Jumat, 26 Juni 2020

MENGEJA SEMESTA DALAM J E D A

Pernahkah kamu bertanya-tanya, apa ada yang bisa menandingi luasnya semesta?
Atau pernahkah kamu menemukan segala jawaban dari pertanyaan perihal apa yang lebih hebat dari samudera?
Bagaimana dengan alam raya yang tak jarang membuat kita merasa luka? 
Bagaimana cara tawa bisa tercipta dari sekumpulan duka? 
Menurutmu, apa yang membahagiakan dari sebuah jeda?
Apa ada rasa selain khawatir yang akhir-akhir ini kamu masukkan dalam doa?
Aku juga penasaran, apa ada kesabaran yang masih tersisa?
Pertanyaan itu tak pernah alpha berputar di kepalaku. 
Ia selalu ada mengisi penuh ruang kosong di dalam kepala yang kadang aku ciptakan hanya untuk sekedar memaknai kekosongan itu sendiri. 

Perihal semesta.
Ia adalah hal yang paling tak sanggup kumengerti. Ia serupa pesta yang sesak dipenuhi oleh milyaran teka-teki. Beribu-ribu kali aku berusaha memecahkannya, sebanyak itu pula aku hampir tersesat di dalamnya. Satu hal yang sampai saat ini masih aku percaya adalah semesta pasti menyimpan begitu banyak jawaban dari rahasia yang tersebar luas ditiap sudutnya. Rahasia yang mungkin berisi lebih banyak tawa atau malah sebaliknya. 

Jika semesta tak bisa menyembuhkan, maka sudah pasti Ia sedang menyeimbangkan. 

Perihal jeda.
Mungkin, bagi sebagian besar manusia yang sedang jatuh cinta, 
jeda bisa jadi sesuatu yang terasa menyiksa.
Tapi bagi sebagian lagi manusia yang sudah terlanjur mencintai kesendirian, 
jeda adalah segala hal yang mampu menciptakan rasa lega.

Jika jeda rasanya menyesakkan, maka ada cinta yang sedang kamu perjuangkan.
Jika jeda rasanya melegakan, maka ada diri sendiri yang sedang kamu sembuhkan.

Tak apa. Terima. 
Kamu bisa memaki jeda karena kamu merasa tersiksa atau memuji jeda karena kamu merasa bebas.
Toh, keduanya sah-sah saja untuk kamu rasa.

Tak apa. Pasti ada maksudnya.
Karena jika spasi memang diciptakan agar kita lebih mahir memaknai sebuah kata,
maka jeda ada dengan sengaja agar kita bisa lebih mudah mengeja semesta, 
juga menikmati apa-apa yang sudah kita punya.

Ini adalah surat singkat untuk kamu yang sekarang sedang membaca.
Ini adalah harapan panjang untuk kamu yang sekarang sedang setengah mati menjalani kenyataan yang benar-benar berbeda.
Ini adalah doa khusyuk untuk kamu yang masih memilih bertahan dengan segala kemampuan yang kamu punya.
Jika jeda terlihat belum bisa selesai dengan segera,
maka aku harap kamu bisa lebih lama menjaga jiwa dan raga.

Karena hanya itu yang bisa membuat rinduku reda. 
Ya. 
Mendengar kabarmu baik-baik saja.

0 komentar:

Posting Komentar