Temu. Sama halnya dengan mula yang kemarin kita bicarakan, pertemuan
barangkali bisa kita anggap sebagai permulaan. Seperti katamu, kita tak
membutuhkan permulaan dengan syarat, tidak adanya perpisahan antara aku dan kamu.
Namun, apakah itu mungkin? Apakah memang kita bisa merencanakan untuk tidak
berpisah jika suatu saat Ia Yang Maha Pemilik Segala —termasuk jatuh cinta,
menarik kita ke dalam sebuah jurang nestapa dengan memisahkan jarak antara
kita, seperti sekarang ini?
Aku hanya bisa memberimu kabar dari balik layar
yang kamu genggam dan aku pun sama saja, tak ada bedanya, menanti kabarmu dari
layar 5 inci yang sejujurnya tak bisa mengukur bahkan satu-per-seribu rinduku.
Pertemuan
adalah takdir. Dan
setiap pertemuan akan membawa kita berjalan menuju takdir yang lain.
Kamu
benar perihal pertemuan dan perpisahan.
Serupa awal dan akhir —dua hal yang saling
mengikat kuat.
Mana mungkin aku menghindari perpisahan dari sebuah pertemuan
yang aku ciptakan?
Dan, berbicara soal kemungkinan-kemungkinan itu, kita pernah
sepakat bahwa tidak ada yang pernah tahu bagaimana kemungkinan itu akan
bekerja. Atau bagaimana Ia akan berakhir.
Toh,
jika memang benar hidup adalah sebuah pertarungan diantara banyak sekali
kemungkinan yang kita punya; maka
bertarunglah bersamaku menghadapi semua kemungkinan itu.
Bertarunglah dan jangan pernah berani kamu
menyerah atas nama rindu dihadapan jarak.
Bertarunglah
bersamaku, karena kamu tahu,
aku
tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan ini tanpamu.
Soal pertarungan kita melipat jarak, menyekap rindu dalam dada, aku tahu kita bukan lagi pemula dalam perihal itu. Sejauh apapun kita terpisah, kamu harus selalu percaya, aku bukan lah pecundang yang akan setega itu meninggalkanmu menggenggam rindu-rindu itu sendiri.
Kamu akan selalu ku temani, entah dalam sepi mu atau dalam hingar-bingar bahagiamu di sana.
Jarak memang terkadang menjadi kendala untuk kita, tapi bukankah bagi perindu, jarak tak ada apa-apanya?
Bagaimana
ini? Membayangkan wajahmu saja membuat rinduku semakin menggebu.
Aku
sungguh sedang rindu. Bukan main. Tanpa ampun.
Bahkan
menjadi berkali-kali lipat saat mendadak suaramu sekelibat memenuhi imajiku.
Kau
tahu? Aku tidak peduli sejauh apapun jarak yang terbentang, sebesar apapun keragu-raguan yang kadang membuatku sulit menemukan jalan pulang, atau sekuat
apapun kenangan-kenangan yang dipenuhi denganmu itu membuatku mabuk kepayang.
Bagiku,
kamu hanya sejauh jarak antara detak jantung satu ke detak jantung berikutnya.
Bolehkah
aku tahu, sudah berapa kali kamu mengingatku hari ini?
Disini
sedang hujan. Deras sekali. Dan tidak ada satu tetes hujan pun yang aku
lewatkan tanpa mengingat senyummu itu. Serupa candu.
Rindu-rindu yang kamu simpan itu, biarkanlah tumbuh mekar mewangi dulu, disini pun pohon rindu yang ku tanam akan ku pupuk dengan kenangan-kenangan kita yang telah lalu.
Hingga suatu saat, waktu mampu membuat kita bertemu,
menggabungkan sebuah taman cantik yang penuh bunga rindu milikmu dan berdiri
megah di tengahnya dua pohon kasih sayang yang akar-akarnya saling menguatkan.
Aku
bertanya bukan karena aku mulai meragukanmu. Aku hanya ingin sedikit
memastikan.
Ternyata
kamu masih sama seperti seseorang yang dari dulu selalu tahu cara paling baik
untuk membuatku menang telak, perihal siapa yang paling cinta diantara kita
berdua.
Ternyata
kamu masih sama dengan seseorang yang dulu paling mahir membuat luka ku mati
terbakar dan bahagia ku tumbuh berakar.
Bagaimana
dengan mimpi-mimpimu sekarang?
Apakah
mereka masih belum berhenti membuatmu terus berjuang atau
malah
sudah membuatmu ingin segera pulang?
Masih
kah aku ada didalamnya?
Seperti
yang selalu kamu katakan padaku dulu —sebagai obat paling manjur untuk aku yang
sulit sekali tertidur.
sebuah karya kolaborasi dari percakapan perihal sela.
.keping rasa bagian dua.
0 komentar:
Posting Komentar