Kamis, 23 April 2020

Perpisahan Bernama Kamu

Teruntuk kamu,
terimakasih sudah datang membawa bahagia meski sementara,
kemudian sisanya hanya luka.

Apa kabar, Kamu? Kudengar kamu sudah melabuhkan bahagiamu pada perempuan yang dengan mudah dan begitu cepat bisa menyembuhkan hatimu. Benarkah begitu?
Kudengar hari-harimu sudah tak lagi terasa sepi karena rindu bau rumah, sejak perempuan itu datang. Mungkinkah dia lebih bisa mengerti perasaanmu? Mungkinkah dia bisa memberi perhatian maha dahsyat untuk mengisi kelemahanmu? Mungkinkah dia membuatmu jauh lebih bahagia? Jika memang benar begitu, maka bersyukurlah aku. Bersyukur karena entah melihatmu baik-baik saja atau karena ada orang lain yang mampu membuatmu merasa cukup daripada aku, waktu itu.

Hari-hariku sempat tidak baik-baik saja setelah kamu memutuskan menyerah denganku, kemudian dengan mudahnya pergi. Langit-langitku sempat kehilangan warnanya setelah tak ada lagi kamu di sebelahku. Rinduku tak lagi punya tuan. Perasaanku tak lagi didekap pemiliknya. Satu bulan.. Dua bulan.. Tiga bulan.. Aku memutuskan untuk tetap berjalan. Meninggalkan kamu yang sudah memusatkan bahagia pada perempuan lain. Berusaha melupakan kamu yang mungkin sejak awal tak pernah menganggapku cukup.

Kamu tak pernah mau tahu betapa kerasnya aku berusaha untuk berhenti pada semua yang sempat kunamai kamu. Sama seperti aku yang tak pernah mau peduli betapa bahagianya kamu dengan perempuan itu. Karena kamu seharusnya tahu, semakin aku mengetahui keadaannya maka akan semakin berat aku meninggalkan kita. Semakin aku tahu maka yang ada justru kamu yang semakin tak mau hilang dari pikiranku. Aku kira, aku akan melupakanmu dengan mudah karena kamu akan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi mungkin keberadaanmu padaku sudah jauh lebih dalam daripada yang aku kira, karena justru semakin lama waktu, semakin pekat pula kamu diingatanku.

Sialnya, aku masih harus sering menemuimu karena hal-hal yang tak bisa aku hindari. Sialnya, kamu bisa dengan mudah menganggap seakan tak pernah terjadi apapun. Sementara aku harus terus melawan rasa takutku untuk bertemu denganmu dan belajar menerima kenyataan bahwa ternyata kamu hebat berpura-pura seperti tak pernah ada apapun diantara kita. Kau tahu? Kadang rasanya tak sanggup untuk bicara dan ingin sekali menangis. Kau tahu? Hampir habis dayaku untuk melarikan diri dari kamu. Apakah kau juga tahu? Berkali-kali aku kehilangan kata sejak aku kehilangan kita.
Tapi sepertinya, sekali lagi, tak ada yang mau peduli termasuk kamu.

Aku membuat diriku lelah selelah-lelahnya. Aku sengaja menyembuhkan orang lain sebab aku tak mampu menyembuhkan diriku sendiri, waktu itu. Jika kamu bertanya kenapa aku sengaja membuat diriku lelah, maka jawabannya adalah karena rindu ini harus sembuh. Sebab rinduku tak lagi punya rumah, maka harus ada hal lain yang membuat Ia lupa kepada siapa Ia harus menjatuhkan dirinya. Membuatnya sakit sampai pada akhirnya tak akan ada yang tersisa. Bukankah memang begitu cara kerja semesta? Membaik seiring berjalannya waktu. Menjadi kuat karena luka yang sudah terkumpul menjadi satu.

Sebab perpisahan pasti meninggalkan bekas yang tidak akan sembuh dalam waktu dekat, maka melepas adalah bagian dari perjuangan. Sejak itu, aku memutuskan untuk berhenti dan membiarkan kamu pergi. Bukan, bukan berarti aku yang memutuskan untuk melepaskanmu. Aku hanya berusaha mengikhlaskan seseorang yang melepaskanku.

Ingin sekali rasanya aku membenci mu. Membenci semua hal yang berhubungan denganmu.
Aku benci mendengar cerita orang lain tentang kamu. Aku benci melihatmu. Aku benci melewati jalan yang pernah kulewati denganmu. Aku kehilangan selera saat memakan makanan yang pernah kumakan denganmu. Tapi kali ini, entah apa yang dilakukan semesta padaku, aku tidak bisa membenci.
Bukan aku tidak membenci, aku hanya tidak bisa. Lalu aku memilih untuk menyembuhkan diriku sendiri dengan berusaha menikmati rasa sakit yang mungkin nanti akan hilang juga.

