Hai Tuan, jika kamu sedang membaca suratku ini, berarti kamu sedang duduk di hadapan laptopmu, atau berbaring di kasur sambil memandangi handphone mu, atau apapun itu, yang pasti kamu sedang punya waktu luang untuk membacanya. Tapi sepertinya, saat kamu punya waktu untuk membacanya sekalipun, kamu tidak akan menyadari bahwa surat ini kutulis untukmu.
Sudah lama sekali, Tuan, sejak terakhir kali aku memutuskan untuk tidak lagi menuliskan sebuah surat yang memang sengaja kuhadiahkan untuk seseorang. Jadi, apabila ini tak seperti apa yang kamu ingini, semoga kamu tetap bersedia membacanya dengan begitu teliti, sebagaimana aku menuliskan ini dengan sepenuh hati.
Tak banyak yang
tahu, Tuan, termasuk kamu —laki-laki yang kutemui di bawah hujan kemarin sore.
Saat itu, aku keluar dalam keadaan kalut. Banyak hal yang terjadi pada hari itu
dan membuat pikiranku semrawut. Aku menemuimu dalam keadaan yang sebenarnya tidak
sedang baik-baik saja. Anehnya, bertemu denganmu bisa membuat keadaanku
berbalik begitu saja. Tapi, mungkin memang begini cara semesta menghiburku.
Bukankah begitu, Tuan?
Pada saat
menuliskan ini, aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi sore itu. Tak banyak
yang bisa kuingat, Tuan. Mungkin karena kamu terlalu asing dan aku terlalu
benci bising. Mungkin karena pola pikirmu terlampau terang, sampai aku bingung
bagaimana cara mendengarkannya dengan tenang. Sepulangnya dari sana, aku
menyumpahi semua sudut pandang yang kamu ceritakan dengan lantang. Bagaimana
bisa semesta tergambar begitu jelas pada isi kepalamu yang cemerlang? Sepulangnya
dari sana, aku mengutuk diri sendiri sebab terlalu cepat rasanya jika memang
kebungkamanku saat mendengarkan kamu berbicara adalah bentuk dari kekaguman. Sepulangnya
dari sana, tak ada hal lain yang kulakukan selain menyangkal rasa penasaranku. Berusaha
melupakan pertemuanku dengan orang asing lain, yang jelas suatu saat akan pergi
lagi, persis seperti banyak orang asing yang kutemui sebelumnya. Bagaimana
tidak, Tuan? Saat itu kau sudah tahu seberapa parah hatiku hancur, dan ya, siapa
yang mau? Dan pikirku, kalaupun aku yang harus lebih dulu menyatakan perasaanku, tentu saja, kamu tidak akan mau. Maka, kuputuskan untuk pulang dan
melupakan.
Beberapa waktu sudah
berlalu sejak pertemuan itu. Sampailah pada hari dimana akhirnya aku memutuskan
untuk menuliskanmu sebuah surat —yang entahlah untuk apa sebenarnya aku
tuliskan. Tapi setidaknya dengan menuliskan ini, apa-apa yang tidak sanggup aku
ingat nanti, akan bertahan sedikit lebih lama lagi. Rupanya, aku ingin
mengingatmu, Tuan. Si cemerlang yang sedang menerka-nerka jalan pulang, tapi
begitu berani menceritakan perjalanannya dengan lantang. Aku ingin mengingatmu,
sedikit lebih lama lagi.
Tuan, sungguh
aku tidak tahu harus menceritakan perasaan ini dari mana. Sebab semakin kucari
dimanakah ujungnya, aku pun tidak tahu pasti bagaimana ini semua
bermula. Kamu tentu sudah tahu betapa hatiku pernah diambil oleh seseorang di masa lalu, kemudian dibawanya
pergi jauh entah kemana. Tak menyisakan apa-apa. Selain kekosongan yang
tidak pernah bisa kuberi nama. Beratus-ratus hari kuhabiskan waktuku dengan
memikirkan banyak hati, agar tak ada lagi waktu bagiku untuk menyadari betapa
tak berbentuknya hatiku pada saat itu. Kamu
tentu sudah tahu bagaimana akhirnya aku menghadapi kekalahanku dalam
bertaruh. Berpuluh-puluh peluk kuberikan kepada diriku sendiri sambil
menghiraukan tanya perihal “hatiku
hancur, siapa yang mau?” yang tak bisa berhenti berulang dalam kepalaku.
Sejak kepatahan
itu, Tuan, kamu tentu sudah tahu betapa aku tidak ingin lagi jatuh hati. Sungguh,
sama sekali aku tak mau merasakannya kembali. Benar, aku sudah sembuh. Tapi
kamu jelas tahu, aku masih takut untuk bertaruh. Benar, sudah tidak ada lagi
keluh. Tapi kamu jelas mengerti, aku masih tidak berani untuk berlabuh.
Kemudian pada
suatu sore itu, Tuan, di bawah hujan yang cukup deras, kamu datang, pada waktu
yang tidak pernah aku tentukan. Membawa cerita-cerita panjang soal bagaimana
selama ini kamu berusaha menghidupkan mimpi-mimpi. Jelas bisa kulihat betapa senangnya
kamu ketika menceritakan seberapa jauh jalan yang ingin sekali kamu jelajahi. Aku
mendengar bagaimana kamu dengan antuasias menceritakan soal dirimu sendiri,
hal-hal yang pernah membuatmu tersakiti, dan apa-apa yang selalu kamu syukuri. Kubiarkan
semua ceritamu masuk ke dalam telingaku dengan baik-baik. Satu detik. Aku
mendengarkan. Dua detik. Aku mencerna. Tiga detik. Sialan. Hatiku mendadak jatuh.
Bagaimana bisa
seseorang asing yang tiba-tiba datang memenangkan pertandingan yang tidak pernah
aku mulai? Setelah sekian lama aku membiarkan rasa takutku ini menguasai, kubiarkan
diriku jatuh kali ini. Rupanya, denganmu Tuan —laki-laki yang kutemui di bawah
hujan kemarin sore, aku berani mempertaruhkan apa-apa yang sempat membuatku kalah.
Berharap semoga dari pertaruhkanku kali ini, akan kudapati lagi sesuatu yang
bisa aku pelajari. Entah akan jadi tentang duka atau penuh dengan suka, aku sungguh tidak peduli.
Karena bagaimana akhirnya nanti, tetap bukan aku yang berhak untuk ambil kendali.
Tuan, sungguh
tak perlu kamu mencari tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Karena kamu
tahu, untuk menebak bagaimana keseluruhan cerita, kita tidak pernah ditakdirkan
untuk bisa mahir. Kita hanya perlu hadir dan membiarkan semuanya mengalir.
Jika perjalanan ini
adalah tentang bagaimana kita berdua mengisi jarak antara koma satu dengan koma
yang lain, maka berbahagialah dengan lantang, Tuan. Sebab, aku ada disampingmu
untuk merayakannya dengan senang.
Jika suatu saat kamu menemukan bahwa kehidupan tidak selamanya adil dan bahagia, maka menangislah dengan kencang, Tuan. Sebab, aku ada disampingmu untuk menikmatinya sampai resahmu hilang.
0 komentar:
Posting Komentar