Minggu, 15 Juni 2014

Hujan Punya Rahasia (1)

Teruntuk N
Disuatu tempat yang entah dimana

“Aku tidak sedang menanti, aku tengah melangkah untuk menjemput. Maka ku tinggikan segala upaya dan kesabaran. Semoga dihadiahi keindahan.”

Pertama-tama, N. Aku ingin bercerita bagaimana aku bisa menaruh perasaan juga harapan kepada kamu. Aku ingin membuka (lagi) ingatan tentang hujan-yang menjadi kenangan-. Mungkin benar, ini tentang kamu dan aku yang belum sempat menjadi kita.

Kamu tahu? Saat aku menuliskan surat ini, langit sedang menangis; hujan sedang bertepuk tangan di atap rumah. Iya. Ini adalah lagu tergalau senja hari ini. Aku menikmati suara-suara setiap rintiknya. Kutatap lekat-lekat bagaimana cara hujan mendarat kepermukaan.
Tunggu dulu…
Di salah satu rintik hujan, aku melihat kita. Maksudku, aku melihat kamu dan aku. Kenangan, N.

---

        “Masih deres. Kamu yakin mau lari ke halte?”
tanyaku yang kebingungan  dengan kamu yang tetap saja bersikeras untuk menembus hujan yang tak mau mengasihani kita yang sedang terjebak sore itu, setelah keluar dari salah satu rumah makan.
 “Jam berapa sekarang?”
“Setengah lima..”
“Sudah sore, mending kehujanan daripada harus pulang telat. Kamu pulang bareng aku kan?”
“Gimana bisa? angkotmu beda jurusan sama aku. Kamu mau nyiksa aku dengan menyuruhku berkeliling kota hujan-hujan begini?”
“kamu naik angkot bareng aku, turun dirumahku, terus kalau udah reda, baru aku anter kamu pulang. Janji deh..”
Aku melirikmu yang masih saja sedang kebingungan mencari cara menerobos hujan.
“Mau nggak nih? Nunggu di halte sendirian, sampai hujan reda? Udah sore, nanti kamu diapa-apain lagi sama orang jahat..”
“Terserah deh, aku ikut kamu aja..”
Lagi-lagi aku kalah. Maksudku, aku harus mengalah.
“Satu...Dua…Tiga…”
Kamu menghitung, meng-aba-aba-i untuk berlari. Kita menembus hujan bersama-sama. Suara tawa kecilmu terdengar samar berbaur suara tawa hujan. Aku baru sadar, ternyata kamu seindah hujan yang turun sore itu, N.

Tak butuh waktu lama untuk menuju halte. Kamu berada tepat disampingku. Dekat. Tubuh tinggi menjulangmu seakan melindungiku dari cipratan hujan. Aku memeras rok panjangku yang sudah terlampau basah.
“Pinjem lap kacamatamu..”
“Ini..”
Kamu membersihkan kacamatamu yang berembun karena hujan.
“Makasih..”
Saat itu, otakku seakan berhenti bekerja. Aku benar-benar baru sadar bahwa ada perasaan yang kusimpan untukmu, N.

“Basah ya?”
Kamu menatapku yang hanya setinggi bahumu.
“yang namanya kehujanan, ya basah lah, kamu ini gimana..”
“Maaf, aku buat kamu hujan-hujan. Beneran nggakpapa kan?”
“Nggakpapa kali, nyantai aja, udah biasa kok..”
“Nanti aku dimarahin lagi gara-gara kamu jadi sakit setelah kuhujan-hujanin?”
“Biasa aja kali, nggak usah berlebihan gitu..”
Aku menepuk keras bahumu.

        Kamu tahu, N? Baru kali ini aku bisa mendefinisikan secara jelas rasa nyaman kepada diriku sendiri...
Tak lama, kita menaiki angkot yang tergolong sepi penumpang. Hanya ada tiga ibu-ibu separuh baya dan dua bapak-bapak, termasuk sopir angkotnya. Kita memilih duduk berhadapan di sisi pojok angkot. Aku memilih diam. Terlalu dingin untuk berbicara denganmu kali ini. Diam-diam… salah satu diantara tiga ibu-ibu itu menatap kita, N. Aku melihat ada satu simpul kecil dibibirnya, sambil berbisik,
“Ah.. anak muda jaman sekarang.. pacaran hujan-hujan begini sudah nggak aneh lagi.”

Bukan. Bukan sepasang kekasih, Bu. Hanya sebatas teman saja. Tidak lebih.
Tiba-tiba… rasa nyeri menyerang dadaku pelan-pelan. Mungkin kenyataan yang sedang kita jalani jadi gara-garanya. Kita bertemu tidak untuk jadi satu. Rasanya, aku ingin menepis kenyataan itu, sesegera mungkin.
“Sumpah..hujan-hujan sore begini..sepertinya manis..”
Akhirnya suaramu memecahkan percapakanku dengan diriku sendiri. Aku tak menjawab, aku hanya tertawa kecil kepadamu.
Tunggu dulu… Manis? Apa maksudnya?
       
---

Ingatan itu, tiba-tiba masuk dalam perotasian otakku, N. Hujan sudah jadi saksi bisu, saat pertama kali aku menyadari kehadiranmu; sekaligus-saat ini- menjadi bukti semu saat aku harus mulai belajar merelakan, N…
Aku belakangan ini sadar, rasa sakit bisa menghilang bukan dengan cara menyangkalnya. Tetapi justru dengan menerimanya dan mengalirkannya ke tempat lain.

Maka, aku memilih untuk menulis memoar tentang kamu, N.




                                                           Dari,
                                                                  Aku.

0 komentar:

Posting Komentar