Senin, 16 Juni 2014

Dalam Kamu, Kutemukan Candu Baru (6)

Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana

N.. apakah kamu percaya bawa bahagia –yang bukan sandiwara- itu benar-benar ada? Apa ada yang salah dari caraku berpura-pura bahagia di depanmu selama ini? Katamu, aku ini sudah terlampau bahagia dengan jalan pilihanku. Tapi dugaanmu selama ini salah, N. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika aku masih tak bisa melepaskan diri dari masa yang bernama lalu, yang di dalamnya ada kamu?
Mungkin memang benar, aku yang bodoh. Tapi, percayalah.. aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa untuk melepaskan diri dari masa itu. Tapi, N, lagi-lagi aku gagal. Aku bukan orang yang kuat. Aku juga bukan orang yang terlalu lemah. Aku bahkan tidak tahu mengapa sisa bayangan-bayangan yang berbentuk kamu masih saja terus berotasi dalam semesta milikku. Maaf, N, aku masih saja belum berhasil lari dari semuanya; meskipun kamu sudah menyuruhku untuk lari…berkali-kali.
Lagi-lagi, N.. kamu jadi misteri hari ini. Beberapa hari lalu kamu masih menghubungiku, tapi sudah dua hari terakhir kamu menghilang (lagi). Atau mungkin malah menjauh dariku. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi, N? Apakah ada banyak hal yang sedang kamu sembunyikan dariku? Tapi… yasudahlah, aku mengerti. Aku tak pernah jadi siapa-siapamu. Aku tak berhak menuntutmu agar selalu menghubungiku. Aku tak pantas memintamu agar selalu mengabariku. Tapi, jika kamu mau tahu, N, meskipun hanya pesan singkat –yang terlampau singkat- aku senang mendapatkannya darimu. Jika sehari saja tak ada namamu dalam inbox-ku, rasanya ada sesuatau yang hilang –tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya hilang-. Aku juga bingung, selain rindu, pesan singkatmu –yang terlampau singkat- juga sudah mulai menjadi canduku, N. Mungkin, kamu anggap ini berlebihan, tapi sungguh, ini kenyataan perasaan.
N.. apakah menurutmu, berharap yang terlampau berharap itu salah? Tapi, aku benar-benar sudah siap untuk jatuh dari ketinggian berapapun apabila harapanku harus hancur begitu saja.
Oh iya, N.. Sampai sekarang, aku masih berangan-angan bagaimana jadinya seandainya aku menerima balasan darimu atas semua surat yang kuberikan kepadamu –meskipun aku tak pernah mengirimnya ke alamat yang jelas-? Tapi bukankah itu semua hanya bagian dari impian atau hanya sebatas mimpi saja? Awalnya, aku berniat untuk mengumpulkan surat dan memoar ini dan akan kubuat menjadi sebuah buku. Tapi, rasanya tak pantas, N. Aku masih amatir dalam membuat surat atau memoar, apalagi dalam membuat buku. Tak lucu jika banyak orang datang kerumahku, bukan untuk meminta tanda tangan di lembar pertama buku yang kutulis, melainkan protes dengan kata-kata yang penuh hiperbola yang kuciptakan dan gaya bahasa yang sama sekali tidak mereka sukai. Seperti kamu dan aku, N. Kita juga masih amatir; hanya sepasang orang yang baru mengenal tapi sudah memaksa bertemu di jalan yang sama. Toh, jika ini kujadikan sebuah buku, dan kutuliskan nama lengkapmu –tidak sebatas nama N- di halaman persembahannya, tak akan pernah membawamu kembali kesini kan? Tapi, menulis tentang kamu sangat menyenangkan, N. Meskipun aku menulisnya harus tersendat dengan rindu dan air dari mata, tapi ketika aku membawa kamu dalam tulisanku, kamu seperti benar-benar ada di sampingku; berbisik-bisik menceritakan apa saja yang pernah kamu dan aku lakukan. Kamu seperti hadir begitu dekat, meskipun ketenangan yang kuperoleh semu dan tidak permanen, itu sudah lebih dari sekedar cukup untukku. Aku sangat menikmati semua proses penulisannya. Bahkan aku bisa menikmatimu.. dalam tulisan yang kuciptakan.

N.. aku rasa cukup untuk hari ini..
Ada seseorang yang sedang berjalan kesini untuk menemuiku. Aku hanya tak ingin ada yang tahu kalau surat ini khusus kubuat untuk kamu. Terlebih, aku juga tidak ingin ada yang menyadari bahwa diam-diam kamu sudah masuk dalam semestaku..
Termasuk kamu, N..

                                                       
                             Dari,

                                                                                         Aku. 

0 komentar:

Posting Komentar