Baru pulang?
Sudah selesai urusannya?
Lama sekali.
Padahal sejak pagi tadi kamu sudah pergi.
Kamu tahu ini hampir tengah malam?
Kemarilah.
Coba sini biar kulihat sebentar.
Kamu terluka lagi?
Siapa yang kali ini sengaja membuatmu dalam keadaan seperti ini?
Apa yang kali ini kamu bela hingga tenagamu habis begini?
Tidak. Ini bukan lagi hanya sekedar luka.
Ini sudah babak belur.
Ini lebih parah dari luka yang pernah kamu dapatkan sebelumnya.
Sehancur apa rasanya kali ini?
Bagian mana yang sakit lagi?
Apa yang membuatmu bertahan dengan luka sebesar ini?
Apa yang menjadikan kamu keras kepala hingga kamu masih saja memperjuangkannya dengan luka sedalam ini?
Apa yang sedang kamu perjuangkan mati-matian?
Apa ini soal mimpi-mimpimu?
Ataukah mimpi-mimpi orang lain?
Apa yang kamu kerjakan?
Benarkah itu yang kamu inginkan?
Apa itu membuat kamu cukup bahagia?
Ataukah sebaliknya?
Sialan.
Aku hanya bisa melihat kepulanganmu,
tanpa tahu apa yang sedang berusaha kamu kejar sampai kamu terluka.
Aku hanya bisa menerima kepulanganmu,
tanpa pernah tahu pasti apa yang sedang kamu selesaikan.
Aku mau menerima kepulanganmu tapi aku tidak mau melihatmu pulang dalam keadaan terluka seperti ini.
Aku benci melihatmu seperti ini.
Aku benci melihat tatapanmu yang seakan-akan ingin meledakkan air yang begitu deras tapi masih saja kamu tahan dengan begitu keras.
Kemana kamu berikan senang mu hingga tak ada sedikitpun yang kamu bawa pulang hari ini?
Berapa banyak kamu tutupi senyum mu hingga hanya muram raut wajah yang bisa kutatapi saat ini?
Aku rindu melihat kamu tertawa lepas.
Aku ingin menatapi lesung pipi yang tersembunyi diwajahmu.
Jangan lagi kamu jual habis bahagiamu diluar sana.
Jangan lagi kamu bagikan semua tawamu kepada mereka yang sungguh bisa menciptakannya sendiri.
Sini. Kemarilah.
Biar kuobati lukanya.
Tahan sebentar sakitnya.
Terima sebentar perihnya.
Rasakan sebentar ngilunya.
Kamu ingin menangis?
Kemarilah. Menangislah.
Menangislah sekencang yang kamu bisa.
Kamu ingin mengadu?
Mengadulah sekuat yang kamu ingin.
Aku disini.
Tak apa.
Tak perlu malu untuk menjadi lemah dihadapanku.
Tak perlu ragu untuk menjadi rapuh didepanku.
Tak perlu ragu untuk menjadi rapuh didepanku.
Hanya ada aku disini.
Mereka tak akan tahu kalau kamu bisa menangis.
Mereka tak akan mengerti kalau kamu sedang terluka.
Sampai kapanpun,
aku akan menerima kepulanganmu meski dalam keadaan yang jauh lebih babak belur daripada ini.
Sampai nantipun,
aku akan terus mendengarkan kamu menangis hingga tak ada lagi sesak yang kamu simpan sendirian.
Aku akan menerima kepulanganmu, meski menyakitan bagiku melihatmu pulang seperti ini.
Sebab ketika kamu terluka, aku juga.
Sebab ketika kamu bahagia, aku juga.
Sebab ketika kamu hilang arah, aku juga.
Sebab ketika kamu menyerah, aku juga.
Bahkan ketika kamu mati, aku juga.
Bertahanlah.
Bukankah memang menjadi sembuh adalah tugas utamamu?
Bukankah memang menjadi kuat untuk melindungi mereka yang lemah adalah tujuan utamamu?
Bertahanlah.
Walau aku tidak pernah tahu pasti apa yang sedang berusaha kamu perjuangkan.
Aku akan tetap berbicara kepada alam raya.
Bersumpah atas nama semesta.
Bahwa kamu sudah mengupayakan yang terbaik untuk dirimu sendiri.
Bahwa kamu sudah melakukan segala sesuatu yang pantas untuk kamu perjuangkan.
Bahwa kamu sudah berjuang dengan segala daya upaya yang kamu punya.
sudah hampir pukul tiga pagi.
tiga puluh menit aku berdiam di depan cermin.
melihat pantulan yang semakin lama semakin membuatku
kesal dan sesekali ingin meledak.
ku ceramahi lagi Ia yang masih saja berusaha.
ku bentak lagi Ia yang menghabiskan tenaganya
hanya agar terlihat kuat dimata dunia.
ku tenangkan lagi Ia dari sesak yang Ia bawa pulang.
ku kuatkan lagi Ia yang hari ini masih saja pulang
dalam keadaan terluka.
begitupun seterusnya.
setiap hari.
selamanya.
sampai Ia sembuh dengan sendirinya.
sampai Ia menjadi kuat seutuhnya.
0 komentar:
Posting Komentar