Selasa, 16 Juni 2020

Jika Cinta adalah Kerja Keras

Aku pernah menuliskanmu dalam sebuah surat perpisahan yang terpaksa harus aku selesaikan, meski masih banyak yang ingin aku sampaikan. 
Sebab aku mencegah diriku jatuh padamu untuk yang kesekian kali. 
Sebab kamu masih terlalu lekat, sementara ada rasa sakit yang harus aku akhiri dengan cepat.
Benar. Ini (masih) tentang kamu. Dan aku berjanji, ini akan benar-benar jadi tulisanku -berisi kamu yang terakhir. Sebab setelah ini akan kulepaskan kamu, sekali lagi.

Hari ini. Tepat satu tahun yang lalu.
Aku masih ingat betul debarnya. Aku masih bisa membayangkan bentuk wajahmu di langit-langit kamarku. Aku masih bisa melihat matamu di atas meja makan kaca. Aku masih bisa mendengar suaramu ditengah sepinya malam pukul dua. Semuanya masih terekam jelas, saat pertama kali aku memutuskan membukakan pintu rumahku untukmu. 
Ya. Kamu adalah orang pertama yang aku persilahkan masuk setelah rumahku pernah menjadi porak poranda, karena seseorang di masa lalu. Dan tentu kamu tahu soal itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak pernah membiarkan seseorang menyentuh perasaanku, aku izinkan kamu untuk menyentuh dan memilikinya.

Kamu datang dengan bajumu yang paling aku suka. Aku pernah berkata padamu bahwa kamu indah ketika memakainya. Dan kamu memakainya untuk datang kepadaku, malam itu.
Saat pertama kali akhirnya aku membiarkan kamu meruntuhkan tembok yang selama ini sengaja aku bangun untuk melindungi diriku sendiri.
Saat pertama kali akhirnya aku mulai peduli kepada seseorang selain diriku sendiri.
Saat pertama kali aku membiarkan diriku mengkhawatirkan orang lain, melebihi aku mengkhawatirkan diriku sendiri.

Masih ingatkah kamu pertanyaan apa yang pertama kali aku berikan, sesaat setelah kamu menyatakan bahwa mungkin aku adalah orang yang selama ini kamu cari?
Jika saat ini kamu sudah melupakannya dengan cepat, maka akan aku ingatkan sekali lagi kepadamu.
Malam itu, aku bertanya "sudah seriuskah kamu dengan apa yang baru saja kamu katakan?" 
Aku menatap matamu tajam. Berharap bisa kutemukan sendiri jawaban di dalamnya. 
Kamu menjawab, "kita jalani dulu berdua, ya?"
Aku diam. Memilih untuk tidak lagi mencari jawaban, karena matamu begitu dalam sedang aku masih terlalu takut tenggelam.

Setelah malam itu berlalu,
Rasanya hari-hariku tak pernah lagi berwarna kelabu.
Bertemu denganmu saat itu menjadi satu-satunya waktu dimana jantungku selalu terpacu. Entah karena aku takut pada akhirnya kamu akan sama seperti mereka yang pergi atau memang begini rasanya jatuh cinta. Aku sudah lupa.
Takut kamu akan sama seperti mereka ataupun takut jatuh cinta kepadamu dengan segala konsekuensinya;
bagiku rasa takutnya sama besarnya.

Setelah malam itu berlalu, 
kamu selalu ada pada setiap hal yang ingin aku ingat pada satu kenang yang hanya ada kamu di dalamnya.

Ternyata benar kata mereka bahwa jatuh cinta memang kerap membuat manusia lupa waktu.
Rasanya baru kemarin kita tertawa, kita makan berdua, menyusuri setiap jalan kota, berselisih tentang siapa yang paling cinta diantara kita berdua, kita saling menguatkan cita-cita, dan banyak hal lain yang rasanya mampu membuat kita bahagia. 
Tapi beberapa bulan setelahnya, kamu pergi.
Memutuskan untuk mengakhiri semuanya sama persis seperti mereka yang pernah aku temui (dan dengan bodohnya aku percayai) sebelumnya.
Tidak akan kujelaskan lagi rasa sakit sedahsyat apa yang kamu ciptakan. Aku sudah menuliskannya dalam surat perpisahan untukmu waktu itu. 
Sekarang, aku hanya akan menanyakan beberapa hal -meski aku tahu kamu tidak ingin menjawabnya.

Bagaimana bisa kamu pergi dan dengan mudah mengatakan bahwa aku pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, tanpa kamu pernah mengerti sedikit pun bahwa aku hanya menginginkan kamu waktu itu?
Bagaimana bisa kamu masih sempat memperlakukan aku dengan manis tepat dihari ketika kamu memilih pergi?
Bagaimana bisa kamu menyerah saat aku sedang berusaha mempertahankan kita dengan susah payah?
Apa ada sesuatu yang aku lakukan dengan salah?
Apa kamu marah?
Tapi sudahlah.
Toh, satu tahun sudah berlalu. Begitu cepat. 

Aku sengaja menuliskan hal-hal indah yang masih lekat pada ingatanku, sebelum kemudian harus aku kemasi agar Ia tak akan pernah lagi datang menghampiri.
Aku sengaja menuliskan kamu sekali lagi bukan sebagai usaha agar kamu bisa kembali,
melainkan sebagai salam perpisahan yang sebenar-benarnya.
Aku sengaja menjadikan kamu sebagai memoar kecil agar aku bisa berterimakasih kepadamu, ketika suatu saat aku tak sengaja menemukan tulisan ini diantara tumpukan kertas-kertas usang yang aku lupakan.
Terimakasih sudah pernah menyembuhkan dan menguatkan,
meski pada akhirnya ada luka baru yang kamu tinggalkan untuk kusembuhkan sendirian.

Seseorang pernah berkata,
"aku yang mati atau dia yang mati, cinta itu kerja keras"
Aku mengiklaskan kamu melepasku bukan karena waktu itu aku sedang menyerah, sama sepertimu. Melainkan karena aku sedang jatuh cinta. Aku sedang berusaha.

Jika cinta adalah kerja keras, maka sudah benar pilihanku ketika aku membiarkan kamu melanjutkan perjalanan mencari bahagia yang jauh lebih besar daripada ini;
sementara aku merelakan semuanya mati sebab dari awal bukan kamu yang harus kumiliki.

Pada akhirnya,
meski banyak hal yang masih ingin aku ceritakan, aku harus mengkahiri tulisanku yang berisi kamu hanya sampai disini.
Dan semua hal tentang kamu yang tentunya juga harus aku akhiri.

Berbahagialah,
karena hanya itu satu-satunya caramu untuk berterimakasih kepadaku karena telah membiarkan kamu pergi dan menyerah hari itu.
Sebab jika hari itu aku bersikeras untuk menahanmu, maka tidak kamu temukan perempuan lain yang lebih mahir berada di sampingmu, hari ini.
Bukankah begitu?

Berbahagialah,
agar aku tak punya kesempatan untuk memiliki keinginan memeluk dan menyembuhkanmu,
sekali lagi.

0 komentar:

Posting Komentar