Untuk N
Di suatu tempat yang entah dimana
“Aku hanya memintamu untuk
bersabar…”
Ternyata
memang benar, menunggu dengan tabah tidak semudah yang kaukatakan, N.
Awalnya
aku berada di bawah langit penuh cahaya purnama, malam ini. Kautahu? Ketika aku
mengingat kamu dan beberapa kali melihat semua timeline media sosial mu,
purnama tiba-tiba menghilang. Bahkan tanpa jejak cahaya yang ditinggalkan
diatas awan, N. Ia mengalah dengan hujan yang sudah hilang kesabaran untuk
segera mencumbu permukaan bumi, secepat yang dia bisa, sederas yang dia mau. Sekarang,
satu hal yang ingin kutanyakan padamu-meski aku tahu,kamu tidak akan pernah
menjawabnya- Apakah kautahu apa arti dari semua pertanda malam ini, N? Tentang
hujan dengan segala kedinginannya yang tanpa malu dan penuh permisi menggeser pergi
kehangatan purnama?
Apakah hujan malam ini datang
untuk menyuruhku menari bersamanya agar ketika aku menangisi mu tak ada orang
yang tahu, bahwa luka penantian yang kauberikan ini benar-benar menggerogoti
hatiku pelan-pelan?
Ataukah hujan malam ini pertanda buruk?
Apakah ia jatuh agar ia bisa membuat air dari mataku semakin menderas ketika
mengingatmu?
Tak ada yang tahu isyarat apa yang diberikan
hujan malam ini kan, N? Yang pasti aku sedang merindukan kamu, saat ini. Aku masih
mengharapkan kamu benar-benar akan menemuiku di persimpangan penantian ini, tanpa
perlu membuatku merasa lelah. Aku masih sering berkhayal bagaimana jadinya jika
memang benar kauakan menjemputku di persimpangan ini. Menurutmu, akankah rasa
rindu berbaur haru milikku cukup untuk membuatmu bahagia lebih lama? Lagi-lagi,
N. Tidak ada yang bisa menerka jawabannya. Yang jelas, aku masih menantimu di
persimpangan ini, dengan tabah yang melebihi ketabahan.
Bagaimana dengan kamu?
Berharapkah? Menantikah? Seperti aku? Atau bahkan sebaliknya?
Yang jelas,
Aku……
bersedia
menunggu “kita” dengan sabar. seperti yang kauminta. semampuku. selelahku.
Dari,
Aku.
0 komentar:
Posting Komentar