Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana
N.. apakah kamu percaya bawa
bahagia –yang bukan sandiwara- itu benar-benar ada? Apa ada yang salah dari
caraku berpura-pura bahagia di depanmu selama ini? Katamu, aku ini sudah
terlampau bahagia dengan jalan pilihanku. Tapi dugaanmu selama ini salah, N.
Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika aku masih tak bisa melepaskan diri dari
masa yang bernama lalu, yang di dalamnya ada kamu?
Mungkin memang benar, aku yang bodoh. Tapi,
percayalah.. aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa untuk melepaskan diri dari
masa itu. Tapi, N, lagi-lagi aku gagal. Aku bukan orang yang kuat. Aku juga
bukan orang yang terlalu lemah. Aku bahkan tidak tahu mengapa sisa
bayangan-bayangan yang berbentuk kamu masih saja terus berotasi dalam semesta
milikku. Maaf, N, aku masih saja belum berhasil lari dari semuanya; meskipun
kamu sudah menyuruhku untuk lari…berkali-kali.
Lagi-lagi, N.. kamu jadi
misteri hari ini. Beberapa hari lalu kamu masih menghubungiku, tapi sudah dua
hari terakhir kamu menghilang (lagi). Atau mungkin malah menjauh dariku.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi, N? Apakah ada banyak hal yang sedang kamu
sembunyikan dariku? Tapi… yasudahlah, aku mengerti. Aku tak pernah jadi
siapa-siapamu. Aku tak berhak menuntutmu agar selalu menghubungiku. Aku tak pantas
memintamu agar selalu mengabariku. Tapi, jika kamu mau tahu, N, meskipun hanya
pesan singkat –yang terlampau singkat- aku senang mendapatkannya darimu. Jika
sehari saja tak ada namamu dalam inbox-ku,
rasanya ada sesuatau yang hilang –tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya
hilang-. Aku juga bingung, selain rindu, pesan singkatmu –yang terlampau
singkat- juga sudah mulai menjadi canduku, N. Mungkin, kamu anggap ini
berlebihan, tapi sungguh, ini kenyataan perasaan.
N.. apakah menurutmu, berharap
yang terlampau berharap itu salah? Tapi, aku benar-benar sudah siap untuk jatuh
dari ketinggian berapapun apabila harapanku harus hancur begitu saja.
Oh iya, N.. Sampai sekarang,
aku masih berangan-angan bagaimana jadinya seandainya aku menerima balasan
darimu atas semua surat yang kuberikan kepadamu –meskipun aku tak pernah
mengirimnya ke alamat yang jelas-? Tapi bukankah itu semua hanya bagian dari
impian atau hanya sebatas mimpi saja? Awalnya, aku berniat untuk mengumpulkan
surat dan memoar ini dan akan kubuat menjadi sebuah buku. Tapi, rasanya tak
pantas, N. Aku masih amatir dalam membuat surat atau memoar, apalagi dalam
membuat buku. Tak lucu jika banyak orang datang kerumahku, bukan untuk meminta
tanda tangan di lembar pertama buku yang kutulis, melainkan protes dengan
kata-kata yang penuh hiperbola yang kuciptakan dan gaya bahasa yang sama sekali
tidak mereka sukai. Seperti kamu dan aku, N. Kita juga masih amatir; hanya
sepasang orang yang baru mengenal tapi sudah memaksa bertemu di jalan yang
sama. Toh, jika ini kujadikan sebuah buku, dan kutuliskan nama lengkapmu –tidak
sebatas nama N- di halaman persembahannya, tak akan pernah membawamu kembali
kesini kan? Tapi, menulis tentang kamu sangat menyenangkan, N. Meskipun aku
menulisnya harus tersendat dengan rindu dan air dari mata, tapi ketika aku
membawa kamu dalam tulisanku, kamu seperti benar-benar ada di sampingku;
berbisik-bisik menceritakan apa saja yang pernah kamu dan aku lakukan. Kamu
seperti hadir begitu dekat, meskipun ketenangan yang kuperoleh semu dan tidak
permanen, itu sudah lebih dari sekedar cukup untukku. Aku sangat menikmati
semua proses penulisannya. Bahkan aku bisa menikmatimu.. dalam tulisan yang
kuciptakan.
N.. aku rasa cukup untuk hari
ini..
Ada seseorang yang sedang
berjalan kesini untuk menemuiku. Aku hanya tak ingin ada yang tahu kalau surat
ini khusus kubuat untuk kamu. Terlebih, aku juga tidak ingin ada yang menyadari
bahwa diam-diam kamu sudah masuk dalam semestaku..
Termasuk kamu, N..
Dari,
Aku.
0 komentar:
Posting Komentar