Petang mulai menurunkan awan
Langit jingga hanya singgah
Untuk sebuah gelap di malam
Dan dingin yang terbawa angin
Pintu selalu bisu membuat nada tentang langkah
Daun jendela terlalu lupa bagaimana menuliskan bayang
Hanya derai angin sesekali mengetuk lamunan
Berbisik tentang ia yang sudah terlewatkan
Namun tetap hangat pada bekunya ingatan
Aku lupa bahwa kamu adalah lusa
Yang pernah kugenggam harinya
Dan terbingkai rapi disudut hati; menurutku
Aku lupa bahwa kamu adalah lusa
Yang detiknya masih berdegup tentang ia
Kata-kata terlalu lugu menyembunyikan rahasia
Tersirat adalah surat yang terselip
Sedang tersurat adalah luka paling nyata
Setidaknya, untuk sebuah harap yang mencari tepi
Itu perih yang mengeram lirih
Namun tak guna karena hanya tumbuh dibenak
Jika mencintaimu memerlukan sebuah tanda
Mungkin aku adalah tanda tanya
Yang selalu menjadi akhiran pada ucap ragumu
Pada ucap keyakinanmu.
Untuk sebuah gelap di malam
Dan dingin yang terbawa angin
Pintu selalu bisu membuat nada tentang langkah
Daun jendela terlalu lupa bagaimana menuliskan bayang
Hanya derai angin sesekali mengetuk lamunan
Berbisik tentang ia yang sudah terlewatkan
Namun tetap hangat pada bekunya ingatan
Aku lupa bahwa kamu adalah lusa
Yang pernah kugenggam harinya
Dan terbingkai rapi disudut hati; menurutku
Aku lupa bahwa kamu adalah lusa
Yang detiknya masih berdegup tentang ia
Kata-kata terlalu lugu menyembunyikan rahasia
Tersirat adalah surat yang terselip
Sedang tersurat adalah luka paling nyata
Setidaknya, untuk sebuah harap yang mencari tepi
Itu perih yang mengeram lirih
Namun tak guna karena hanya tumbuh dibenak
Jika mencintaimu memerlukan sebuah tanda
Mungkin aku adalah tanda tanya
Yang selalu menjadi akhiran pada ucap ragumu
Pada ucap keyakinanmu.
sumber : tepiansajak.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar