Senin, 19 Juli 2021

Kepada Tuan yang Kutemui Di Bawah Hujan

Hai Tuan, jika kamu sedang membaca suratku ini, berarti kamu sedang duduk di hadapan laptopmu, atau berbaring di kasur sambil memandangi handphone mu, atau apapun itu, yang pasti kamu sedang punya waktu luang untuk membacanya. Tapi sepertinya, saat kamu punya waktu untuk membacanya sekalipun, kamu tidak akan menyadari bahwa surat ini kutulis untukmu.

Sudah lama sekali, Tuan, sejak terakhir kali aku memutuskan untuk tidak lagi menuliskan sebuah surat yang memang sengaja kuhadiahkan untuk seseorang. Jadi, apabila ini tak seperti apa yang kamu ingini, semoga kamu tetap bersedia membacanya dengan begitu teliti, sebagaimana aku menuliskan ini dengan sepenuh hati.

Tak banyak yang tahu, Tuan, termasuk kamu —laki-laki yang kutemui di bawah hujan kemarin sore. Saat itu, aku keluar dalam keadaan kalut. Banyak hal yang terjadi pada hari itu dan membuat pikiranku semrawut. Aku menemuimu dalam keadaan yang sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Anehnya, bertemu denganmu bisa membuat keadaanku berbalik begitu saja. Tapi, mungkin memang begini cara semesta menghiburku. Bukankah begitu, Tuan?

Pada saat menuliskan ini, aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi sore itu. Tak banyak yang bisa kuingat, Tuan. Mungkin karena kamu terlalu asing dan aku terlalu benci bising. Mungkin karena pola pikirmu terlampau terang, sampai aku bingung bagaimana cara mendengarkannya dengan tenang. Sepulangnya dari sana, aku menyumpahi semua sudut pandang yang kamu ceritakan dengan lantang. Bagaimana bisa semesta tergambar begitu jelas pada isi kepalamu yang cemerlang? Sepulangnya dari sana, aku mengutuk diri sendiri sebab terlalu cepat rasanya jika memang kebungkamanku saat mendengarkan kamu berbicara adalah bentuk dari kekaguman. Sepulangnya dari sana, tak ada hal lain yang kulakukan selain menyangkal rasa penasaranku. Berusaha melupakan pertemuanku dengan orang asing lain, yang jelas suatu saat akan pergi lagi, persis seperti banyak orang asing yang kutemui sebelumnya. Bagaimana tidak, Tuan? Saat itu kau sudah tahu seberapa parah hatiku hancur, dan ya, siapa yang mau? Dan pikirku, kalaupun aku yang harus lebih dulu menyatakan perasaanku, tentu saja, kamu tidak akan mau. Maka, kuputuskan untuk pulang dan melupakan.

Beberapa waktu sudah berlalu sejak pertemuan itu. Sampailah pada hari dimana akhirnya aku memutuskan untuk menuliskanmu sebuah surat —yang entahlah untuk apa sebenarnya aku tuliskan. Tapi setidaknya dengan menuliskan ini, apa-apa yang tidak sanggup aku ingat nanti, akan bertahan sedikit lebih lama lagi. Rupanya, aku ingin mengingatmu, Tuan. Si cemerlang yang sedang menerka-nerka jalan pulang, tapi begitu berani menceritakan perjalanannya dengan lantang. Aku ingin mengingatmu, sedikit lebih lama lagi.

Tuan, sungguh aku tidak tahu harus menceritakan perasaan ini dari mana. Sebab semakin kucari dimanakah ujungnya, aku pun tidak tahu pasti bagaimana ini semua bermula.  Kamu tentu sudah tahu  betapa hatiku pernah diambil oleh seseorang di masa lalu, kemudian dibawanya pergi jauh entah kemana. Tak menyisakan apa-apa. Selain kekosongan yang tidak pernah bisa kuberi nama. Beratus-ratus hari kuhabiskan waktuku dengan memikirkan banyak hati, agar tak ada lagi waktu bagiku untuk menyadari betapa tak berbentuknya hatiku pada saat itu. Kamu tentu sudah tahu bagaimana akhirnya aku menghadapi kekalahanku dalam bertaruh. Berpuluh-puluh peluk kuberikan kepada diriku sendiri sambil menghiraukan tanya perihal “hatiku hancur, siapa yang mau?” yang tak bisa berhenti berulang dalam kepalaku.

Sejak kepatahan itu, Tuan, kamu tentu sudah tahu betapa aku tidak ingin lagi jatuh hati. Sungguh, sama sekali aku tak mau merasakannya kembali. Benar, aku sudah sembuh. Tapi kamu jelas tahu, aku masih takut untuk bertaruh. Benar, sudah tidak ada lagi keluh. Tapi kamu jelas mengerti, aku masih tidak berani untuk berlabuh.

Kemudian pada suatu sore itu, Tuan, di bawah hujan yang cukup deras, kamu datang, pada waktu yang tidak pernah aku tentukan. Membawa cerita-cerita panjang soal bagaimana selama ini kamu berusaha menghidupkan mimpi-mimpi. Jelas bisa kulihat betapa senangnya kamu ketika menceritakan seberapa jauh jalan yang ingin sekali kamu jelajahi. Aku mendengar bagaimana kamu dengan antuasias menceritakan soal dirimu sendiri, hal-hal yang pernah membuatmu tersakiti, dan apa-apa yang selalu kamu syukuri. Kubiarkan semua ceritamu masuk ke dalam telingaku dengan baik-baik. Satu detik. Aku mendengarkan. Dua detik. Aku mencerna. Tiga detik. Sialan. Hatiku mendadak jatuh.

Bagaimana bisa seseorang asing yang tiba-tiba datang memenangkan pertandingan yang tidak pernah aku mulai? Setelah sekian lama aku membiarkan rasa takutku ini menguasai, kubiarkan diriku jatuh kali ini. Rupanya, denganmu Tuan —laki-laki yang kutemui di bawah hujan kemarin sore, aku berani mempertaruhkan apa-apa yang sempat membuatku kalah. Berharap semoga dari pertaruhkanku kali ini, akan kudapati lagi sesuatu yang bisa aku pelajari. Entah akan jadi tentang duka atau penuh dengan suka, aku sungguh tidak peduli. Karena bagaimana akhirnya nanti, tetap bukan aku yang berhak untuk ambil kendali.

Tuan, sungguh tak perlu kamu mencari tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Karena kamu tahu, untuk menebak bagaimana keseluruhan cerita, kita tidak pernah ditakdirkan untuk bisa mahir. Kita hanya perlu hadir dan membiarkan semuanya mengalir.

Jika perjalanan ini adalah tentang bagaimana kita berdua mengisi jarak antara koma satu dengan koma yang lain, maka berbahagialah dengan lantang, Tuan. Sebab, aku ada disampingmu untuk merayakannya dengan senang.

Jika suatu saat kamu menemukan bahwa kehidupan tidak selamanya adil dan bahagia, maka menangislah dengan kencang, Tuan. Sebab, aku ada disampingmu untuk menikmatinya sampai resahmu hilang.

0 komentar:

Posting Komentar