Tak pernah aku
katakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu. Maafkan aku soal itu. Aku
pernah disakiti. Beberapa kali. Itulah sebabnya, aku tak mau lagi main-main
soal pengakuan rasa. Aku tak akan mau mempermainkan harapan orang lain dengan
kata-kata yang tak disaring oleh hati.
Bukan karena aku ragu. Bukan karena aku
takut bahwa kamu adalah seseorang yang salah untukku. Bukan. Kita tidak mungkin
selamanya bahagia dan baik-baik saja. Sudah seharusnya kamu pernah kesal
kepadaku, kamu pernah membenci sifatku, dan begitupun aku kepadamu. Tak apa.
Ini bukan soal seberapa lama kita harus saling mengenal. Karena jika memang
begitu, sudah terlalu dalam samudera yang telah kita selami. Ini bukan soal
seberapa besar pencapaian akan hal-hal yang pernah menjadi mimpi. Karena jika
memang begitu, sudah banyak yang semesta berikan kepada kita. Katakan padaku
dengan cara apa seharusnya aku mengungkapkan perasaan ini. Maka akan
kuungkapkan. Katakan padaku dengan cara yang kauinginkan. Maka akan kulakukan.
Sedalam itu perasaanku. Jika kau ingin tahu sejak dulu.
Mungkin sepintas
kamu akan berpikir bahwa ini omong kosong. Tidak. Kamu salah. Bukan. Bukannya
aku sok tahu akan segalanya. Aku sudah cukup sadar dan besar untuk tahu apa
yang akan kulakukan pada seseorang yang memang harus ku perjuangkan. Tanyakan
pada semua orang yang mengenalku. Pernahkan sedikit saja ada perasaan inginku
untuk menganggapmu tidak ada meski aku jauh darimu? Tanyakan sekali lagi pada
mereka yang mengenalku. Pernahkah aku mencoba lari dari perasaan ku padamu
meski aku sudah terlalu jauh jatuh didalamnya? Tanyakan berkali-kali jika kamu
mulai temukan sedikit saja perasaan ragu terhadapku. Aku tak pernah ingin
main-main soal perasaanku. Padamu. Itulah sebabnya, aku memilih untuk menahan
semuanya sebelum pantas untuk aku ungkapkan. Pelan-pelan.
Aku mungkin
bukan yang kamu inginkan. Aku bukan seseorang yang selalu ada untukmu. Aku
kadang tidak semenyenangkan teman-temanmu. Ada hal-hal yang mungkin seharusnya
tidak kuketahui darimu. Dan teman-temanmu lebih berhak tahu itu daripada aku. Kadang
aku tidak menjadi satu-satunya bagimu. Aku tahu, kamu pasti pernah berikan rasa
nyaman mu, sedikit saja, pada orang selain aku. Tak apa, jangan pernah ragu
soal perasaanmu. Pada apapun yang menghantuimu. Aku hargai kecenderunganmu. Setiap
orang pasti butuh ruang. Perlu jeda. Untuk setiap cerita yang coba ia pena. Jangan
kau coba tutupi. Berbagilah denganku. Aku tak akan marah.
Setelah semua
yang aku rasakan. Setelah semua yang telah kita coba hadapi. Aku tetap memilih
untuk mengatakan bahwa bersamamu aku tak merasa keliru. Bersamamu waktuku tak
sia-sia. Sebahagia itu aku bisa menjadi teman dan tempat yang sempat kamu
impikan.
Aku
menyayangimu. Dengan cara-cara yang mungkin belum kau mengerti. Lewat
langkah-langkah yang belum berhasil kau terjemahkan. Aku mengagumimu. Melalui
suara-suara yang hanya terdengar oleh yang tak tertangkap mata. Melewati celah
kecil yang disediakan oleh udara. Untuk itu, berjuanglah bersamaku melawan jarak
yang begitu jahat. Mari kita taklukkan setiap rindu-rindu yang hendak merusak.
Bersamamu, sekali lagi, aku tak merasa keliru. Percayalah dengan yang akan kau
anggap omong kosong ini.
Kamu pernah
memintaku untuk menjelaskan bagaimana kamu di mataku, sejak lama. Kamu pernah menanyakan
padaku bagaimana sudut pandangku melihat kamu, sejak dulu. Dan aku tak pernah
menjawab. Aku tak pernah bisa menjelaskan sesuatu yang tak terjelaskan oleh kata. Aku bahkan tidak
tahu harus memulai dari titik yang mana jika memang kamu paksa aku untuk
bercerita. Kamu mahakarya. Yang sulit aku baca. Yang kadang melelahkan. Tak
jarang aku menyerah, membiarkan hatiku merasakan apapun yang seharusnya. Kamu
sulit kukendalikan. Kamu sulit aku terjemahkan.
Lalu, kuputuskan untuk
menuliskan kamu hari ini.
Jika mereka bilang
aku adalah pelukis, maka kamu adalah kanvas kecil. Tempat aku lukiskan apapun
yang ingin aku tuangkan. Ada kemegahan yang teramat besar dalam kecilnya kamu.
Dan aku tidak akan pernah menyerah dan takut untuk berantakan setiap kali aku
harus menyentuhmu.
Kamu adalah
kelopak mawar di setiap halaman buku yang aku baca; merah merekah diatas
putihnya tiap-tiap spasi. Kuhargai kamu dengan setiap memori yang datang dan
sesekali menantang.
Kamu teka-teki.
Kamu pertanyaan yang sulit untuk kucari jawabannya. Rasanya masih banyak sekali
yang tersembunyi di matamu, meskipun sudah berjam-jam kamu bercerita tentang banyak
hal padaku.
Pada akhirnya, setelah sekian
lama melewati ribuan kata dan bahasa. Setelah sekian panjang cerita yang ada kamu didalamnya. Baru aku sadar. Tidak ada lagi bahasa yang tersisa; yang bisa
menggambarkan bagaimana perasaanku; apa jawaban atas semua pertanyaan yang
bahkan tak pernah kamu sampaikan padaku. Kamu tak perlu tahu. Rasakan sampai
kamu bisa temukan jawabannya. Satu hal yang bisa kupastikan, bahwa ternyata aku
tak pernah istirahat. Perjuangkan apa yang seharusnya. Mimpi-mimpiku. Dan.
Kamu.
Mari kita cari
tahu apa yang setelah ini harus kita perjuangkan. Berbagilah denganku tentang
mimpi-mimpimu. Mari nikmati setiap proses yang mungkin akan melelahkan. Jangan
lepaskan mimpimu. Terus kejar apa yang kamu mau. Lari secepat yang kamu bisa.
Jangan pernah berhenti untuk merasa. Berhentilah sejenak jika ternyata kamu benar-benar lelah setelah berusaha. Aku akan datang untuk melihatmu berlari lebih kencang
setelahnya.
Tak usah berusaha setengah mati untuk mencari tahu dimana akhir
dari sebuah cerita. Nikmati setiap rapatan dan celahnya. Hatimu sudah tahu jawabannya. Jantungmu
tahu untuk siapa ia mendetakkan denyutnya.
Berbahagialah
dengan lantang. Sebab, aku ada disampingmu untuk merayakannya.
Menangislah
dengan kencang. Sebab, aku ada disampingmu untuk menikmatinya.
Denganmu aku punya ruang dan jeda yang tak
pernah surut
Karenamu aku punya alasan untuk
memperjuangkan mimpi tanpa perlu kusut
Tanpamu sedihku tak akan bisa larut
Bersamamu, aku tak pernah keliru
h
0 komentar:
Posting Komentar