Teruntuk N
Disuatu tempat yang entah
dimana
“Aku tidak sedang menanti, aku tengah
melangkah untuk menjemput. Maka ku tinggikan segala upaya dan kesabaran. Semoga
dihadiahi keindahan.”
Pertama-tama,
N. Aku ingin bercerita bagaimana aku bisa menaruh perasaan juga harapan kepada
kamu. Aku ingin membuka (lagi) ingatan tentang hujan-yang menjadi kenangan-.
Mungkin benar, ini tentang kamu dan aku yang belum sempat menjadi kita.
Kamu tahu? Saat aku menuliskan
surat ini, langit sedang menangis; hujan sedang bertepuk tangan di atap rumah.
Iya. Ini adalah lagu tergalau senja hari ini. Aku menikmati suara-suara setiap
rintiknya. Kutatap lekat-lekat bagaimana cara hujan mendarat kepermukaan.
Tunggu
dulu…
Di salah
satu rintik hujan, aku melihat kita. Maksudku, aku melihat kamu dan aku.
Kenangan, N.
---
“Masih
deres. Kamu yakin mau lari ke halte?”
tanyaku yang kebingungan dengan kamu yang tetap saja bersikeras untuk
menembus hujan yang tak mau mengasihani kita yang sedang terjebak sore itu,
setelah keluar dari salah satu rumah makan.
“Jam
berapa sekarang?”
“Setengah lima..”
“Sudah sore, mending kehujanan daripada harus
pulang telat. Kamu pulang bareng aku kan?”
“Gimana bisa? angkotmu beda jurusan sama aku.
Kamu mau nyiksa aku dengan menyuruhku berkeliling kota hujan-hujan begini?”
“kamu naik angkot bareng aku, turun
dirumahku, terus kalau udah reda, baru aku anter kamu pulang. Janji deh..”
Aku melirikmu yang masih saja
sedang kebingungan mencari cara menerobos hujan.
“Mau nggak nih? Nunggu di halte sendirian,
sampai hujan reda? Udah sore, nanti kamu diapa-apain lagi sama orang jahat..”
“Terserah deh, aku ikut kamu aja..”
Lagi-lagi aku kalah. Maksudku,
aku harus mengalah.
“Satu...Dua…Tiga…”
Kamu menghitung,
meng-aba-aba-i untuk berlari. Kita menembus hujan bersama-sama. Suara tawa kecilmu
terdengar samar berbaur suara tawa hujan. Aku baru sadar, ternyata kamu seindah
hujan yang turun sore itu, N.
Tak butuh
waktu lama untuk menuju halte. Kamu berada tepat disampingku. Dekat. Tubuh
tinggi menjulangmu seakan melindungiku dari cipratan hujan. Aku memeras rok
panjangku yang sudah terlampau basah.
“Pinjem lap kacamatamu..”
“Ini..”
Kamu membersihkan kacamatamu
yang berembun karena hujan.
“Makasih..”
Saat itu, otakku seakan
berhenti bekerja. Aku benar-benar baru sadar bahwa ada perasaan yang kusimpan
untukmu, N.
“Basah ya?”
Kamu menatapku yang hanya
setinggi bahumu.
“yang namanya kehujanan, ya basah lah, kamu ini
gimana..”
“Maaf, aku buat kamu hujan-hujan. Beneran
nggakpapa kan?”
“Nggakpapa kali, nyantai aja, udah biasa
kok..”
“Nanti aku dimarahin lagi gara-gara kamu jadi
sakit setelah kuhujan-hujanin?”
“Biasa aja kali, nggak usah berlebihan
gitu..”
Aku menepuk keras bahumu.
Kamu tahu, N? Baru kali ini aku bisa mendefinisikan secara
jelas rasa nyaman kepada diriku sendiri...
Tak lama, kita menaiki angkot
yang tergolong sepi penumpang. Hanya ada tiga ibu-ibu separuh baya dan dua
bapak-bapak, termasuk sopir angkotnya. Kita memilih duduk berhadapan di sisi
pojok angkot. Aku memilih diam. Terlalu dingin untuk berbicara denganmu kali
ini. Diam-diam… salah satu diantara
tiga ibu-ibu itu menatap kita, N. Aku melihat ada satu simpul kecil dibibirnya,
sambil berbisik,
“Ah.. anak muda jaman sekarang.. pacaran
hujan-hujan begini sudah nggak aneh lagi.”
Bukan. Bukan sepasang kekasih,
Bu. Hanya sebatas teman saja. Tidak lebih.
Tiba-tiba…
rasa nyeri menyerang dadaku
pelan-pelan. Mungkin kenyataan yang sedang kita jalani jadi gara-garanya. Kita bertemu tidak untuk jadi
satu. Rasanya, aku ingin menepis kenyataan itu, sesegera mungkin.
“Sumpah..hujan-hujan sore begini..sepertinya manis..”
Akhirnya suaramu memecahkan
percapakanku dengan diriku sendiri. Aku tak menjawab, aku hanya tertawa kecil
kepadamu.
Tunggu dulu… Manis? Apa
maksudnya?
---
Ingatan
itu, tiba-tiba masuk dalam perotasian otakku, N. Hujan sudah jadi saksi bisu, saat
pertama kali aku menyadari kehadiranmu; sekaligus-saat ini- menjadi bukti semu
saat aku harus mulai belajar merelakan, N…
Aku
belakangan ini sadar, rasa sakit bisa menghilang bukan dengan cara
menyangkalnya. Tetapi justru dengan menerimanya dan mengalirkannya ke tempat
lain.
Maka, aku memilih
untuk menulis memoar tentang kamu, N.
Dari,
Aku.
0 komentar:
Posting Komentar