Minggu, 30 Mei 2021

Sela : Keping Rasa Bagian Dua

Temu. Sama halnya dengan mula yang kemarin kita bicarakan, pertemuan barangkali bisa kita anggap sebagai permulaan. Seperti katamu, kita tak membutuhkan permulaan dengan syarat, tidak adanya perpisahan antara aku dan kamu. Namun, apakah itu mungkin? Apakah memang kita bisa merencanakan untuk tidak berpisah jika suatu saat Ia Yang Maha Pemilik Segala —termasuk jatuh cinta, menarik kita ke dalam sebuah jurang nestapa dengan memisahkan jarak antara kita, seperti sekarang ini? 
Aku hanya bisa memberimu kabar dari balik layar yang kamu genggam dan aku pun sama saja, tak ada bedanya, menanti kabarmu dari layar 5 inci yang sejujurnya tak bisa mengukur bahkan satu-per-seribu rinduku.

Pertemuan adalah takdir. Dan setiap pertemuan akan membawa kita berjalan menuju takdir yang lain. 
Kamu benar perihal pertemuan dan perpisahan. 
Serupa awal dan akhir dua hal yang saling mengikat kuat. 
Mana mungkin aku menghindari perpisahan dari sebuah pertemuan yang aku ciptakan? 
Dan, berbicara soal kemungkinan-kemungkinan itu, kita pernah sepakat bahwa tidak ada yang pernah tahu bagaimana kemungkinan itu akan bekerja. Atau bagaimana Ia akan berakhir. 
Toh, jika memang benar hidup adalah sebuah pertarungan diantara banyak sekali kemungkinan yang kita punya;  maka bertarunglah bersamaku menghadapi semua kemungkinan itu.
Bertarunglah dan jangan pernah berani kamu menyerah atas nama rindu dihadapan jarak.
Bertarunglah bersamaku, karena kamu tahu,
aku tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan ini tanpamu.
 
Mungkin? Itu kata yang menunjukkan dua sisi mata pisau. Terkadang kemungkinan-kemungkinan itu mampu membuat kita berpikir lebih berani, seperti aku yang selalu berkata mungkin kita akan memenangkan semua pertarungan kita melipat jarak yang menyiksa ini. Tapi, kemungkinan yang terlalu kita pikirkan bisa jadi malah menjerumuskan kita pada sebuah pemikiran belaka, membuat nyali ciut karena kamu tahu bahwa kemungkinan tak hanya akan terjadi pada hal baik. Hal-hal buruk pun akan cepat dan terkadang tepat menghampiri kemungkinan yang ada.
Soal pertarungan kita melipat jarak, menyekap rindu dalam dada, aku tahu kita bukan lagi pemula dalam perihal itu. Sejauh apapun kita terpisah, kamu harus selalu percaya, aku bukan lah pecundang yang akan setega itu meninggalkanmu menggenggam rindu-rindu itu sendiri.
Kamu akan selalu ku temani, entah dalam sepi mu atau dalam hingar-bingar bahagiamu di sana.
Jarak memang terkadang menjadi kendala untuk kita, tapi bukankah bagi perindu, jarak tak ada apa-apanya?
 
Bagaimana ini? Membayangkan wajahmu saja membuat rinduku semakin menggebu.
Aku sungguh sedang rindu. Bukan main. Tanpa ampun.
Bahkan menjadi berkali-kali lipat saat mendadak suaramu sekelibat memenuhi imajiku.
Kau tahu? Aku tidak peduli sejauh apapun jarak yang terbentang, sebesar apapun keragu-raguan yang kadang membuatku sulit menemukan jalan pulang, atau sekuat apapun kenangan-kenangan yang dipenuhi denganmu itu membuatku mabuk kepayang.
Bagiku, kamu hanya sejauh jarak antara detak jantung satu ke detak jantung berikutnya.
Bolehkah aku tahu, sudah berapa kali kamu mengingatku hari ini?
Disini sedang hujan. Deras sekali. Dan tidak ada satu tetes hujan pun yang aku lewatkan tanpa mengingat senyummu itu. Serupa candu.
 
Lagi-lagi kamu menanyakan sesuatu yang kamu sendiri paham dengan jawabannya. Seberapa sering aku disini memikirkanmu? Itu pertanyaan yang lucu. Karena setiap hembusan nafas dariku selalu dipenuhi dengan doa untuk segera mendekapmu lagi dalam pelukku, menggenggam tanganmu lebih erat lagi, membawamu berkeliling kota seperti yang sudah sering kita lewatkan di hari-hari sebelum jarak ini ada. Lalu kita habiskan waktu dengan berbagi cerita tentang masa-masa yang tak kita lewati bersama. Tentangmu yang berkumpul bersama teman-temanmu di sebuah coffee shop kesukaan kalian. Dan aku pun akan membagikan ceritaku tentang penjual nasi goreng keliling yang mengalami nasib sama seperti kita —terpisah jarak dengan sang pujaan hatinya.
Rindu-rindu yang kamu simpan itu, biarkanlah tumbuh mekar mewangi dulu, disini pun pohon rindu yang ku tanam akan ku pupuk dengan kenangan-kenangan kita yang telah lalu. 
Hingga suatu saat, waktu mampu membuat kita bertemu, menggabungkan sebuah taman cantik yang penuh bunga rindu milikmu dan berdiri megah di tengahnya dua pohon kasih sayang yang akar-akarnya saling menguatkan.
 
Aku bertanya bukan karena aku mulai meragukanmu. Aku hanya ingin sedikit memastikan.
Ternyata kamu masih sama seperti seseorang yang dari dulu selalu tahu cara paling baik untuk membuatku menang telak, perihal siapa yang paling cinta diantara kita berdua.
Ternyata kamu masih sama dengan seseorang yang dulu paling mahir membuat luka ku mati terbakar dan bahagia ku tumbuh berakar.
Bagaimana dengan mimpi-mimpimu sekarang?
Apakah mereka masih belum berhenti membuatmu terus berjuang atau
malah sudah membuatmu ingin segera pulang?
Masih kah aku ada didalamnya?
Seperti yang selalu kamu katakan padaku dulu —sebagai obat paling manjur untuk aku yang sulit sekali tertidur.


sebuah karya kolaborasi dari percakapan perihal sela.
.keping rasa bagian dua.

0 komentar:

Posting Komentar