Mungkin ini masih tentang kamu yang tak bisa berhenti mengganggu laju perputaran otakku setiap detiknya.
Mungkin ini juga masih tentang bayang-bayangmu yang tak kunjung pergi dari laci lemari rinduku.
Jika keajaiban datang dan kamu akan membaca tulisanku yang berisi tentangmu; kau akan mengatakan semua ini bodoh dan tak masuk akal.
Ketidak masuk akalan inilah yang (mungkin) membuatmu muak lalu pergi secara instan, begitu saja.
Iya. Dalam waktu yang singkat, kamu berjalan menjauh, meninggalkan aku dalam rindu; sendirian.
Baiklah.
Aku bisa memahami ketidak sabaranmu manantiku dulu.
Aku bisa mengerti bagaimana rasanya jadi kamu yang selalu kuabaikan.
Memang benar kamu tak pernah menjadi yang spesial (dulu). Memang iya kamu datang dengan banyak kekosongan yang tidak kusukai (dulu). Memang aku sempat tak mau menganggapmu ada sebagai pembawa pasokan semangat untukku (dulu).
Tapi, setelah sekian lama aku berjalan di berbagai medan hidup. Aku sadar. Aku percaya. Dulu, aku mengagumi mu sebagai senja yang punya banyak tawa. Dulu, aku ternyata sering memperhatikanmu diam-diam. Dulu, aku pernah menyimpan sedikit rindu untukmu.
Dan ternyata...
Rasa itu ada tanpa kuminta dan kusadari kehadirannya.
Kadang, tawa memang membutuhkan haru.
Kadang, rindu memang membutuhkan air mata, untuk bisa meyakinkan kita bahwa ada pelangi setelah hujan. Iya. Mungkin, kamu membuatku menangis untuk mengajariku cara menerima tawa.
Sudah. Lupakan saja.
Semua akan baik-baik saja; meski penuh haru, meski harus dilanda banjir air mata, meski harus berjuang keras untuk melawan rindu yang menyesakkan dada.
Percayalah.
Aku akan baik-baik saja; dengan atau tidak denganmu.
Lama-lama aku akan terbiasa dengan luka yang kau lukiskan hingga menganggapnya tak ada.
Maaf, aku sempat membiarkan kamu mencari rindu yang lain; sebelum akhirnya aku merindukanmu lebih dalam.
Dari yang diam-diam masih sering menuliskanmu
dalam kertas-kertas rindu yang berserakan;
meski tak pernah berani mengirimkannya ke rumah hatimu.
09.04 28 November 2013
Dalam riuhnya pelajaran akuntansi
Saat menunggu jam istirahat tiba.
0 komentar:
Posting Komentar