Senin, 11 November 2013

Pelangi dan Rinai Gerimis



Suatu sore bersaput gerimis, sang pelangi membentangkan dirinya dan keelokannya di langit yang sedikit putih berbaur biru.
Melihat itu sang rinai gerinis terkekeh sinis, katanya “Apa yang membuatmu menampilkan keindahan saat ini? Tidak biasanya kamu muncul saat aku masih ada..”

Sang pelangi tersenyum penuh pesona, “Wahai kekasihku.. Tak tahukah dirimu, atau berpura-pura untuk tak tahu, bahwa sesungguhnya aku selalu ada bersamamu dan melekat pada jiwamu? Bukankah aku menjelma dari bias indah titik-titik airmu? Bukankah tanpa ada dirimu aku tak kan ada di bumi ini ?”

“Terserahlah” rinai gerimis menderas menjadi hujan seiring rasa kesalnya pada sang pelangi.

Mentari yang tadi masih menampakkan gemerlap cahayanya, menghilang di balik awan gemawan, demikian pula sang pelangi hilang ntah kemana.
Sejenak setelah meluap kan kesalnya, rinai gerimis kembali menipis, awan gemawan yang tadi menutupi sang mentari, menghilang perlahan. Belum sepenuhnya rinai gerimis meninggalkan sore itu, sang pelangi muncul lagi. Kini dengan warna yang lebih gemilang dan mempesona.

“Kemana perginya kamu tadi ? Melempar bom atom lalu pergi begitu saja ?” Seperti tadi sang pelangi hanya tersenyum manis.

“Rinai Gerimis, aku takut kalau kamu marah. Lebih baik aku bersembunyi dan membiarkan keindahanku lenyap seketika.”

Rinai gerimis seolah terjerembab dari singgasananya.
 “Takut?”

Kata sang pelangi, “Ingatkah dirimu, kapan saat aku muncul dan kapan saat aku menghilang ? Ingatkah dirimu, jika kau mulai marah dan mulai menunjukkan dominasimu, maka aku akan menghilang. Terlebih jika kau biarkan petir menggelegar dan kilat menyambar.. Aku takut!”

Rinai gerimis merasa jantungnya lepas dari tempatnya.
“Apakah begitu ? Apakah aku tak mungkin hadir dengan segala keperkasaanku, petirku, kilatku ?”
Sang pelangi menggeleng perlahan.

“Tidak akan pernah, selama kau masih memamerkan kekuasaanmu, sifat-sifat burukmu. Jangan pernah berharap aku tampilkan keindahanku. Aku tak pernah menghilang darimu. Aku hanya bersembunyi, menanti amarahmu reda, menanti gejolakmu sirna. Maka aku akan hadir bersamamu, kalau kau lembut menyapa bumi, hingga tak ada awan gemawan sembunyikan kilau mentari yang biaskan indahmu.”



                                                                                                                   H

0 komentar:

Posting Komentar