Barangkali
Kita adalah sepasang sepi yang nyeri
Saling menunggu luka dan menanti lara
Melisankan tatapan ingatan sebuah kenangan
Tanpa sedikit jeda hela nafas
Barangkali
Kamu adalah sebuah air mata
Dari sebuah aku disela hujan tanpa pelangi
Jatuh mengendap dipelukan tanah
Membias basah di tepian daun
Jalan-jalan, taman, lampu dan jendela
Meniadakan suara bak memoar kehilangan
Barangkali
Ada rasa yang menyetia di sudut keterasingan
Memeluk angan dan angin malam lengang
Entah pada gigil rindu atau gerah cemburu
Namun waktu selalu menjadi pemenang
Pada tiap perih yang dikenang
Barangkali
Langit sudah terlalu enggan bahkan bosan
Menghadirkan kerlip bintang di kedua matamu
Menumpahkan pelangi pada sudut bibirmu
Yang terlalu dingin nan hening
Melebihi gema yang disuarakan senyapku
Selepas sajakku menapakkan kakinya
Aku ingin menjadikan kamu sebagai jalan buntu
Tempat dimana dia kehilangan jejak arah
Lalu perlahan tiap baitnya memuai pada dinding bisumu
Tentang sebuah harap yang mencari tepi
Barangkali.
Kita adalah sepasang sepi yang nyeri
Saling menunggu luka dan menanti lara
Melisankan tatapan ingatan sebuah kenangan
Tanpa sedikit jeda hela nafas
Barangkali
Kamu adalah sebuah air mata
Dari sebuah aku disela hujan tanpa pelangi
Jatuh mengendap dipelukan tanah
Membias basah di tepian daun
Jalan-jalan, taman, lampu dan jendela
Meniadakan suara bak memoar kehilangan
Barangkali
Ada rasa yang menyetia di sudut keterasingan
Memeluk angan dan angin malam lengang
Entah pada gigil rindu atau gerah cemburu
Namun waktu selalu menjadi pemenang
Pada tiap perih yang dikenang
Barangkali
Langit sudah terlalu enggan bahkan bosan
Menghadirkan kerlip bintang di kedua matamu
Menumpahkan pelangi pada sudut bibirmu
Yang terlalu dingin nan hening
Melebihi gema yang disuarakan senyapku
Selepas sajakku menapakkan kakinya
Aku ingin menjadikan kamu sebagai jalan buntu
Tempat dimana dia kehilangan jejak arah
Lalu perlahan tiap baitnya memuai pada dinding bisumu
Tentang sebuah harap yang mencari tepi
Barangkali.