Ini adalah surat perpisahan untuk kamu. Mungkin kamu sudah mulai menyadari itu, saat pertama kali kamu membaca tulisan ini, atau bahkan mungkin kamu tidak akan pernah membacanya. Tak apa, aku tak berharap kamu membacanya, lebih tepatnya aku tak berharap banyak kamu menyadari bahwa ini kutulis untukmu.
Setelah ini, tak akan ada lagi kamu. Aku telah sepakat dengan diriku sendiri untuk menyudahi kekecewaanku terhadap diriku sendiri yang disebabkan oleh kamu. Aku bersikeras untuk mengakhiri.

Selanjutnya, aku akan menjadi kamu yang mahir dalam berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa. Aku akan menjadi kamu yang mudah menemukan pelabuhan lainnya. Aku akan menjadi kamu yang memutuskan untuk menggenapi kebahagiaanmu dengan cepat mencari kebahagiaan lain. Aku akan menjadi kamu yang bisa melupakan segala yang pernah kita lewati. Tapi tenanglah, aku tidak akan menjadi kamu yang begitu menghangatkan dan teramat menyakitkan dalam satu waktu.

Ini adalah surat pertama dan terakhir yang kutulis untuk kamu.
Kudengar hari-harimu terasa berat belakangan ini, banyak hal baru dan besar yang harus kamu lewati dan selesaikan.
Jangan lupa untuk tetap menomor satukan dirimu sendiri, karena kamu tahu bahwa itu yang paling penting. Masih lekat dalam ingatanku, dulu -saat masih disampingmu, aku pernah bersusah payah untuk meyakinkan bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik, bahwa kamu tidak pernah sendirian karena ada aku, bahwa kamu hebat. Masih jelas betapa besarnya rasa percayaku bahwa kamu akan jadi yang paling baik suatu saat nanti. Meskipun hanya berujung kamu bilang aku tidak mengerti bagaimana rasanya jadi kamu. Dulu, kita berdua sama-sama keras kepala. Kamu bersikeras untuk membuat banyak orang bahagia sedang aku bersikeras untuk membuatmu merasa baik-baik saja.  Tapi sekarang aku tidak perlu merasa khawatir sebab ada dia yang semoga akan mengurus semua lelah, marah, dan sedihmu dengan amat hati-hati dan baik. Bukankah begitu?

Terimakasih sudah datang membawa bahagia meski sementara, kemudian sisanya hanya luka.
kini aku telah menyimpan "aku akan ada disampingmu, seberat apapun yang akan kamu lalui" atau "semoga masih ada banyak hari yang bisa aku habiskan bersamamu" dari kamu dalam-dalam dan berharap suatu saat pasti akan terlupakan.
Terimakasih untuk semua hal yang membuatku bertimakasih padamu.

Meski dalam perjalanannya tak jarang justru sulit yang kamu temui,
kamu harus tetap jalan dan bertahan.
Seadanya. Sebisanya. Semampunya.

Dan oh ya satu lagi..
Semoga kamu benar didekap oleh seseorang yang memang kamu harap.
Oleh seseorang yang membuat kamu selalu merasa cukup, tak peduli berapa banyak kekurangannya.
Oleh seseorang yang bisa meredam lelah dan marahmu.
Oleh seseorang yang mau berusaha mengerti perasaanmu.
Oleh seseorang yang menerima masa lalumu.
Oleh seseorang yang memahami betapa kerasnya kamu sudah berusaha menghadapi semesta.
Oleh seseorang yang bersedia memeluk dan menenangkan ketika dunia sedang tidak ada dipihakmu.
Oleh seseorang yang mampu menjadi penyeimbang dalam perjalananmu.

Tak perlu lagi menyalahkan dirimu sendiri.
Bukan salahmu yang pernah membuat aku jatuh begitu dalam dan tenggelam.
Salahku yang pernah begitu percaya bahwa selamanya adalah milik kita.
Salahku yang terlalu percaya bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkanku.
Akhirnya, aku harus menamai sebuah perpisahan baru ini dengan kamu.

Selamat tinggal, Kamu.
Berbahagialah.
Kuatlah.
Dewasalah.


                                                                                                 Salam dan dekap hangat,
dari aku yang baru menemukan kekuatan
untuk mengucapkan selamat tinggal padamu,
hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar