Suatu
sore bersaput gerimis, sang pelangi membentangkan dirinya dan keelokannya di
langit yang sedikit putih berbaur biru.
Melihat
itu sang rinai gerinis terkekeh sinis, katanya “Apa yang membuatmu menampilkan
keindahan saat ini? Tidak biasanya kamu muncul saat aku masih ada..”
Sang
pelangi tersenyum penuh pesona, “Wahai kekasihku.. Tak tahukah dirimu, atau
berpura-pura untuk tak tahu, bahwa sesungguhnya aku selalu ada bersamamu dan
melekat pada jiwamu? Bukankah aku menjelma dari bias indah titik-titik airmu?
Bukankah tanpa ada dirimu aku tak kan ada di bumi ini ?”
“Terserahlah”
rinai gerimis menderas menjadi hujan seiring rasa kesalnya pada sang pelangi.
Mentari
yang tadi masih menampakkan gemerlap cahayanya, menghilang di balik awan
gemawan, demikian pula sang pelangi hilang ntah kemana.
Sejenak
setelah meluap kan kesalnya, rinai gerimis kembali menipis, awan gemawan yang
tadi menutupi sang mentari, menghilang perlahan. Belum sepenuhnya rinai gerimis
meninggalkan sore itu, sang pelangi muncul lagi. Kini dengan warna yang lebih
gemilang dan mempesona.
“Kemana perginya
kamu tadi ? Melempar bom atom lalu pergi begitu saja ?” Seperti tadi sang
pelangi hanya tersenyum manis.
“Rinai
Gerimis, aku takut kalau kamu marah. Lebih baik aku bersembunyi dan membiarkan
keindahanku lenyap seketika.”
Rinai
gerimis seolah terjerembab dari singgasananya.
“Takut?”
Kata sang
pelangi, “Ingatkah dirimu, kapan saat aku muncul dan kapan saat aku menghilang
? Ingatkah dirimu, jika kau mulai marah dan mulai menunjukkan dominasimu, maka
aku akan menghilang. Terlebih jika kau biarkan petir menggelegar dan kilat
menyambar.. Aku takut!”
Rinai
gerimis merasa jantungnya lepas dari tempatnya.
“Apakah
begitu ? Apakah aku tak mungkin hadir dengan segala keperkasaanku, petirku,
kilatku ?”
Sang
pelangi menggeleng perlahan.
“Tidak
akan pernah, selama kau masih memamerkan kekuasaanmu, sifat-sifat burukmu.
Jangan pernah berharap aku tampilkan keindahanku. Aku tak pernah menghilang
darimu. Aku hanya bersembunyi, menanti amarahmu reda, menanti gejolakmu sirna.
Maka aku akan hadir bersamamu, kalau kau lembut menyapa bumi, hingga tak ada
awan gemawan sembunyikan kilau mentari yang biaskan indahmu.”
H
0 komentar:
Posting Komentar