”
0 komentar:
Posting Komentar