Akhir cerita tak pernah bersahabat dengan waktu
Keduanya saling memunggungi dan mengekalkan diri
Hingga dari jejak-jejak mereka ciptakan
Setumpuk jarak, menetap, dan beranak pinak
Merentang temu yang tersulut ambisi
Dari setiap jengkal harapan yang tertinggal
Narasi bahagia pernah kita tuliskan
Meski terlalu singkat disebut paragraf cinta
Namun tiap kalimat penyusunnya begitu jelas
Pena layaknya anganku
Yang terus ingin memuisikan adamu
Pada tiap-tiap lembar-lembar kekosongan
Kelopak matamu pernah menghangat; panas
Disudut tatap sebelum senja redup menuju temaram
Sempat pula ia meneduhkan puisi-puisiku
Sebelum hujan akhirnya merabunkan baitnya
Genangan luka kenang semakin berpeluh basah
Menyelinap pada ujung-ujung tepian daun
Pada kaca jendela; mereka membentuk uap
Atas dingin yang hampa
Napasku berembus melukiskan wajahmu
Sedang ingatan terlalu lupa bagaimana cara menghapuskan kata.
Hingga dari jejak-jejak mereka ciptakan
Setumpuk jarak, menetap, dan beranak pinak
Merentang temu yang tersulut ambisi
Dari setiap jengkal harapan yang tertinggal
Narasi bahagia pernah kita tuliskan
Meski terlalu singkat disebut paragraf cinta
Namun tiap kalimat penyusunnya begitu jelas
Pena layaknya anganku
Yang terus ingin memuisikan adamu
Pada tiap-tiap lembar-lembar kekosongan
Kelopak matamu pernah menghangat; panas
Disudut tatap sebelum senja redup menuju temaram
Sempat pula ia meneduhkan puisi-puisiku
Sebelum hujan akhirnya merabunkan baitnya
Genangan luka kenang semakin berpeluh basah
Menyelinap pada ujung-ujung tepian daun
Pada kaca jendela; mereka membentuk uap
Atas dingin yang hampa
Napasku berembus melukiskan wajahmu
Sedang ingatan terlalu lupa bagaimana cara menghapuskan kata.
sumber : tepiansajak.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar