Mungkin alam raya memang benar.
Perihal menemukan dan kehilangan,
keduanya bisa menciptakan keseimbangan.
Kita pernah menjadi hati paling bahagia saat kita berhasil menemukan sesuatu yang sejak lama menjadi impian.
Kita pernah memiliki hari yang begitu berbunga saat rasanya semesta berulang kali selalu berada di pihak kita.
Tentu saja, kita pernah merasa paling beruntung saat tak ada hal yang mampu membuat harapan kita terlihat menggantung.
Rasanya, seperti dunia hanya dirancang khusus untuk kita dan Tuhan memang sepenuhnya menciptakan kita untuk berbahagia di dunia.
Sebab pencarian panjang terasa teramat melelahkan,
maka temu akan menjadi muara paling membahagiakan.
Kita juga pernah menjadi jiwa yang paling kesepian saat kita dihadapkan oleh kehilangan.
Dunia yang seakan diciptakan hanya untuk kita, mendadak terbalik menjadi ruang kosong dengan udara yang menyesakkan.
"haruskah kerelaan ini ku lahirkan paksa?",
akan selalu menjadi pertanyaan pembuka pengantar kesedihan-kesedihan berikutnya.Tentu kita pernah menjadi raga yang entah bernama apa saat kita diharuskan untuk mengikhlaskan --mengikhlaskan segala sesuatu yang sempat membuat kita begitu percaya bahwa selamanya adalah milik kita. Betapa rasanya saat itu semesta sedang mengutuk, tak membiarkan kita bahagia barang satu hela napas saja.
Sebab menemukan pernah terasa begitu erat,
maka luka tak bisa menjadi sesuatu yang dapat disembuhkan dalam waktu singkat.
Dari menemukan dan kehilangan, kita belajar bahwa menjadi seimbang adalah sebuah keharusan.
Dari bahagia yang paling mendebarkan juga kehilangan yang begitu menyakitkan, kita memahami bahwa setidaknya mungkin begitu cara semesta menyembuhkan.
Membuat bahagia menjadi penuh syukur,
sebab kita pernah merasa kehilangan yang sedihnya tidak terukur.
Juga menjadikan kehilangan penuh pelajaran,
sebab kita pernah lalai dalam menghargai sebuah pertemuan.
0 komentar:
Posting Komentar