Jumat, 22 Agustus 2014

Selasa, 24 Juni 2014

Haruskah Kerelaan Ini Kulahirkan Paksa, N? (9)

Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana

        Selamat dini hari, N. Bagaimana kamu? Bagaimana hari-harimu? Masih berbahagia seperti biasanya kah? Aku senang melihatmu begitu. Aku menikmati setiap senyum yang kau lepas. Kamu indah, N. Terlebih saat kamu tertawa lepas. Betapa tidak, aku sudah lama jatuh cinta dengan gaya tertawamu yang selalu membuat orang lain ikut tertawa, termasuk aku. Kamu tahu? Aku selalu menyisipkan sebuah rindu dalam tatapanku yang diam-diam sering kuluncurkan padamu, tanpa ada yang tahu.

Senin, 23 Juni 2014

Empat Belas (8)

Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana

        Selamat siang berbaur sore, N. Tepat ketika aku mulai menuliskan ini, waktu di layar ponselku menampilkan angka 14:14. Kamu pasti sudah tahu bagaimana pendapatku tentang angka empat belas. Aku pernah memberitahu kamu soal ini, kan? 

Rabu, 18 Juni 2014

Mati Suri (7)

Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana

(sebenarnya, surat ini kutulis selang empatpuluh hari setelah aku menulis surat ke enam untukmu)

Lama tak menuliskanmu, pena-pena berkarat. Kata terhenti pada bait pertama.
Tertulis;
     Aku tak bisa melupakanmu.

Senin, 16 Juni 2014

Dalam Kamu, Kutemukan Candu Baru (6)

Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana

N.. apakah kamu percaya bawa bahagia –yang bukan sandiwara- itu benar-benar ada? Apa ada yang salah dari caraku berpura-pura bahagia di depanmu selama ini? Katamu, aku ini sudah terlampau bahagia dengan jalan pilihanku. Tapi dugaanmu selama ini salah, N. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika aku masih tak bisa melepaskan diri dari masa yang bernama lalu, yang di dalamnya ada kamu?

Dimana Aku Bisa Belajar Berbahagia, N? (5)

Untuk N
Disuatu tempat yang entah dimana

        Apa kabar, N? Rasanya sudah beberapa hari ini kamu tidak meninggalkan jejak di media sosial milikmu. Semuanya sepi. Meskipun jika kamu ada, tidak pernah membuatku berani mengajak kamu berbicara duluan, jika memang tidak ada satu hal penting yang perlu kita bicarakan; setidaknya dari situ aku bisa tahu bahwa kamu ada dan akan baik-baik saja. 

Minggu, 15 Juni 2014

Kita Sama yang Berbeda (4)

Buat N
Di suatu tempat yang entah dimana

Ini surat keempat yang kutulis untukmu. Sebenarnya, sudah lama aku ingin menulis surat khusus yang berisi tentang kamu.
Tunggu dulu….
Jika biasanya surat diberi perangko, dimasukkan kedalam amplop, lalu dikirim kepada alamat yang jelas; surat yang kubuat kali ini berbeda, N. Surat yang tak butuh perangko, tapi butuh rindu. Surat yang tak perlu dimasukkan ke dalam amplop, tapi akan dibiarkan usang tanpa perlu tahu siapa yang akan jadi penerimanya. Surat yang harusnya dikirim ke alamat yang jelas, tapi tak akan pernah ku lakukan, karena aku tidak pernah tahu dimana alamat persis hati mu saat ini. Iya surat ini bukan untuk kamu. Tapi surat ini kubuat untuk hatimu, N.

Terbakar Bukan Berarti Jadi Abu (2)

Buat N
Disuatu tempat yang entah dimana

Hai, N. Menurutmu, bagimana rasanya jatuh cinta? Apakah kaupikir rasanya akan semenyenangkan yang ada di film-film? Apakah kamu pernah merasakan? Kamu tahu, N? Aku sedang merasakannya sekarang. Kepada seseorang yang sama sepertimu. Iya. Kamu.
Aku memang tak berhak berharap banyak tentang reaksimu. Bahkan, aku tak pernah tau apakah perasaanmu sama dengan apa yang aku rasakan.

Hujan Punya Rahasia (1)

Teruntuk N
Disuatu tempat yang entah dimana

“Aku tidak sedang menanti, aku tengah melangkah untuk menjemput. Maka ku tinggikan segala upaya dan kesabaran. Semoga dihadiahi keindahan.”

Pertama-tama, N. Aku ingin bercerita bagaimana aku bisa menaruh perasaan juga harapan kepada kamu. Aku ingin membuka (lagi) ingatan tentang hujan-yang menjadi kenangan-. Mungkin benar, ini tentang kamu dan aku yang belum sempat menjadi kita.